Connect with us

Agama

Cobaan Dengan Kebaikan Dalam Kehidupan Manusia

Avatar

Published

on

2 Sampai 2Lanjutkan

Di atas, Al Qur’an memberikan kisah-kisah untuk orang-orang yang diuji dengan kebaikan maka mereka melampaui batas, gagal, merasakan dan mendapatkan kegagalan.

Kisah Fir’aun

Fir’aun yang diuji oleh Allah dengan kekuatan dan kedaulatan di bumi dan menjadikannya sebagai kepala negeri yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi di bumi kemudian ia merendahkan bangsanya dan sewenang-wenang di dalam dan menyebarkan bencana dan peperangan di luar, merendahkan utusan Allah kepadanya Musa AS dan mengingkari adanya Tuhan selain dirinya sendiri. Maka Allah membuatnya merasakan akibat melampaui batas dan mengabadikann muminya diawetkan agar menjadi bukti bagi orang-orang yang sesudahnya.

Kisah Qarun

Qarun yang adalah termasuk kaum Musa AS yang diuji dengan badan dan ilmu yang berkecukupan dan kekayaan yang melimpah kemudian ditimpa kesombongan dan bahwa ujian kebaikan baginya itu merupakan buah dari ilmu dan pengalaman ekonominya, kemudian ia menggunakan dan memperdayakan kekayaan dan kedudukannya untuk menebarkan kerusakan, menopang kezhaliman dan bencana dalam kemewahan dan perhiasan maka akibatnya adalah hilang dan lenyapnya harta karena dirinya sendiri.

Kehancuran Fir’aun dan Qarun

Perumpamaan Fir’aun dan Qarun –ashab al jannah– yakni kebun di mana mereka mengingkari jalan orang yang sebelumnya dalam memberikan dan berinfak dan bersumpah tidak akan boleh dimasuki oleh orang miskin, memonopoli hasilnya dan menutup pintu bagi orang-orang miskin maka Allah menurunkan sebab-sebab kehancurannya.

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari” (17) “dan mereka tidak mengucapkan: “In syaa Allah” (18) “Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur” (19) “Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita” (20) “Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari” (21) “Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya” (22) “Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan” (23)

“Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun masuk ke dalam kebunmu” (24) “Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)” (25) “Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)” (26) “Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)” (27) “Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)? ” (28) “Mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim” (29) “Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela” (30) “Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas” (31) “Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita” (32) “Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui” (33) (Qs. Al Qalam [68]: 17-33).

Surga Adalah Salah Satu Cobaan Kebaikan

Surga di sini adalah perumpamaan untuk harta milik dan sumber-sumber kekayaan yang banyak yang merupakan salah satu aspek cobaan dengan kebaikan. Ia adalah cobaan yang berbeda jenisnya sesuai dengan perbedaan waktu dan tempat. Dalam pertanian ia berbentuk ladang dan kebun, dalam pabrik ia berbentuk pabrik, perusahaan dan bangunan. Demikian juga berbeda-beda kadarnya dari satu tempat ke tempat lain.

Kadang dalam bentuk kebun dan pertanian yang subur dan kadang berbentuk negeri yang subur di mana orang-orang yang kekurangan mengharap bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan hidup di dalamnya. Atau berupa benua yang dipenuhi dengan kesuburan dan kemakmuran di mana negeri-negeri lain mengharap bantuan dan pertolongannya.

Ketika pemilik kebun menutup pintu, dan penduduk negeri yang makmur menuntut keharusan aturan dan membuat prosedur yang memungkinkan mereka memonopoli dengan cobaan kepada mereka berupa kebaikan, menutup perlintasan bagi orang-orang yang membutuhkan dari kalangan pekerja, orang miskin dan pelajar di negeri lain, di sini berputar pada mereka “kelompok penguasa” dalam bentuk bencana alam, anarkhi sosial, invasi luar, bencana kelas, perang sengit, inflasi ekonomi, kelesuan di pasar atau kehancuran dalam produksi. Akibatnya adalah perginya kemakmuran dan kekayaan ke keluarga, negeri atau benua lain untuk memulai peran lain dalam -cobaan.

Kebaikan dan Keburukan

Salah satu dari kedua kelompok orang ini dicoba dengan kebaikan yang diumpamakan dengan dua taman buah-buahan dan pertanian, sementara salah satu kelompoknya lagi dicoba dengan keburukan yang berbentuk kemiskinan dan nasib buruk. Hubungan keduanya sesuai dengan ukuran kekayaan dan kemuliaan, dan kekyaan dan kemiskinan dipergunakan sesuai dengan ukuran tertentu yang Qur`an intisarikan dalam firman-Nya:

“Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” (Qs. Al Kahfi [18]: 34)

Adalah ukuran yang digunakan berupa istilah harta, kemuliaan dan banyaknya pengikut. Di antara keduanya terdapat perdebatan dan perdebatan yang berakhir pada keangkuhan dan kesombongan terutama mempermainkan orang yang diuji dengan kebaikan dan merasa tinggi dan akan berlangsung terus menerus dengan mengatakan:

“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya”, (35) “Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu” (Qs. Al Kahfi [18]: 35-36).

Merupakan penyalahgunaan hak yang berulang-ulang terjadi dengan berulang-ulangnya zaman dan setiap tempat ketika manusia melihat bahwa dirinya telah kaya sehingga melampaui batas dan melakukan olok-olok dengan berkomentar bahwa kaya di dunia berarti kaya dan bahagia di akhirat, dan miskin di dunia adalah miskin dan penderitaan di akhirat. Orang yang dicoba dengan kemiskinan memperingatkan akibat penyalahgunaan hak ini dengan mengatakan:

“Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? ” (37) “Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” (38) “ Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan” (39) (Qs. Al Kahfi [18]: (37-39).

Azab Bagi Orang yang Merasa Kaya dan Melampaui Batas

Kemudian azab Allah turun kepada orang yang merasa kaya dan melampaui batas.

“Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”  (Qs. Al Kahfi [18]: 42).

Bahaya cobaan dengan kebaikan lebih besar daripada cobaan dengan keburukan. Mengenai hal ini Nabi SAW memberikan isyarat:

“Aku lebih takut fitnah kesenangan pada diri kalian daripada fitnah kesusahan. Jika kalian dicoba dengan fitnah kesusahan kalian bisa bersabar, dan sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau”.

Beliau juga bersabda: “Aku sangat mengkhawatirkan kalian atas ujian dalam bentuk nikmat-nikmat daripada dosa. Ingatlah bahwa nikmat-nikmat yang tidak disyukri itu adalah kematian yang pasti”.

Akhirnya, manusia dicoba dengan dirinya sendiri, komposisi penciptaannya, komponen kepribadiannya sehingga Allah SWT menjadikan di dalamnya kecenderungan kepada aspek-aspek kebaikan atau kecenderungan kepada aspek-aspek keburukan, kemudian ia diminta untuk mengambil sendiri selamanya melalui perantaraan pendidikan dan penyucian yang memperisapkannya untuk mengambil aspek-aspek kebaikan dan menjauh dari aspek-aspek keburukan.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan)” (Qs. Al Insaan [76]: 2).

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)” (7) “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (8) “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” (9) “Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (10) (Qs. Asy-Syams [91]: 7-10).

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

2 Sampai 2Lanjutkan

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.