Home » Filsafat » Ciri dan Karakteristik Nalar| Filsafat Ilmu Part – 6

Share This Post

Filsafat

Ciri dan Karakteristik Nalar| Filsafat Ilmu Part – 6

Ciri dan Karakteristik Nalar

Seseorang telah disebut melakukan penalaran dengan benar, dan karena itu disebut telah memiliki ciri berpikir nalar, apabila ia memperlihatkan pemikirannya dengan cara yang logic dan analytic. Logika adalah suatu kegiatan berpikir yang menggunakan suatu pola tertentu atau menurut logika tertentu. Ketidak konsistenan dalam menggunakan alur logika, dapat menyebabkan kekacauan penalaran. Sedangkan analitik adalah kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada logika ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu dalam bingkai ilmiah juga. Cara berpikir tertentu baru termasuk ke dalam suatu penalaran yang benar, apabila ia menggunakan penalaran yang logis dan analitik.

Kenapa pesoalan logika dan analitik itu menjadi pen ting dalam konteks penalaran? Sebab banyak kegiatan berpikir yang tidak menggunakan alur logika dan kerangka analitis. Kegiatan berpikir yang menggunakan intuisi meskipun sangat mungkin memperoleh kebenaran yang lazirn ada dalam dunia mistik adalah kegiatan penalaran yang non analitik. Ia dihasilkan oleh rasa dan karsa. Intuisi sarna sekali tidak menggunakan alur analitik. Oleh karena itu, hasil yang disimpulkannya tidak dapat disebut sebagai hasil penalaran.

Hasbullah M. Bakry (1981) menyebut bahwa secara praksis, penalaran dibentuk oleh tiga tahap, yaitu: pengertian (konsep), proposisi dan kenyataan. Tidak akan ada proposisi tanpa pengertian, dan tidak ada penalaran tanpa proposisi. Penalaran selalu berlangsung dalam tiga tahap tadi. Penatahapan itu bersipat sistematis dan tidak jigjag. Tiga bentuk tahap pemikiran sebagaimana telah dijelaskan di atas harus dilakukan siapapun yang hendak memahami dan melakukan penalaran. Tanpa melalui prosesing tiga tahap tadi, manusia tidak mungkin memperoleh dan menghasilkan penalaran.

Contoh Penalaran

Contoh sederhana adalah: Pada suatu ketika kami bertiga sedang diskusi. Misalnya yang sedang diskusi itu adalah saya -yang matanya bagus dan otaknya encer, tapi telinganya kurang bagus—, Kasdar – matanya kurang bagus, telinganya bagus dan otaknya encer—dan Maemunah yang rnata dan telinganya bagus, tapi otaknya kurang encer. Pada saat kami diskusi tiba ada kucing yang lewat. Mata melihat ada kucing, melihat warna putih atau hitam pada kucing dan sementara telinga mendengar suara kucing mengeong.

Dalam posisi indra (mata dan telinga) yang sedang menyaksikan dan mendengarkan suara kucing itu, di dalamnya past! terjadi aktivitas pikiran, yaitu pembentukkan pengertian. Sehingga dalam otak kami masing-masing akan tergambar terkait dengan kucing. Tetapi, gambaran kami tentang kucing tadi, pasti akan berbeda satu sarna lain. Saya yang matanya bagus akan lebih menekankan pada warna kucing, tidak pada mengeongnya kucing. Sementara Kasdar lebih menekankan pada suara kucing yang mengeong, dan Maemunah tidak pada apapun pada kucing.

Dalam konteks penalaran tadi, kami yang sedang melihat dan mendengar kucing itu akan tergambar kata: “kucing”, “putih” dan “mengeong”. Kata kucing, putih dan mengeong dalam istilah penalaran disebut dengan konsep yang sebelumnya berjalan dari rumus proposisi dan kenyataan. Setelah pengertian dan konsep tersusun dalam imajinasi berfikir, manusia kemudian menyerap dan mengucapkannya. Ucapan yang terlontar berdasarkan hasil tacii, disebut penalaran yang ujarannya menjadi “Kucing putih atau hitam bersuara mengeong”.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pengertian adalah data empirik karena ia berasal dari pengalaman empirik yang bersipat faktual. Namun demikian, ada juga ilmuan dan ahli filsafat yang menyebutkan bahwa, pengertian, lahir sebagai data psikologi karena terbentuk melalui proses pengamatan indrawi. Lambang pengertian dalam bahasa adalah kata atau term.

Setelah terbentuk pengertian yang terlambangkan dengan kata (term) “kucing”, “putih” dan “mengeong”, otak manusia kemudian merangkaikan term-term itu ke dalam pengertian yang berdiri sendiri dalam pikiran. Rangkaian pengertian itu, dalam filsafat ilmu disebut sebagai proposisi. Jika pengertian dan lambang bahasa adalah term, maka dalam proposisi lambang bahasanya adalah kalimat berita.

Rekomendasi untuk anda !!   Buatlah Otak Fresh Agar Tetap Bahagia| Teknik dan Cara Menulis Part -2

Pembentukan Proposisi

Proses pembentukan proposisi itu sendiri beiiangsung dalam dua cara, Pertnma, proposisi terjadi begitu rupa. Ada pengertian yang menerangkan pengertian lain atau ada pengertian yang diingkari dengan pengertian lain. Misalnya, kucing putih itu mengeong. Kalau dalam proses perangkaian itu terjadi pengingkaran, maka proposisi yang terbentuk adalah menjadi: “kucing” “putih tidak mengeong”. Kedun, dalam proses pembentukan proposisi itu terjadi dua pengakuan yang satu sama lain saling bertentangan tergantung pada kekuatan potensi masing- masing. Misalnya, kucing putih itu mengeong atau kucing itu tidak mengeong (R.G. Soekadijo 1994: 4).

Contoh proposisi di atas akan sangat tergantung pada hasil observasi yang dapat diuji kecocokannya dengan indera. Benar atau tidaknya fakta akan sangat tergantung dari cara dan alat yang digunakan untuk mengadakan observasi. Misalnya, kucing dapat disebut mengeong apabila kucing itu benar-benar mengeong dan didengar oleh mereka yang telinganya dapat mendengar. Oleh karena itu, sekalipun kucing itu mengeong, tetapi indera telinga manusia tidak dapat mendengar, maka orang yang menyaksikan kucing itu tidak dapat memberi keterangan tentang mengeongnya kucing. Narnun demikian, harus juga diakui bahwa ada proposisi yang benar atau salahnya dapat langsung tampak kepada pikiran dan harus pula diterimanya. Contohnya, Saudari Lesy adalah Janda. Kata janda tidak lagi hanya proposisi, tetapi ia telah menjadi konsep karena saudari Lesy memang pernah menikah dan sekarang ia tidak memiliki suami. Proposisi yang demikian disebut dengan proposisi mutlak.

Setelah pembentukan proposisi yang dihasilkan dari proses berpikir dengan titik tolak pengamatan indera/observasi empirik yang menghasilkan pengertian berlangsung, maka dalam proses selanjutnya, seseorang dapat menyusun proposisi-proposisi itu ke dalam bentuk penalaran.

Tepat atau tidaknya penalaran seseorang terhadap hasil observasinya, akan sangat ditentukan oleh pengalaman inderawinya dan juga tergantung pada tepat atau tidaknya seseorang itu memanfaatkan pengalamannya. Benar atau salahnya pengertian seseorang tidak terletak pada persoalan mind (pildran), tetapi murni pada persoalan fisik/indera. Dengan demikian, jika contoh tadi diteruskan, maka hasil penalaran yang menyebutkan bahwa kucing putih sedang mengeong, akan sangat tergantung pada ketajaman pendengaran dan ketajaman penglihatan seseorang. Orang yang matanya rabun tentu akan berbeda dalam memberikan sifat terhadap warna kucing, Begitupun pada mereka yang pendengarannya kurang baik. Ia pasti setidaknya ragu bahwa kucing tersebut pernah mengeong karena pendengarannya sangat samar. Minimal ia ragu bahwa kucing yang dilihatanya itu mengeong,

Contoh lain dalam membuat dan merumuskan suatu penalaran adalah: logam satu dipanaskan kemudian ternyata logam itu memuai. Logam dua dan logam tiga juga sama dipanaskan, hasilnya memuai juga. Logam yang ke empat sampai dengan logam yang ke sepuluh dipanaskan, hasilnya memuai juga. Proposisi logam satu sampai dengan logam yang ke sepuluh, jika dipanaskan dapat menghasilkan penalaran yang tersusun dalam kalimat: Semua logam yang dipanasi akan memuai. Dalam logika penalaran, proposisi-proposisi yang menjadi dasar penyimpulan disebut premis, kesimpulannya sendiri disebut konklusi dan di antara premis dan konklusi ada hubungan tertentu, ada chanel tertentu yang disebut konsekwensi.

Masalah yang kemudian muncul, apa sumbangan kongkret konsep penalaran bagi mereka yang mengikuti studi di lingkungan Pergunian Tinggi Agama dan bidang kajian sosial lainnya. Menurut saya, persoalan penalaran penting untuk dikaji lebih lanjut, karena model ini menawarkan sebuah kebenaran relative dalam memahami berbagai hasil dan sisi kehidupan. Pun dalam soal yang diamalkan dalam syari’at agama. Berdasarkan teori ini, soal-soal yang dianggap tuntas dalam bidang agama juga sama. Kesamaannya terletak pada kemungkinan lahimya kebenaran relative.

Rekomendasi untuk anda !!   Nilai Yang Terkandung dan Filosofi Logo HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72

Implementasi Nalar dalam Fiqih Islam

Contoh Nabi Muhamamad menyatakan bahwa, “shalatlah kamu sebagaimana aku melaksarnikanm/a”. Dalam term ini atau dalam proposisi ini, shalat yang benar adalah shalat yang sesuai dengan apa yang diajarkan dan dilakukan Nabi. Tetapi, apakah fakta empiris umat Islam menunjukkan demikian? Jawabannya ternyata tidak selalu! Dalam kehidupan sosial, masyarakat Muslim dalam menjalankan shalatnya, bukan saja bebeda dalam bacaan seperti pada do’a iftitah dan attahiyat, dalam soal yang sangat sederhana sekalipun, seperti cara mengangkat tangan waktu takbir dan beri- tasyahud, uniat Islam teryata berbeda melaksanakannya.

Dalam bacaan iftitah setidaknya ditemukan tiga persfektif. Ada yang Allahu akbar kabira dan seterusnya …. Inni wajjahtu wajhiya dan seterusnya dan Allahuma ba’id baini dan seterusnya Mana yang benar di antara berbagai perbedaan tadi? Dapatkah seseorang atau sekelompok orang menyatakan pendapatnya atau perbuatannya paling benar. Jawabannya tentu tidak! Sebab kebenaran yang dianut masing-masing pendapat tadi, dibatasi oleh sajauh mana dan alat apa yang dipakainya sehingga ia dapat melihat dan ia dapat mendengar.

Jadi meskipun Nabi menyuruh umatnya untuk shalat sarna seperti Nabi, tetapi fakta menunjukkan bahwa setiap sahabat Nabi memiliki keterbatasan-kelerbatasan manusiawi, baik dalam pendengaran, penerlihatan, merasa dan memikirkan apa yang disampaikan dan dilihat dari Nabi. Sehingga agak aneh kalau ada orang yang begitu yakin terhadap apa yang dilihatnya, dirasanya dan dipikirkannya sebagai sesuatu yang benar, rneski sikap tadi harus ditempuh pada sesuatu yang dianggap pasti.

Logika adalah Sarana Berfikir

Logika berasal dari bahasa Latin yakni logos. Arti dasarnya perkataan atau sabda. Masyarakat Timur Tengah (Arab) memperkenalkan logika dengan kata mantiq yang terambil dari kata kerja nataqa. Kata mantiq lazim diartikan dengan berkata atau berucap. Menurut Luis Ma’luf (1973) kata mantiq diartikan sebagai hukum yang memelihara had nurani dari kesalalian dalam berpikir. Ada juga yang mengartikan logika sebagai ilmu berkata benar atau ilmu tentang berpikir benar. Logika juga sering diartikan dengan masuk akal atau menurut ketentuan akal. Kebenaran dengan cara kerja logika sandarannya dilandaskan pada apa yang disebut dengan kebenaran aqliyah.

Richard Jeffrey (1981) mengartikan logika sebagai “logic is the science of deduction. It’s aims to provide systematic means for telling wether given conclusion do or do not follow from given premises, i.e.for telling wether inferences are valid or invalid”.

Logika dari segi istilah sering diartikan sebagai kumpulan kaidah-kaidah yang memberi jalan (system!) berpikir tertib dan teratur sehingga kebenarannya dapat diterima oleh orang lain. Dalam definisi ini, logika berdiri menjadi sebauh disiplin ilmu yang mempelajari cara manusia berpikir dengan sempurna. Logika akan memberi suatu ukuran (norma) yakni suatu anggapan tentang benar dan salah terhadap sebuah kebenaran. Ukuran kebenarannya adalah logis. Oleh karena itu, logika lebih bersifat normatif dan teoritis. Pekerjaan logika menentukan peraturan- peraturan berpikir yang benar. Logika adalah pengetahuan tentang cara dan seni berpikir secara filosofis (philosophy or art of thinking).

Logika dalam pengertian ini, diartikan sebagai metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti ketepatan penalaran. Selain itu, logika dapat juga diartikan sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang benar dan penalaran yang salah. Dengan demikian, cara kerja logika adalah lanjutan dari cara kerja penalaran dalam memperoleh dan menetapkan pengetahuan. Prof. Dr. Cecep Sumarna

Share This Post

4 Comments

  1. dalam hal menalar (berpikir) itu ada 2 metode yaitu logika dan analisis, diantara keduanya itu saling keterkaitan untuk menghasilkan suatu pengertian yang logis… dan apabila kita menganalisis suatu kegiatan maka kita akan menyadari bahwa kita sudah berpikir dan bertindak pula.

    Reply
  2. Penalaran adalah cara kerja berpikir manusia dalam menghasilkan ilmu pengetahuan. manusia dikatakan bernalar apabila hasil pemikirannya logic (dapat diterima dan dipertimbangkan dengan akal fikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa) dan analitik (logika ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah) dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah.
    kebenaran manusia sendiri sebenarnya tidaklah mutlak. karena sangat bergantung terhadap sasaran objek kebenaran itu sendiri. yang saya ketahui, untuk mencapai kebenaran, terdapat tiga teori yang berguna untuk mengukur kebenaran. yang pertama adalah koherensi (teori yang mendasarkan kebenaran pada akal atau rasio), kedua, teori korenspondensi (teori yang mendasarkan kebenaran pada fakta yang objektif) dan ketiga adalah teori pragmatisme fungsional (teori yang mendasarkan kebenaran pada fungsi dan kebenaran itu sendiri).

    Reply
  3. Nalar pada hakikatnya suatu pikiran dimana yang terkonsep dalam suatu pikiran yang kemudian diolah menjadi sebuah pengertian yang sesuai dengan apa yang dilihat oleh panca indra manusia. Seseorang yang memiliki otak/akal pasti akan memiliki nalar. Baik atau buruknya hasil dari penalaran yang diartikan tergantung dari manusia itu sendiri. #1415104050

    Reply
  4. Diaz Ayu Sudwiarrum
    1415104029
    Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial A/3
    IAIN Syekh Nurjati Cirebon

    Pada dasar nya berpikir secara logika maupun nalar adalah hal yang saling berketerkaitan dan di gunakan atau di lakukan tergantung pada hal-hal atau kejadian yang ada kita mau berpikir seperti apanya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>