Dalam Pekatnya Gelap | Kumpulan Puisi Prof Dr H Cecep Sumarna Part – 8

0 194

Dalam Pekatnya Gelap

Dalam Gelap malam yang pekat dan sunyi tanpa suara
yang kunanti hanya seberkas cahaya
dan desiran angin sepoi tanpa badai yang membahana
Ku ingin menanti keindahan malam dalam gemerlap bintang-bintang

Ku ingin menanti keramaian akandatangnya mentari pagi yang bercahaya
dan desiran angin yang penuh makna
Sebab aku yakin …. Gelap tetaplah gelap, sama seperti malam ia tetap menjadi malam
Siang tetaplah siang yang bukan hanya datang menyemai kehidupan

tetapi, menanti hadirnya senja dan bahkan malam
Sujud syahdu penuh sembilu
tidak lagi mampu membuat aku menjadi manusia yang khusu’
dalam banyak hal bahkan sering membuat aku menjadi manusia yang serba keliru

Tuhan …. dengarkanlah jeritan hatiku ….
yang sering ragu akan kebermaknaan ilmu
Tuhan datangilah Aku dengan rayu dan bujuk rayuMu

Sekilas Tentang pengarang Puisi

Saya lahir di Tasikmalaya, tepatnya di Kampung Cikuya, Desa Sindangasih, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya pada tanggal 28 Oktober 1971. Ibu beranama Hj. Siti Mardiyah dan bapak bernama H. Muslim Suryana (alm). Dua sosok yang memiliki latar belakang berbeda. Bapak memiliki trah intelektual dan ibu memiliki trah kekayaan. Kakek ibu adalah raja tanah yang hamper menguasai sebagian besar tanah milik di sebuah tempat yang hari ini telah menjadi tiga desa.

Dibesarkan dalam kultur keluarga yang juga berbeda. Bapak kerjaannya selain mengajar di sekolah, ya membaca dan membaca. Tahun 1970-an, bisa anda bayangkan kalua bapak saya itu sudah menjadi pelanggan Jurnal Panji Masyarakat yang banyak mengulas pemikiran M. Natsir, Muhammad Room, Nurcholish Madjid, Amien Rais, Buya Syafi’i Ma’arif dan Abdurachman Wachid. Tentu selain Hamka dan belakangan beberapa tulisan Azyumardi Azra dan Qomarudin Hidayat.

Sepulang mengajar, di balai rumah kami, bapak membaca dengan keras di kursi kerasnya. Sambil merokok Gudang Garam Merah, seruputan kopi pahit. Setelah lelah, lalu dia ketiduran di atas kursinya dan terbangunkan saat ibu pulang dari melihat kebun atau sawah. Biasanya di situ, suka ada sedikit perdebatan, karena bapak dianggap lebih mementingkan membaca dibandingkan dengan melihat sawah atau kebunnya. Atau bahkan hanya sekedar ngasih makan ikan dan ayam. Untuk mengetahui lebih lengkap Baca di Spektrum Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.