Dampak Melemahnya Ekonomi Indonesia terhadap Perbankan Nasional

0 38

Berita antarajabar.com, Sabtu 17 Desember 2016, cukup mengagetkan dunia usaha. Bagaimana tidak, berita yang tidak banyak dirilis dan juga tidak banyak diikuti pembaca nasional, karena masih banyak berkutat di seputar kasus Ahok dan fatwa MUI tentang Natal. Sesungguhnya atau seharusnya menjadi berita terhangat karena menyangkut nasib ratusan atau bahkan mungkin ribuan orang yang terpaksa harus dirumahkan.

Informasi yang ditayangkan atau dirilis Antara dimaksud, disebutkan bahwa Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat salama Januari sampai dengan Oktober 2016, setidaknya ada 75 Bank telah tutup.

Mengapa Bank ditutup? Inilah masalahnya. Jumlahnya juga banyak, yakni 75 perbankan. Dari jumlah bank yang ditutup itu, Jawa Barat menjadi penyumbang terbesar dengan jumlah 28 Bank, Sumatera Barat 14 Bank, Jawa Tengah 6 Bank dan Jawa Timur 4 Bank.

Berita ini dirilis Antara melalui pernyataan Direktur Group Pengelolaan Transformasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Suwandi, di Cirebon, pada Jumat 16 Desember 2016. Dengan mantap ia mengatakan bahwa sampai Oktober 2016, setidaknya ada 75 bank ditutup.

Alasan Penutupan Bank

Suwandi menyatakan bahwa bank yang telah selesai proses likuidasinya, setidaknya terdapat 63 Bank. Namun Bank yag telah dicabut izin usahanya didominasi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yakni sebanyak 69 unit dan bank umum sebanyak satu unit dan BPR Syari’ah sebanyak 5 unit.

Tutupnya 75 bank dimaksud, menurutnya, terjadi lebih karena lemahnya implementasi Good Corporate Governance (GCG) dalam melakukan aktivitas bisnis perbankan. Hal ini dapat dilihat dari Fraud yang dilakukan pemilik, pengurus, pegawai dan atau pihak lain yang terlibat dalam suatu perbankan Inilah yang menyebabkan jatuh bangun dalam mempertahankan usahanya.

“Dari data LPS dimaksud, simpanan yang layak dibayar nilainya lebih dari Rp 1 triliun rupiah. Setelah memperhitungkan nilai maksimum penjaminan LPS dan set-off terhadap pinjaman. Dia menyebut bahwa LPS hanya membayarkan Rp 834,26 miliar. Sisanya tidak memenuhi persyaratan untuk dibayar. Inilah persoalan serius yang dihadapi perbankan nasional Indonesia belakangan ini.

Penulis melihat bahwa fenomena tutupnya bank yang dalam hal ini didominasi BPR itu, setidakmnya menunjukkan adanya indikator melemahnya ekonomi nasional. Hal ini sangat terasa bagi pelaku ekonomi, yang salah satu alat ukurnya terlihat dari melemahnya daya beli masyarakat.

Akibat melemahnya daya beli masyarakat dimaksud, secara langsung akan berdampak gagal bayarnya nasabah terhadap kewajiban-kewajiban cicilan, termasuk ke dunia perbankan. Terlebih BPR yang dilihat dari suku bunganya pasti lebih tinggi dibandingkan dengan bank umum. (TLY)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.