“My Cloudly” Cinta yang Terpendam

0 156

Dear readers, namaku Lusi Lusiana bisa dipanggil Uci. Aku sekolah didaerah Sumedang, sekarang aku menginjak kelas XII dijurusan IPA yang dikenal dengan julukan REXT atau kepanjangan dari Republic of Exact Two. Kali ini aku bakal menceritakan kisah yang mungkin sangat mengesankan bagiku. Saat kelas X, aku dipilih menjadi Bendahara oleh ketua kelas, panggil saja namanya Isa. Bagiku ia memiliki karisma yang kuat dan tak tahu mengapa saat pertama melihatnya, mataku seperti tersihir oleh aura yang dipancarkannya *eh, abaikan.

Nah, setelah flashback kelas X, giliran kita flashback saat aku kelas XI. Aku memilih jurusan IPA karena sempat bingung untuk menentukan mau kemana melanjutkan kuliah. Tak disangka, aku pun kembali satu kelas dengan Isa dan dia pun menjadi KM dikelas XI kali ini. Seperti biasanya, dia selalu bersikap dingin padaku, apalagi semenjak dia tahu aku diam-diam menyimpan rasa padanya.

Cerita dimulai pada pagi hari saat jam pelajaran Biologi. Agendanya kali ini adalah Praktikum Jaringan. Aku satu kelompok dengan Riri dan Dido. Praktikum dimulai dan semuanya sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tugasku dan Riri adalah mencari struktur yang terdapat pada jaringan yang telah ditentukan Pengajar. Dido, dia bertugas untuk menggambar struktur yang aku dan Riri dapat.

  “Ah, ko gak ketemu sih jaringannya?!” ucapku geram. “Yang teliti nyarinya Uci!” jawab seorang lelaki yang berada disampingku. Aku terhenyak saat melihat wajahnya. Isa? Dia tersenyum kecil melihatku keheranan. Timing is control my self. Ucapku dalam hati. “Eh Isa, iya nih, susah banget. Mana sampelnya kecil!” jawabku masih nada geram. Responnya sangat menghenyakkan hati, ia menarik mikroskop yang aku pakai dan mengopreknya.

 “Lusi… Lusi.. cahayanya dong coba rubah.” Suruhnya, aku memainkan cermin yang menghubungkan cahaya matahari langsung pada mikroskop. “Heup!” ucapnya dengan logat Khas Sunda. “Yeh, kamu mah.” Ucapnya tetap dengan logat Sunda yang Khas. Ia mendaratkan tangannya tepat dicermin yang aku pegang, dan tak sadar aku belum melepasnya. Saat itu, Isa yang berniat memegang cermin, malah terkena tanganku. Ia memegang tanganku yang masih memegang cermin.

“Eh, maaf.” Ucapan itu yang keluar dari mulutnya. “Nih liat, udah jelas?” tanyanya. Aku pun menghampiri mikroskop yang dioperasikan oleh Isa dan melihat hasilnya. Tapi hasilnya selalu nihil, tak terlihat dengan jelas walaupun sudah dalam kedekatan yang maksimal. Sebenernya ada gak sih sel di objek yang kita teliti ini? Pertanyaan itu sempat berkelebat difikiranku “Gak jelas jelas Isa, gimana dong ..” ucapku nada kesal sekaligus pasrah.

 “Sini, aku coba!” ucapnya menarik mikroskop dari tanganku, tak sengaja tangannya menyentuh lagi tanganku. Hampir salah tingkah aku dibuatnya. Dia mulai memainkan mikroskopnya, tanpa sadar aku menatapnya lama sampai Riri menegurku. “Lusi, Dido kemana?” ucapnya dengan nada yang lumayan keras. “Ah? Eh? Gak tau Ri, nyari bahan yang kurang kali!” ucapku asal. Seperti terenyah oleh omongan Riri, Isa pun beranjak dari tempat duduknya semula.

“Nih, gue nyerah .. haha ..” ucap Isa menyerahkan mikroskop yang semula dipegangnya, aku menerima mikroskop itu tanpa basa-basi. Dengan tatapan canda dan cengengesan ia meninggalkanku yang hanya terdiam. Huh,,, Isa … baru kali ini aku rasain lagi sikap kamu yang dulu, aku harap ini gak Cuma sesaat… aku tersenyum miris padanya. Aku pun kembali melakukan tugasku.

Satu minggu….. dua minggu…. tiga minggu…. bahkan hampir sebulan setelah kejadian itu. Kenangan yang indah hampir atau bahkan tercipta untuk yang kedua kalinya, mungkin ini akan biasa saja dan tidak menimbulkan kesan bagi para pembaca. Tapi bagi penulis, ini sangat berkesan. Suatu hari disaat guru tak hadir, aku segera menuju bangku teman lelakiku yang berada dibelakang. Untuk apa? Biasanya kegiatanku dan teman-teman adalah menonton film baru hasil download Dido. Tapi kali ini, terdapat gitar dikelas dan aku menghampiri temanku Dani yang sedang memetik gitar, dia termasuk lelaki yang pintar untuk bermain gitar. Saat sedang asyik menyanyikan lagu dengan Dani, tiba-tiba ada suara gitar lain yang menimpali. Ya, tak salah lagi, itu Isa, lelaki idamanku. Aku tak memperdulikannya hingga ia membuka pembicaraan.

“Lagu apa? Kuncinya mana?” tanyanya. Akupun memperlihatkan buku musikku yang penuh dengan lagu dan kunci gitarnya. Sambil melihat buku musikku, perlahan ia memetik gitarnya dengan halus. Berbeda saat aku masih asik berdua dengan Dani. Saat kedatangan Isa, aku menjadi canggung tak berkutik.

“Judika, Aku yang tersakiti!” jawabku sambil memberikan buku yang terdapat kumpulan kunci gitar. Isa pun melihat sekilas dan mulai memetik gitar dengan halus. Aneh, getaran yang belum pernah kurasakan tersirat dalam hatiku.

“Coba nyanyiin sedikit!” perintah Isa. Aku melirik sekilas dan dengan canggung aku mulai membuka mulutku untuk menyanyikan lagu itu.

 “Pernahkah kau merasaa… jarak antaraa kitaaa… kini smakin terasaa…. stelah kau kenal dia… aku tiada percayaa… teganya kau putuskan… indahnya cinta kitaa.. yang tak ingin ku akhirii … kau … pergi… tinggaaaalllkankuuu….. …….”

dengan hati yang tak menentu dan suaraku yang pas-pasan aku menyanyikan lagu itu. Dengan mahir Isa memetik gitarnya seirama dengan suaraku dan ia pun menyanyikannya bersamaan denganku. Sadar tak sadar, aku menatapnya lama dan dia pun melirikku sekilas dan kembali memetik gitarnya.

Tak terasa kini ku sudah menginjak kelas XII, hanya butuh beberapa bulan lagi untuk LULUS dari sekolah yang telah dua tahun aku tempati ini. Semakin lama, rasa ini pada Isa semakin tak menentu. Apalagi jika melihatnya bersama dengan teman wanitanya. Cemburukah? Atau apakah? Aku tak tahu, yang jelas aku tak bisa melupakannya selagi ia masih ada dalam hidupku.

Disemester kedua ini, diadakan ujian praktek seperti biologi, kimia, fisika, dan mungkin tambahannya seperti bahasa arab, qur’an hadits, fiqih dan banyak lagi. Sekarang aku ingin menuliskan masa dimana aku pertama kali praktek biolongi tanpa guru pendamping.

Ceritanya dipagi hari, aku dan teman teman kelasku berkumpul di laboratorium untuk praktek biologi. Saat itu tertera 10 nama yang dipilih oleh guruku. Nama Isa tercantum didalamnya, dan yang tak tercantum mengambil bulatan kertas yang telah diisi dengan 10 nama tersebut. Kebetulan namaku tak tertera. Saat giliranku, aku mengambil bulatan kertas itu dengan rasa tak karuan, tak biasanya ragu untuk melakukan ini readers. Saat perlahan membuka kertas itu aku tersentak, ternyata aku satu kelompok dengan Isa, rasanya seperti mimpi. Aku pun menutup kembali kertas itu dan menunggu giliran kedua untuk mengambil bulatan kertas lagi yang menentukan praktek apa yang harus aku dan Isa lakukan.

 Aku dan Isa kebagian praktek uji makanan, lumayan susah sih, tapi ya sudahlah jalani saja. Aku dan Isa memasuki laboratorium dan mengambil alat dan bahan yang diperlukan. “Salah alat, atau kurang alat kurang satu!” seru guru biologiku. Beliau kini memeriksa peralatan yang telah kami siapkan.

“Hmmm…” gemanya sembari mengambil barang kami yang salah dan memperlengkap yang kurang. “Isa .. -_- “ rengekku. “Aduh…” Isa menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. “Ya sudahlah, da udah ..” ucapnya nada pasrah. Perasaanku sudah tak karuan saat itu, dengan perasaan campur aduk antara pasrah dan senang. Aku mulai meracik bahan makanan yang disediakan. “Sa, kita ngerebus air kan? Alatnya udah dinyalain?” tanyaku. Dia hanya bengong tak menjawab. “Isa?” ucapku. “Hehe.. lupa Ci ngambil korek apinya” jawabnya dingin. Dia pun berdiri dan mengambil korek api yang disediakan oleh guru kami. “Nyalain dulu!” suruhku sambil tetap melembutkan ekstrak makanan. Ia pun menyalakan korek api dan mengarahkannya ke alat pembakaran. “Larutannya berapa tetes sih?” tanyanya.

 “Fehling A+B 5 tetes aja, sisanya terserah lah!” ucapku asal. Aku memasukkan bahan makanan kedalam tabung reaksi dan mengikuti prosedur dari modul yang telah disediakan. Seakan tak merasa apa-apa, aku dapat mengikuti alur perjalanan praktek Biologi dengan biasa saja. Ya, memang awalnya begitu. “Beres?” tanya Isa. “Beres Sa!” ucapku sambil memberikan lembaran kertas yang selesai ku tulis. Kami pun berdiri dengan berlawanan arah, dan apa yang terjadi readers? Hampir saja kepala kami terbentur. Untungnya, Isa segera menghindar.  “Eits,,, tiati Ci!” peringatnya. “Yeee maap!” ucapku dingin. Aku dan Isa menghampiri guru Biologi kami dengan hati yang tak karuan.

  “Modul macam apa ini? Kalian menyuruh saya untuk melakukan apa yang seharusnya kalian lakukan?” ucap Guru Biologiku dengan nada tegas. Aku dan Isa hanya terdiam saling tatap. “Maaf pak” ucap kami, Isa mengambil kembali lembaran itu dan memperbaiki apa yang menurutnya salah. “Udah bener sih Ci, tinggal kalimatnya aja coba rubah, jangan jadi kalimat suruh! Bisakan?” tatapannya penuh arti seakan semuanya dia serahkan padaku.

 “Insya Allah, kita pake pensil dulu aja ya Sa, takutnya salah ribet kalo bulak-balik pake tip-x”. “Mangga, gimana bagusnya aja Ci.” Ucapnya. Aku mulai menulis kembali modulnya dengan didampingi Isa. Entah harus merasa kesal atau bagaimana, hatiku tak karuan. Aku mulai menulis apa yang harus ku tulis dan Isa sebagai orang yang memandu kalimatnya. “Bener ga?” tanyaku menyerahkan lembaran modul pada Isa.  “Kata-katanya sih lumayan Ci, coba ke bapak yaa” ucapnya berdiri dan menghampiri Guru kami.

“Bapak…” sapa Isa menyerahkan lembaran modul itu. Aku berjalan dan berdiam disamping Isa. “Hmm.. lumayan .. lumayan ..” beliau membolak balik modulnya dan mulai menandatanganinya. Nilainya A- untuk modulku dan Isa. Syukurlah praktek ini selesai dengan tepat waktu. “Terima kasih pak” ucap kami menyalami beliau dan bergegas meninggalkannya. Kami pun menuju bangku yang tadi dipakai untuk praktek dan mengambil tas.

Satu Kesempatan Yang Terbuang

Thanks for today, Sa.” Ucapku nada manja. Isa menatapku sekilas dan membereskan kantongnya kembali. Teu diwaro batinku mengoceh dan aku pun berbalik badan bermaksud keluar dari ruang sains. Tiba-tiba Isa memanggilku.

 “Mau kemana Ci?” menghampiriku. Aku berbalik arah dan menatapnya. “Thanks t00 for all” ucapnya tersenyum. Aku pun membalas senyumannya dengan mimik miris, kesal karena saat aku berbicara tadi dia hanya diam tak bersuara. “Tos dulu buat hari ini, Ci!” ucapnya mengangkat tangan, aku pun menyambutnya dan tawa pun tak dapat terelakkan lagi. Entah lucunya dimana hampir sepanjang jalan menuju gerbang sekolah kami tertawa terbahak-bahak mengingat kekonyolan kami tadi semasa praktikum.

 Itulah kenanganku bersama seseorang yang cukup special menurutku. Dibalik muka dinginnya saat berkomunikasi denganku, ada saja kenangan manis yang tak sengaja tercipta antara kami. Dan ini lah yang aku inginkan, sifat hangatnya dulu yang pernah membuatku jatuh hati padanya. Semoga ini bukan akhir dari segalanya.


  By: @inozzz_05

Komentar
Memuat...