Take a fresh look at your lifestyle.

Cobaan, Kesenangan dan Konsumerisme dalam Filsafat Modern

0 42

Cobaan, Kesenangan dan Konsumerisme: Hubungan yang dinilai oleh filsafat pendidikan modern antara manusia dan kehidupan adalah hubungan kenikmatan dan konsumsi. Akibat dari hubungan ini tugas utama pendidikan modern adalah menghasilkam manusia yang produktif – konsumtif.

Pendidikan modern telah berhasil sampai batas tertentu meningkatkan kemampuan produksi dan konsumsi pribadi. Hanya saja tidak berhasil memperbanyak kesenangan. Alih-alih menciptakan masalah-masalah dan bahaya lingkungan, kesehatan, sosial dan politik. Hal ini mengancam kerusakan lingkungan secara luas dan lingkungan kehidupannya.

Terkait masalah lingkungan kami mendengar pelan-pelan peringatan dari para ahli lingkungan (ecologist) sekitar bahaya yang mengancam lingkungan alam di bumi seluruhnya. Bahaya ini merupakan akibat dari aktivitas produksi dan konsumsi yang berlebihan dan sembrono.

Di antara bahaya ini adalah penjelasan yang terperinci tentang pengaruh lingkungan yang disebabkan oleh perusahaan-perusahaan kayu; pengeboran sumur dan padi di tanah Afrika yang miskin dan menghilangkan keseimbangan lingkungan. Menyebabkan pada kekeringan yang menimpa benua hitam ini.

Studi Terhadap Pengaruh Pencemaran dan Limbah di Benua Eropa dan Amerika

Terdapat studi-studi yang secara terus menerus memperingatkan akan pengaruh pencemaran dan limbah pabrik dan perusahaan dan limbah makanan di benua Eropa dan Amerika, dan pengaruhnya terhadap kehidupan di sungai, pantai, samudera dan laut sehingga para ahli lingkungan khawatir sekiranya kehidupan akan berakhir.

Sebagian ahli lingkungan menggambarkan bahaya masa depan dengan bentuk yang menakutkan. Mereka menyebutkan bahwa gas yang naik ke udara akan merusak oksigen yang dihirup oleh makhluk hidup dan akan menembus susunan udara itu sendiri, dan akan berakibat pada sinar matahari yang menghadap bumi sehingga meningkatkannya sampai pada tingkat yang menyebabkan melelehnya semua volume salju dua kutub dan terpisahnya kota-kota pantai. Sementara yang lainnya, yaitu terjadi penurunan panas matahari dan kembalinya kampung dunia kepada masa es. Kedua keadaan ini membawa bahaya yang pasti dalam kaitannya dengan masa depan manusia di muka bumi.

Disamping masalah polusi yang ditimbulkan oleh pabrik kota juga adalah pengalaman bom atom yang merusak keseimbangan dan kebersihan lingkungan maka kita bisa menggambarkan semua bahaya yang disebabkan oleh konsep konsumsi dan produksi dalam hubungan manusia dengan kehidupan dan kita menemukan kebutuhan yang mendesak terhadap konsep-konsep pendidikan Islam.

Sedangkan yang disebut oleh para ahli lingkungan dengan keseimbangan lingkungan dan krisis alam yang sesuai untuk kehidupan di bumi adalah aspek keahlian dan kebijaksanaan pendidikan ketuhanan terhadap alam manusia, hewan dan benda padat, dan ini adalah sebagian dari makna firman Allah رَبُِّ الْعَالَمِينَ “Tuhan semesta alam”.

Rene Dubos

Oleh karena itu tidak heran jika ahli lingkungan terkenal Rene Dubos menggambarkan orang-orang yang menjalankan pendidikan modern dan manajemen kehidupan produski dan konsumsi sebagai orang gila dan penjahat, dan di antara pernyataannya dalam masalah ini adalah sebagai berikut:

“Seharusnya sebagian besar orang di negara-negara Barat –khususnya Amerika modern- dianggap sebagai orang-orang yang menyimpang, karena mereka beraktivitas dan seakan-akan satu-satunya ukuran perilaku adalah memuaskan nafsu dan instingnya yang sementara dengan tidak memperhatikan akibatnya terhadap alam dan anak cucu.

Buku-buku sekolah mengingkari perhatian yang tidak bertanggungjawab yang diucapkan oleh Louis XIV: “Jadikanlah banjir di antara budakku, dan oleh karena itu kami sibuk di bumi dan seakan-akan kita adalah generasi terakhir yang hidup di dalamnya, dan kita mengusahakannya secara bersama-sama- seakan-akan kita ingin menjustifikasi aktivitas-aktivitas kita yang buruk dengan bertanya: “Apa yang dilakukan anak cucuk untukku?”.

“Sesungguhnya model-model kehidupan yang berhasil, dan peradaban yang berhasil ditopang dengan sistem hubungan sistematis yang mengikat antara manusia, masyarakat dan alam. Hubungan yang mendasar ini bukan untuk kebaikan indivudual semata akan tetapi demi kelestarian masyarakat manusia dan itu saat ini mengguncang dengan cepat dan mendalam oleh karena kehidupan modern yang kita jalani, dan bahaya tidak hanya terbatas pada perampasan alam semata akan tetapi mengancam masa depan umat manusia”.

Ia juga mengatakan:

“Kita membuka hutan dengan semena-mena, menenggelamkan gurun dengan air untuk menemukan lahan pertanian baru. Akan tetapi di sisi lain kita merusak ladang yang subur untuk mendirikan pabrik-pabrik dan jalan-jalan (high way), jama’ah-jama’ah gereja dengan mengabaikan aspek-aspek alam dan sejarah. Mula-mula kita membuka hutan untuk membuat lahan pertanian lalu kita mempertahankan pertanian untuk membangun kota-kota dan kota-kota penyangga. Di setiap tempat kita tidak menggunakan bumi sebagai tempat dan pemelihara kebudayaan manusia akan tetapi sebagai sumber untuk investasi dan pasar untuk jual beli….

Kita hampir tidak bisa menghirup udara yang bersih di sebagian besar kota. Dari waktu ke waktu kita melihat bahwa pengaruh polusi pada daun-daun hijau sampai titik di mana tidak layak lagi untuk dijual. Ini memberikan kita contoh bagaimana polusi terjadi pada semua makhluk hidup.”

Dubos melihat wilayah-wilayah berkembang mengikuti tradisi masyarakat industri sehingga ia berkata: “Semua masyarakat yang terpengaruh dengan peradaban Barat di masa mendatang harus memiliki “Taurat kemajuan” dan masuk dalam wilayah yang serupa dengan “perkumpulan Darwis” dan kita menyanyikan:

Beproduskilah lebih banyak!

Supaya kalian lebih banyak lagi mengkonsumsi!

Kemudian supaya kalian lebih banyak lagi berproduski!

Manusia tidak perlu menjadi ahli masyarakat untuk bisa menemukan filsafat yang cacat dan gila ini. Jika kemajuan berjalan dengan cepat tidak mungkin akan berjalan terus lebih lama lebih-lebih selama-lamanya”.

Hubungan Konsumsi Menyebabkan Masalah Sosial

Hubungan konsumsi juga menyebabkan masalah-masalah sosial yang timbul pada bidang kemasyarakatan, ekonomi, etika, nilai dan dalam kehidupan individual dan kolektif.

Individu menghabiskan umurnya dalam pertempuran abadi untuk memperbaiki sumber-sumber inputnya melalui pendidikan terhadap dirinya sendiri sehingga peserta didik modern menghabiskan umur sekitar 25 tahun di bangku-bangku sekolah sebelum memasuki dunia kerja.

Betapa cepatnya perbedaan antara input dan output memaksanya kembali ke lembaga pendidikan yang menghabiskan waktu yang sebenarnya. Antara 30-40 umurnya untuk menguras kemampuan akal, jiwa dan fisiknya. Pemilik lembaga pendidikan mencurahkan input ekonominya oleh dengan mereka sendiri. Yakni dengan tidak membawa ijazah yang diberikan oleh lembaga tersebut.

Melalui pertempuran yang destruktif ini mengubur hidup-hidup tujuan hakiki ilmu dan merubah pendidikan modern menjadi pelayan bagi lembaga produksi dan kapital.

Adapun dalam taraf kolektif maka ujung masalah yang ditimbulkan oleh hubungan konsumsi adalah hubungan konflik dan kelestarian bagi yang kuat. Mengikat antara manusia dengan manusia dalam filsafat modern. Yaitu hubungan yang mengarahkan aktivitas politik, sosial dan negara. Juga menimbulkan krisis-krisis yang cepat dan terus menerus.

Disamping semua itu, apa yang ditimbulkan oleh kehidupan konsumtif adalah berupa penyakit dan masalah kesehatan. Yang hal ini tidak dikenal oleh generasi-generasi sebelumnya.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

“Fighting to Save the Earth from Man” dalam Education in a Dynamic Society, ed. Dorothy Wesby-Gibson, hal. 115-118 dari Time Magazine, 2 Februari 1970, hal. 56-57, 59-63.

Rene Dubos, So Human an Animal, hal. 135.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar