Damaiku Puisi Cinta Rabi’ah | Kumpulan Puisi Prof Dr H Cecep Sumarna Part – 11

Damaiku Puisi Cinta Rabi'ah | Kumpulan Puisi Prof. Dr. H. Cecep Sumarna Part – 11
0 158

Damaiku Puisi Cinta Rabi’ah

Damai, hai teman-temanku
Aku tetap dalam kesendirian
Jika kekasihku selamanya dapat bersamaku

Hanya karena cintanya yang tulus
Tak ada duanya
telah menguji segala hal tentang diriku

Di antara sekian banyak keindahan di alam fana ini
Saat aku merenungi segala keindahan yang dimiliki-Nya
Dia-lah mihrab dan kiblatku

Jika aku terpaksa mati karena cintaku
bahkan sebelum aku mendapatkan kepuasaanku bersamanya
Alangkah hinanya hidupku di dunia ini

Wahai pelipur jiwaku yang selalu terbakar sebuah gairah
Cukuplah bagiku menyatu dengan-Mu
Untuk Kebahagiaanku sendiri dan untuk hidupku selamanya

Engkau sumber nafasku
Karena-Mu kebahagiaanku sesungguhnya hadir
Kupastikan akan kutanggalkan semua keindahan fana ini

Harapku hanya satu yakni
dapat menyatu dengan-Mu
Karena itulah kehidupanku yang kini  kutuju.

Ekspektasi Puisi

Puisi ini disunting Cecep Sumarna dari berbagai sumber. Menurutnya, puisi ini disusun saat yang bersangsukatan sendiri berada dalam kekakuan akut dan  berada dalam dilema kemanusiaan yang rumit dan komplek.

Puisi ini, seharusnya menjadi penerang bahwa dalam segenap kerumitan hidup, selalu tersedia ruang kosong dan hampa yang tidak mungkin diketahui orang lain. Hidup, faktanya, selalu mempertandingkan cinta, ketulusan, kedamaian dan keabadian dengan wujud dan fakta terbalik. Ketika cinta hadir dalam waktu yang sama, faktanya, manusia justru akan terdorong untuk selalu berada dalam posisi yang ambigu. Bukan kebahagiaan itu sendiri.

Menurutnya, cinta adalah puncak kesadaran kemanusiaan. Malanglah nasib kita jika dalam perjalanan ini, tak mampu menemukan esensi cinta dan ruang dinamis dalam watak kecintaan. Cinta akan mengabadikan manusia dalam segenap pragmen kehidupan yang rumit sekalipun. Aku dan mungkin kita semua, kata Cecep Sumarna, pada akhirnya akan disadarkan, jika pada waktunya, pasti akan bertemu dengan apa yang dinamakan cinta sejati. Cinta yang mungkin tak pernah kita temukan sebelumnya. Jika yang demikian benar-benar hadir, diri kita akan terdorong untuk, sadar bahwa ternyata ada pemilik dan pemberi cinta yang sesungguhnya, Yakni Tuhan.

Karena itu, sebetapapun dalam dan jauhnya rasa cinta, dan tersedia ruang kemungkinan untuk tidak bertemu dan menyatu dalam wujud cinta yang dianugerahkan Tuhan itu dalam diri kita, maka, bersuka cita atas segenap rasa itu, telah menjadi bukti bahwa kita terlahir sebagai manusia dengan posisi sebagai penikmat cinta sejari. Bersyukurlah untuk itu. Mengapa? Karena Tuhan telah menghadiahi sesuatu yang maha agung kepada kita, yang lahir dalam segenap ketidakagungan.

Komentar
Memuat...