Citra Risma Semakin Kokoh ketika Menolak menjadi Calon Gubernur

0 21

Citra Risma Semakin Kokoh. Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, kebali digadang menjadi Calon Gubernur atau Wakil Gubernur Jawa Timur. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan [PDIP] Jawa Timur meminta Risma agar segera melengkapi formulir pendaftaran. Formulir itu diminta untuk melengkapi persyaratan administrasi penjaringan calon dari PDI-P Jawa Timur.

Beberapa survey yang dilakukan para surveyer, menunjukkan bahwa popularitas Risma cukup signifikan. Meski posisinya berada di urutan kedua setelah Gus Iful, tetapi suara yang bakal didulang berdasarkan survey tadi cukup signifikan. Ia menempati angka 27,08 sementara Gus Iful berada pada posisi 32,29 persen. Ia dianggap sebagai kader potensial yang bakal mengalahkan pihak lain.

Suatu surat pemberitahuan yang dikirim DPD PDI-P Jawa Timur dikirim kepada Risma, seperti dikutif dari Kompas.com.  Senin (12/6/2017), Risma muncul dalam rekapitulasi hasil rapat pleno penjaringan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur yang berakhir pada 10 Juni lalu. Namun demikian, Risma tetap pada pendiriannya untuk mengikuti bursa calon gubernur. Ia tetap ingin berkonsentrasi menjadi Walikota Surabaya sampai masa pemerintahannya berakhir.

Menurut Didik Prasetyono, juru bicara Risma pada saat Kampanye, surat itu dibenarkan telah sampai kepada Risma. Tetapi Risma tetap bersikukuh untuk tidak mengambil formulir tersebut.” Demikian Didik menjelaskan Selasa (13/6/2016). Hal itu juga sudah disampaikan kepada Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri, untuk membahas masalah itu. Megawati sendiri setuju dengan keinginan bu Risma untuk tetap mengabdi kepada warga Surabaya hingga masa jabatannya usai,” terangnya.

Risma Tetap Tidak Bergeming

Apa yang menarik dari fenomena politik Surabaya dengan meletakkan Risma didalamnya. Menurut saya, Risma bukan hanya mewakili politik ideal yang hampir tidak dimiliki tokoh politik lain di Indonesia hari ini. Ia dalam kasus tertentu, kini telah menjadi simbol ketokohan yang menunjukkan jati diri politik yang sesungguhnya.

Meski kita tidak tahu apa di balik semua fenomena yang melekat pada dirinya, tetapi, dengan sikap penolakannya pada ajakan untuk menjadi Gubernur, yang didukung oleh piranti politik raksasa Indonesia, ia telah menunjukkan bahwa konsistensi menjadi penting. Termasuk tentu dalam berpolitik. Janjinya untuk tidak meninggalkan balaikota Surabaya pada konstituen yang telah memilihnya, yakni untuk tidak meninggalkan Balaikota, menjadi indikator penting bahwa dia adalah tokoh dengan lakon konsisten.

Ia tampak tidak ingin meniru gaya politik, termasuk gaya politik Jokowi yang tidak selesai menjadi Walikota dan tidak selesai menjadi Gubernur DKI Jakarta. Menurut saya, justru dengan cara yang ditempuh Risma ini, bakal menjadi investasi penting dirinya di masa mendapat. Apapun itu istilah yang tepat bagi dirinya, dia bakal tampil justru menjadi tokoh nasional. By. Prof. Cecep Sumarna

 

 

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.