Dampak Tidak Adanya Hubungan Penundukan Di Lembaga Pendidikan Islam

0 32

Tidak Adanya Hubungan Penundukan Di Lembaga Pendidikan Islam; Benar jika kita mengatakan bahwa lembaga pendidikan modern telah menafikan –sejak berabad-abad- hubungan penundukan. Menafikan aspek alam terhadap ibadah dan tidak adanya perasaan akan pentingnya dosa yang dilakukannya. Yakni ketika menafikan hubungan ini dan membatasi konsep dosa dalam pengertian agama dan etika. Ia menjustifikasi Muslim semua bentuk kekurangan dan dosa yang dilakukannya dalam bidang aspek alam terhadap ibadah.

Kitab-kitab para penafsir tidak menginspirasikan penjelasan terhadap ayat—ayat yang mengarahkan kepada hubungan penundukan. Yakni dalam bentuk kesungguhan dan kerja keras Muslim. Hal dimaksud untuk menemukan hukum-hukum yang mengatur aspek-aspek alam dan eksistensi-eksistensi yang ada di dalamnya. Akan tetapi hanya memahami makna-makna yang dangkal yang dihasilkan oleh pengalaman yang terbatas. Yang diderita oleh Arab klasik sekitar kata, lafazh dan yang terkait dengan -penjinakan- yang dilihat oleh penglihatan yang dangkal. Seperti penjinakan kuda, unta dan lain-lain. Sementara perintah-perintah Tuhan mengarahkan manusia agar meneliti makna penundukan dan dimensi-dimensinya; di langit dan bumi dan semua aspek alam yang luas.

Di era modern lembaga pendidikan di dunia Islam modern tidak mampu mengambil hingga ke akar-akarnya. Pernyataan Qur`an tentang hubungan penundukan karena lembaga ini masih membatasi pada penyampaian pendidik aspek kemukjizatan bahasa dan sastra yang menghantarkan kepada ilmu “leluhur”. Dan melihat dengan penuh kehati-hatian dan keraguan yang sangat besar kepada ayat dakwah untuk melihat aspek kemukjizatan ilmiah terhadap Qur`an yang membentuk kemukjizatan modern.

Dampak Kelemahan Lembaga Pendidikan Islam Dalam Menjalankan Kewajibannya

Kelemahan lembaga ini untuk melaksanakan kewajibannya tersebut menyebabkan pada tiga dampak.

Lembaga Pendidikan Tidak Mampu Menghalau Berbagai Macam Pengetahuan Alam

Pertama, lembaga pendidikan tidak mampu –dan masih tidak mampu- menghalau berbagai macam pengetahuan alam. Juga pendidikan yang mulai datang ke dunia Islam pada awal abad modern. Ia membiarkan pintu terbuka bagi model-model pendidikan Barat berkembang biak. Menyebar dan memajukan ilmu-ilmu alam terlepas dari hubungan penundukan. Bahkan menyandang hubungan pemaksaan dan menguasai alam.

Oleh karena itu pendidikan di dunia Islam mengambil kelemahan pendidikan Barat dalam bidang ini. Sehingga pengajaran di dunia ini menghasilkan “para konsumtif”. Tidak kurang dari alumnus Barat yang “tidak produktif”. Ini semua menyebabkan pada meluasnya konsep konflik, konsumsi dan anti agama. Pendidikan berubah menjadi faktor ambiguitas alih-alih menjadi faktor pengembangan dan stabilitas.

Pembatasan Pada Ilmu Agama Dan Dikhotomi Antara Ilmu Agama Dan Ilmu Alam

Kedua, pembatasan pada ilmu agama dalam lembaga pendidikan Islam dan dikhotomi antara ilmu agama dan ilmu alam di lembaga pendidikan modern menyebabkan pada kemandulan kedua sistem pendidikan di dunia modern dan menghalangi kelahiran iman dan menghasilkan umat Mu’min karena iman yang diberikan Allah adalah bagi orang yang mengawinkan dalam diri mereka hakikat agama dengan hakikat alam dan sunnatullah menciptakan segala sesuatu secara berpasangan.

Dengan konsepsi ini dua generasi pertama dari kaum terdahulu menceburkan diri dalam bidang ilmu alam seperti menceburkan diri dalam bidang jihad militer dan mereka memberikan ilmu-ilmu ini apa yang menjadi haknya berupa harta, kesungguhan, penelitian dan penyelidikan ilmu-ilmu dari manapun sumbernya. Hingga masuk dalam diri mereka penyimpangan dalam mempergunakan perlengakapan kesadaran –pendengaran, penglihatan dan hati- di tangan seperti Mu’tazilah dan para ahli ilmu kalam yang membedakan dan melemparkan antara perlengkapan-perlengkapan ini dalam hal yang tidak ada kompetensi dan tidak ada gunanya.

Kelemahan Lembaga Pendidikan Islam Untuk Menginternalisasikan Hubungan Penundukan

Ketiga, kelemahan lembaga pendidikan di dunia Islam untuk menginternalisasikan hubungan penundukan juga  terbukanya aspek sosial terhadap ibadah sehingga menyebabkan keterbelakangan masyarakat Islam modern –baik secara keilmuan, kemasyarakatan dan teknologi- ini adalah hal yang memberikan kontribusi yang kuat pada terciptanya citra yang buruk terhadap Islam di hadapan non-Muslim. Qur`an memperingatkan akan arti penting keterbelakangan Muslim -dalam bidang alam dan sosial- dan pengaruh keteringgalan ini dalam memberikan pencitraan yang buruk terhadap Islam di hadapan non-Muslim, arti penting siksa dan penolakan mereka karena menjalankan seruan-Nya. Qur`an mmeberikan insturksi-instruksinya yang berkaitan dengan itu semua dalam bentuk memberikan perhatian akan bahaya dosa yang dilakukan Muslim ketika mereka membiarkan sebab-sebab kemrosotan dan keterbelakangan itu terjadi pada diri mereka. Di antaranya adalah firman yang berbunyi: رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir” (Al Mumtahanah [60]: 5).

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Komentar
Memuat...