Inspirasi Tanpa Batas

Cobaan Dengan Keburukan Dalam Kehidupan Manusia

0 207

Cobaan Dengan Keburukan; Hubungan yang mengikat manusia pendidikan Islam dengan kehidupan adalah hubungan cobaan. Cobaan maknanya adalah ujian, yakni ujian petunjuk ibadah dengan tiga aspeknya: agama, sosial dan alam. Cobaan adalah aspek amaliah bagi hubungan ibadah antara Allah dan manusia dan yang telah disebutkan definisinya yaitu, “kesempurnaan ketaatan untuk kesempurnaan cinta”.

Kehidupan adalah masa yang ditetapkan untuk cobaan atau ujian sebagaimana dituliskan dalam QS. Al Mulk [67] ayat 2 yang artinya:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (Qs. Al Mulk [67]: 2).

Bumi adalah arena di mana cobaan atau ujian berlangsung. Adapun materi dan sarana ujiannya adalah apa yang ada di bumi berupa kekayaan, hasil produksi, perhiasan dan bangunan yang ada di atasnya. Hal ini tersirat dalam QS. Al Kahfi Ayat 7 yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (Qs. Al Kahfi [18]: 7).

Adapun lingkup ujiannya ada dua yakni bidang pertama adalah harta dan kepemilikan, dan bidang kedua adalah bidang jiwa.

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu” (Qs. Ali Imraan [3]: 186).

Bentuk- Bentuk Cobaan

Bentuk-bentuk cobaan terbagi menjadi dua bagian. Pertama mengandung materi ujian yang Qur`an tingkat-tingkatkan dengan nama al khair (kebaikan), al hasanat (kebajikan) atau as-sarra (kesenangan). Kedua mengandung materi ujian yang Qur`an tingkat-tingkatkan dengan nama asy-syarr (keburukan), as-sayyiat (kejelekan) atau ash-dharra` (kesempitan). Hal ini dapat dilihat dalam Surat Al Anbiya ayat 35 yang artinya:

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)” (Qs. Al Anbiyaa` [21]: 35).

Juga terdapat dalam Surat Al A’raf ayat 168, yang artinya:

“Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” (Qs. Al A’raaf [7]: 168).

Cobaan Dengan Keburukan

Qur`an memberikan penjelasan bagian pertama dan materi-materinya yang ditingkat-tingkatkan dengan nama keburukan, kejelekan dan kesempitan, dan memberikan ribuan contoh yang di antaranya ujian dengan musibah, bala, ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, hasil panen dan buah-buahan dan ujian dengan peperangan, kekalahan, penindasan dan lain-lain. Allah swt berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 155 yang artinya:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa” (Qs. Al Baqarah [2]: 155).

Juga telah Allah swt jelaskan dalam QS. Muhammad ayat 4 dan ayat 31:

“Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain” (Qs. Muhammad [47]: 4).

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu” (Qs. Muhammad [47]: 31).

Dalam QS. Al Ahzab ayat 10-11 Allah swt berfirman:

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka” (10) “Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat” (Qs. Al Ahzaab [33]: 10-11).

Juga dalam QS. Al A’raf ayat 141 Allah swt menjelaskan:

“Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir`aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu” (Qs. Al A’raaf [7]: 141).

Cobaan Keburukan Individu dan Kelompok Dalam Al Quran

Qur`an juga memberikan model-model peristiwa individu dan kelompok yang diuji dengan kejelakan sehingga mereka gagal, jatuh dan merasakan akibat kejatuhan mereka. Di antaranya adalah bangsa Fir’aun yang membiarkan Fir’aun (bertindak Fir’aun), merendahkan akal mereka dan bermain-main dengan takdir dan kemampuan mereka tanpa pertentangan dan perlawanan.

Maka Fir`aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik” (Qs. Az-Zukhruf [43]: 54).

Di antaranya adalah kisah kaum Musa yang dicoba dengan risalah perdamaian dan kewajiban jihad untuk memperjuangkannya kemudian mereka menjawab: “Pergilah kamu dengan Tuhanmu, sesungguhnya kami di sini hanya duduk-duduk saja”. Kegagalan mereka menjadi pintu bagi rangkaian siksa historis yang berturut-turut. Dan kisah-kisah sejenis ini banyak sekali.

 Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Komentar
Memuat...