Take a fresh look at your lifestyle.

Damaiku Puisi Cinta Rabi’ah | Kumpulan Puisi Prof Dr H Cecep Sumarna Part – 11

0 63

Konten Sponsor

Damaiku Puisi Cinta Rabi’ah

Damai, hai teman-temanku
Aku tetap dalam kesendirian
Jika kekasihku selamanya dapat bersamaku

Hanya karena cintanya yang tulus
Tak ada duanya
telah menguji segala hal tentang diriku

Di antara sekian banyak keindahan di alam fana ini
Saat aku merenungi segala keindahan yang dimiliki-Nya
Dia-lah mihrab dan kiblatku

Jika aku terpaksa mati karena cintaku
bahkan sebelum aku mendapatkan kepuasaanku bersamanya
Alangkah hinanya hidupku di dunia ini

Wahai pelipur jiwaku yang selalu terbakar sebuah gairah
Cukuplah bagiku menyatu dengan-Mu
Untuk Kebahagiaanku sendiri dan untuk hidupku selamanya

Engkau sumber nafasku
Karena-Mu kebahagiaanku sesungguhnya hadir
Kupastikan akan kutanggalkan semua keindahan fana ini

Harapku hanya satu yakni
dapat menyatu dengan-Mu
Karena itulah kehidupanku yang kini  kutuju.

Ekspektasi Puisi

Puisi ini disunting Cecep Sumarna dari berbagai sumber, saat penulis sendiri berada dalam kekakuan akut, berada dalam dilema kemanusiaan yang rumit dan komplek. Puisi ini, telah menjadi penerang bahwa dalam segenap kerumitan hidup, yang selalu mempertandikan cinta, ketulusan, kedamaian dan kebadian, ketika hadir dalam waktu yang sama, justru mendorong jiwa kita untuk selalu berada dalam ambigu.

Bagi saya, cinta adalah puncak kesadaran. Malang sekali nasib kita jika dalam perjanan ini, tak mampu menemukan esensi cinta dan ruang dinamis dalam watak kecintaan. Cinta akan mengabadikan manusia dalam segenap pragmen kehidupan yang rumit sekalipun. Aku dan mungkin kita semua, pada akhirnya akan disadarkan, jika pada waktunya bertemu dengan apa yang dinamakan cinta sejati, cinta yang mungkin tak pernah kita temukan sebelumnya, hanya akan mendorong diri kita bahwa pemilik dan pemberi cinta hanya Tuhan.

Karena itu, sebetapapun dalam dan jauhnya rasa cinta, dan tersedia ruang kemungkinan untuk tidak bertemu dan menyatu dalam wujud cinta yang dianugerahkan Tuhan itu dalam diri kita, maka, bersuka cita atas segenap rasa itu, telah menjadi bukti bahwa kita terlahir sebagai manusia yang patut bersyukur. Mengapa? Karena Tuhan telah menghadiahi sesuatu yang maha agung kepada kita yang tak agung.