Dampak Kawin Paksa Terhadap Perempuan

2 461

Dampak Kawin Paksa Terhadap Perempuan dan Aspek Psikologis Perempuan. Sepanjang periode sampai munculnya Islam, kekuasaan dan otoritas hanya milik suami dan ayah. Istri dan anak harus patuh dan taat sepenuhnya. Sebuah teks dari paruh milenium ketiga sebelum masehi mengatakan bahwa seorang istri yang menentang suaminya boleh dirontokkan giginya dengan batu bata, dan kode hammurobi menetapkan bahwa seorang anak harus dipotong tangannya apabila memukul ayahnya. Kepala keluarga berhak mengatur perkawinan anak-anaknya dan mempersembahkan anak wanitanya kepada para dewa.[1] Penindasan dan penomorduaan terhadap perempuan ini merupakan akibat dari tatanan “patriarkhi” yang menghujam sangat dalam dalam praktek budaya waktu itu.[2]

Hegemoni laki-laki atas perempuan

Dominasi laki-laki secara kuat tidak bisa dipisahkan dari faktor struktur hukum dan sosial yang mengitarinya. Hukum dan juga lingkungan memberikan kepada laki-laki kekuasaan yang cukup besar terhadap perempuan. Menurut hukum Islam, laki-laki mempunyai hak prerogatif yang besar untuk menjatuhkan perceraian, sementara perempuan terlalu sempit haknya.[3] Disamping itu, relasi gender juga sangat dipengaruhi oleh adanya pembagian peran dan fungsi dalam masyarakat. Dalam masyarakat Arab, laki-laki bertugas membela dan mempertahankan seluruh anggota keluarga, bertanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Konsekuensinya, laki-laki memonopoli kepemimpinan dalam semua tingkatan. Artinya promosi karier dalam berbagai profesi dalam masyarakat hanya bergulir dikalangan laki-laki. Sedangkan perempuan hanya mengurusi urusan yang berhubungan dengan reproduksi.[4]

Akibat perjodohan tersebut, pengantin wanita yang masih kanak-kanak tidak mengetahui betul tentang karakteristik calon suaminya. Ketidak pahaman wanita ini pada banyak aspek telah menimbulkan rasa cemas, stress, takut, segan dan marah, atau bahkan melarikan diri dari suami. Sebenarnya, para wanita yang telah menikah di bawah ketentuan umur UU tersebut masih enggan untuk berumah tangga. Akan tetapi mereka terpaksa menjalaninya karena alasan untuk menghaormati orang tua.[5] Jadi jelaslah bahwa hegemoni peran orang tua dalam perkawinan wanita itu sangat kuat. Pada umumnya wanita yang bersangkutan hampir-hampir tidak mempunyai hak untuk menolak perkawinan yang ditawarkan oleh orangtuanya. Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya praktek kawin paksa tersebut adalah budaya dan adat yang bersifat patriarkhi yang masih dipegangi kuat.

Dampak ketidakberdayaan secara psikologis

Manakala perkawinan paksa benar-benar terjadi, maka perempuan dalam hal ini adalah istri menjadi korban utama dan nomor wahid. Betapa tidak, dalam masyararakt yang bersistem kebapakan seperti di jawa, perempuan sering menjadi kambing hitam. Atmosfer penghukuman sosial dan dinamika menyalahkan istri dalam problem rumah tangga (blaming the victim) tidak lagi menyediakan ruang gerak yang memungkinkan perempuan dipandang sebagai manusia yang utuh dengan spektrum yang luas, yang selain memiliki sisi kelemahan juga memiliki sisi baik.[6]

Dari perspektif psikologi eksistensialisme, dapat diinterpretasikan bahwa perkawinan paksa serta merta menimbulkan kecemasan karena sipelaku menghayati dirinya tidak punya kemampuan, wewenang dan pilihan terhadap keputusan apapun. Upaya mendongkrak dan menolak tentu malah menjadi persoalan dengan orang tuanya, apalagi perkawinan paksa telah disetujui oleh orang tua kedua belah pihak. Sebagaimana terjadi dalam satuan keluarga tradisional yang dianggap baik bila perempuan yang sudah menikah maka harus ikut dan menerima kepada suaminya, apabila istri tidak hormat dan menerimanya atau melecehkannya, maka dianggap menyalahi kebiasaan umum yang terjadi.[7]

Sebuah perkawian secara psikologis memenuhi kriteria baik  yang bersifat mental maupun spiritual. Secara mental, perkawinan hendaknya saling mengetahui kepribadian masing-masing, sehingga mampu menyesuaikan diri. Bila masing-masing pasangan sudah saling mengetahui, minimal gejolak dan perbedaan bisa diatasi. Kemudian taraf kecerdasan dan pendidikan khususnya pendidikan agama, pemahaman dan pengamalannya harus diperhatikan, karena pada dasarnya perkawinan adalah perwujudan dari kehidupan agama.[8]

Kawin paksa yang dialami banyak perempuan pada dasarnya secara psikologis tidak dapat dibenarkan. Karena ada banyak konsekuensi negatif baik menyangkut sisi kesehatan fisik dan psikis. Konsekuensi psikis muncul pertama kali pada saat perjodohan. Saat perempuan dijodohkan dengan laki-laki yang tidak ia kehendaki seketika itu juga mulai timbul gejolak, pertentangan dalam hatinya, perasaan shock, dan was-was. Untuk selanjutnya, hal ini dapat menimbulkan perubahan sikap keseharian menjadi pendiam (silent girl) dan pemurung.[9]

Perasaan nervous dan stress dan perasaan-perasaan lainnya tersebut akan terus berlanjut hingga awal kehidupan perkawinan. Jadilah malam pertama itu malam yang menyeramkan karena dengan keterpaksaan harus melayani suaminya sebagai suatu pengalaman yang membuat tak berdaya dan tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Disinilah muncul penyesalan bagi perempuan. Selanjutnya apabila kondisi di atas terus berlanjut, maka sebagai konsekuensi terburuknya adalah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dan berujung pada perceraian.

Kawin paksa ternyata membawa ekses yang negatif (negatif effect) terhadap perempuan seperti dalam aspek psikologis membuat perempuan tertekan, nervous, apatis dan penyesalan diri. Selain itu, kawin paksa juga sangat potensial menimbulkan kekerasan (violence) dalam rumah tangga dan berujung pada perceraian (divorces). Praktek kawin paksa ternyata sudak tidak relevan lagi dengan konteks modern. Sudah saatnya perlakuan otoritarianisme terhadap perempuan dihapuskan. Karena otoritarianisme itu merupakan salah satu wujud dehumanisasi yang bertentangan dengan norma agama, sosial, hukum, dan keadilan. Inilah dampak dari Fenomena Kawin Paksa

Oleh : Ahmad Munir

Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo

Sumber :

24Lihat Ahmed, Wanita dan Gender dalam Islam: Akar-akar Historis Perdebatan Modern (Jakarta: Lentera, 2000), 6-7.

25 Lihat Wahiduddin Khan, Between Islam and Western Society, terj. Abdullah Ali (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001), 51-52.

26 Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, alih bahasa Gufran A. Mas’di (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), 530.

27 Sebagai dikutip Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender dalam Perspektif al-Qur’an (Jakarta: Paramadina, 1999), 135.

28 Sri Handayani Hanum, Perkawinan Usia Belia (Yogyakarta: PPK UGM, 1997), 22.

29 Yahya Kishbiyah dkk, Kehamilan Tak Dikehendaki di Kalangan Remaja (Yogyakarta: PPK-UGM, 1997), 48-49.

30 Ibid., 49-50.

31Dadang Hawari, al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa (Yogyakarta: Dhana Bakti Prima Yasa, 1995), 211-212

32Sebagai dikutip Sri Handayani Hanum, Perkawinan Usia Belia…,64.

  1. AFINAH NGIZATIN berkata

    AFINAH NGIZATIN
    1415104007
    SEMESTER 3 IPS
    ternyata baru tau pa, jaman dahulu itu seorang perempuan tidak bisa memilih pilihan hidup nya semuanya di atur sama ayahnya. Ternyata banyak dampak negatif dari pernikahan paksa di bandingkan dampak positifnya. Dengan munculnya islam perempuan dilindungi dan sangat-sangat dihargai apalagi jaman sekarang perempuanboleh nikah kalau sudah umur di atas sekitar 17 tahun atau sudah memiliki E-KTP jadi, bisa memanelisir terjadinya kawin paksa

    1. alialamsyah
      alialamsyah berkata

      Hingga sekarang juga masih ada, tapi fenomena ini sudah mulai berangsur hilang seiring perkembangan Zaman.
      Semoga tidak pernah ada lagi fenomena kawin paksa di era HAM seperti ini.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.