Dalam Berkeluarga Perlu Dramatisasi Layaknya Sinetron

2 19

Menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah melalui perkawinan. Perkawinan tidaklah sekedar sebuah ritual dan seremonial. Akan tetapi, proses itu akan menentukan suatu janji suci di depan Sang Khaliq, komitmen lahir di depan publik dan tanggungjawab setia di hadapan pasangan. Perkawinan atau pernikahan juga tidaklah sekedar menyatukan dua hati antara seorang laki-laki dan perempuan semata. Namun, pernikahan merupakan penyatuan dua budaya, dua keluarga, dua perbedaan untuk diharmonisasi dalam sebuah perbedaan itu. Tidak mungkin bahwa perbedaan-perbedaan tersebut akan disamakan namun lebih kepada dipahamkan agar menjadi satu nilai baik yakni saling menutupi kekurangan dan kelebihan diantara keduanya. Karena Dalam Berkeluarga Perlu Dramatisasi Kayak di Sinetron,  bumbu-bumbu untuk memoles kemesraan ini merupakan Kunci utama rumah tangga harmonis.

Dalam sebuah kisah rumah tangga, seorang suami adalah sang pemimpin dan sang istri memosisikan diri sebagai manajer. Keduanya memiliki peranan penting dalam melangsungkan hubungan yang lebih lama atau hanya sementara. Kekuatan dalam mempertahankan hubungan rumah tangga didasarkan dalam satu kesatuan konsep bahwa berumahtangga itu dapat memberikan rasa nyaman dan bahagia tanpa ada satu paksaan untuk menciptaka keadaan tersebut.

Kunci utama rumah tangga harmonis

Kunci utama dalam membangun rumah tangga harmonis adalah mampu menjaga arus isu dari berbagai penjuru. Isu-isu kehidupan itu harus dikendalikan dan saling dikelola menjadi satu pendewasaan mental antara suami dan istri. Arus isu yang menerpa rumah tangga itu bisa saja muncul dari orang tua, mertua, saudara, atau tetangga. Jika diurutkan sesuai skala permasalahan, maka resistensi isu itu muncul dari orang tua dan mertua. Orang tua kita akan tidak tahan untuk menceritakan kekurangan pasangan kita ataupun mertua kita pun akan tidak tahan untuk menceritakan kekurangan kita kepada pasangan kita.

Saling Menahan Isu

Seorang suami pasti akan mendapatkan satu kritikan dari orang tua atas perilaku istrinya yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua suami. Begitu pula sang istri akan mendapati kritikan dari orang tuanya atas kekurangan atau kelemahan suaminya. Dilema dalam menghadapi keadaan ini akan terus berlanjut bila keadaan hati suami maupun istri tidak terkonfirmasi atas berbagai kritikan-kritikan dari berbagai sisi itu. Semakin lama tidak terkonfirmasi maka akan semakin kuat pula persepsi negatif terhadap pasangan masing-masing. Maka kekacauan akan muncul dengan dalih kebingungan dalam bersikap, antara orang tua dengan istri di satu sisi atau orang tua dengan suami di sisi yang lain.

Komitemen mulia antara suami istri untuk saling menahan arus isu itu akan menjadi benteng penghadang jebolnya harmonisme dan romantisme rumahtangga. Ketahanan hati suami dan istri untuk saling menjaga arus isu akan makin memperkuat bahwa dewasa dalam berrumahtangga itu pilihan. Dewasa dalam berumahtangga akan ditampakkan dengan cara-cara seorang suami dan seorang istri mampu memperlakukan orang tua dan mertua mereka dengan seimbang. Tidak mencederai perasaan masing-masing, tidak pula mengatakan begitu ‘jujur’ keadaan sesungguhnya dalam realitas tertentu. Mengatakan jujur dalam konteks kejelakan antara orang tua, suami/istri, dan mertua akan mengakibatkan persepsi buruk dalam pola hubungan kekeluargaan. Sehingga, disinilah bahwa ‘jujur’ atau bicara apa adanya dalam konteks berumah tangga harus direinterpretasi dan disesuaikan dengan konteks cerita rumah tangga. Karena tidak semua kejujuran bicara kita akan berbuah baik dalam hubungan keluarga kita.

Saling Memegang Kunci

Sang suami dan istri harus selalu menjaga kunci-kunci kemesraan rumah tangga. Ciptakanlah suasana romantis tanpa terganggu dengan isu-isu dari pihak ketiga. Saling menjaga pembicaraan agar tidak diketahui oleh sang istri atau sang suami merupakan satu aspek pendukung keharmonisan itu. seorang suami harus paham bahwa tanpa menceritakan apa adanya demi kebaikan bersama begitu pula sebaliknya bagi sang istri.

Runtuhnya rumahtangga itu bukan karena serangan bombardir bertubi-tubi dari luar. Namun, percikan isu yang tanpa saringan diterima oleh istri ataupun suami secara perlahan akan menjadi retakan-retakan kecil. Retakan itu akan terus menciptakan pecahan besar yang tidak akan berhenti jika tidak segera dilapisi dengan kepercayaan kuat diantara suami istri. Saling memegang kunci adalah cara jitu agar hubungan suami istri selalu mesra. Kunci itu akan menutup rapat cerita-cerita tidak baik tentang pasangan kita yang hanya sebatas isu dan cerita kecil. Saling percaya, saling membangun kemesraan bersama dan saling terbuka dalam menerima saran demi keharmonisan merupakan cara jitu untuk menutup retakan-retakan itu.

Drama yang Indah

Layaknya sebuah sinetron dalam setiap episod, kehidupan rumah tangga perlu bumbu-bumbu untuk memoles kemesraan. Bermain peran, berbohong, kepura-puraan demi menjaga keharmonisan merupakan pilihan yang boleh dilakukan oleh sang suami maupun istri. Cerita dalam sinetron rumah tangga akan menarik jika saling memahami peran, berbohong untuk saling menjaga perasaan dan penghormatan, dan kepura-puraan demi untuk menutupi kecurigaan yang berbuah pertikaian. Semua hal yang dilakukan oleh suami istri itu tidada lain untuk kebaikan dan pemertahanan keharmonisan semata, bukan untuk mensiasati sesuatu yang sudah baik demi kepentingan sepihak.

Berumah tangga itu memang penuh dengan seni. Permasalahan yang muncul dengan segenap para pemeran yang ada di dalamnya mesti diciptakan sebagai sebuah orkestra. Orkestra rumah tangga adalah menyatukan perbedaan karakter menjadi satu irama menuju visi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrohmah. Drama itu akan menarik, meliuk-liuk, bergelombang, namun tetap kita menciptakannya agar happy forever (beginning, middle, and ending).

Oleh:
Nanan Abdul Manan
Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Eltendi Dhirgan berkata

    Istilah lainnya ke-alay-an dibutuhkan juga dalam membangun rumah tangga. Karena tak hanya romantisme semata, sinetron juga tersirat pesan yang beginian. hehe. Jadi sepertinya ada nilai positif yang dapat diambil dari sinetron.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.