Take a fresh look at your lifestyle.

Dapatkah Intuisi atau Wahyu Menjadi Sumber Ilmu? | Epistemology Part – 5

0 64

Konten Sponsor

 

Intuisi dan Wahyu. Bentuk lain yang sering disebut sebagai sumber ilmu pengetahuan adalah intuisi dan wahyu. Kelompok yang menganggap bahwa intuisi dan wahyu dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan, muncul dari mereka yang masih menjunjung tinggi peran Wujud tertentu di luar Dzat atau benda fisik yang tarnpak. Wujud yang eksistensinya tidak dapat dibuktikan alat indera manusia. Wujud itu, dalam bahasa Islam sering diterjemahkan dengan Allah

Pengakuan atas wahyu dan intuisi sebagai sumber ilmu, umumnya datang dari mereka yang berasal dari Timur. Ilmuan-ilmuan Timur, umumnya mengakui kalau wahyu dan intuisi dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan. Dalam banyak kasus, sumber pengetahuan yang demikian, bahkan harus dipandang mampu mengalahkan sumber pengetahuan lain, yakni yang empiris dan yang rasional.

Bagian ini, akan menjelaskan tentang wahyu, intuisi dan fungsi keduanya dalam memperoleh apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Kedua sumber ilmu pengetahuan ini, meski sering dianggap bersipat personal dan tidak mampu digeneralisasi, tetapi, agak sulit menafikan peran keduanya dilihat dari dampaknya terhadap tatanan hidup manusia.

Makna Wahyu

Wahyu sering diterjemahkan sebagai petunjuk suci kepada mereka yang suci. Prosesnya disampaikan secara sembunyi oleh wujud yang juga Suci dan Tersembunyi [Allah]. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al Qur’an surat An-Nisa [4]: 163 yang artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu, sebagaimana telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi sesudahnya. Karena itu, tidak salah jika ada yang menyebut wahyu sebagai berita langsung dari Allah kepada manusia yang terpilih.

Wahyu dapat disebut ilmu pengetahuan yang berguna bagi hajat hidup manusia di bumi. Ia turun sebagai bentuk “ketidakmampuan” manusia untuk menemukan apa yang disebut dengan kebenaran”. Dalam prosesnya, apa yang disebut dengan wahyu dimaksud, dilangsungkan melalui perantaraan Malaikat, ataupun bersipat langsung. Apa yang dialami Nabi Musa, adalah bentuk “komunikasi langsung Allah ” kepada seorang hamba terpilih. Hal ini, terekam dalam surat Al-A’raf [8]: 143 yang artinya:

“… Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau…”

Problemnya hari ini, dapatkah wahyu Tuhan tetap turun, sementara kenabian sudah berakhir bersama dengan berakhirnya kenabian Muhammad? Bagi banyak kalangan, wahyu tetap berlangsung dalam bentuknya yang berbeda, yakni ilham. Dalam makna ini, wahyu selalu akan turun dalam bentuknya khas seperti ilham gharizi. [informasi ghaib] yang dapat diberikan kepada manusia atau bahkan kepada binatang. Hal ini, sebagaimana difirmankan Allah dalam al Qur’an surat Al Nahl [16]: 68 yang artinya:

“Dan Tuhanmu telah mewahyukan (memberi instink) kepada lebah, supaya membuat (sarang-sarang) di bukit-bukit, di pohon-pohon, kayu dan di rumah-rumah yang didirikan (manusia).” 

Makna Intuisi

Intuisi sering diterjemahkan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu tanpa melalui proses penalaran rasional, dan pengalaman empiris sembelumnya. Karena itu, intuisi sering dimaknai sebagai sesuatu yang non intelektual. Sebut misalnya, jika ada seseorang yang tiba-tiba mampu memberikan jawaban atas masalah yang dia hadapi, padahal sebelumnya dia tidak tahu, darimana datangnya informasi itu. Informasi itu di luar kesadaran.

Intuisi dapat dianggap dapat menjadi sumber pengetahuan karena melalui intuisi manusia mendapati ilmu pengetahuan secara langsung.  Melalui intuisi, manusia secara tiba-tiba menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapinya. Eksistensi intuisi sebagai sumber ilmu, diakui juga Abraham Maslow dan bahkan oleh Nietzsche. Maslow misalnya menyebut intuisi sebagai peak experience (pengalaman puncak), sementara Nietzsche menyebut sebagai sumber ilmu yang paling tinggi. (Jujun S. Suriasumantri, 1982).

Nietzsche menyebut bahwa sifat intuisi sangat personal dan tidak dapat ditransformasi kepada manusia lainnya. Inilah yang menyebabkan mengapa oleh ilmuan Barat sering ditolak sebagai sebuah sumber ilmu. Sementara kebenaran ilmiah, dalam banyak hal, harus mampu digeneralisasi dan tentu sangat berbeda dengan kebenaran intuisi. Dengan demikian, menurut Nietzsche, sekalipun eksistensi intuisi diakui, tetapi ia tidak dapat diandalkan. la hanya dapat dijadikan hippotesis yang membutuhkan analisis lanjutan.

Kelemahan terpenting dari posisi intuisi sebagai sumber ilmu adalah adanya suatu kenyataan bahwa intuisi hanya berbentuk pengalaman personal atau individual. Karena ia bersifat pengalaman personal, maka pengalaman seseorang tentu tidak dapat digeneralisasi dan diikuti oleh orang lain. Padahal sifat ilmu yang paling penting adalah proses generalisasi. Di sini dan dalam konteks inilah, kelompok empiris dan rasionalis menolak intuisi sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Namun demikian, saintis Barat hari ini, mulai banyak yang mengakui eksistensi intuisi sebagai sumber ilmu. C.A. Qadir (1991) berpendapat bahwa adanya pengakuan filosofat Barat modern terhadap eksistensi intuisi sebenarnya baru terjadi akhir-akhir abad ke 20, setelah produk rasional dan empirik melahirkan sekularisme yang mekanistik.

Pola pengetahuan yang terlalu dan cenderung realitas, dan sama sekali tidak memberi tempat bagi ruh atau nilai dalam pengetahuan manusia. Realitas direduksi menjadi sebuah proses, waktu menjadi kuantitas dan sejarah menjadi suatu proses entelekhi tansenden. Pengetahuan yang dihasilkan dunia Barat kontemporer menjadi salah satu tantangan yang berat karena tercerabut dari akar dan kehilangan tujuan yang hakiki.

Relevansi Agama dan Ilmu Pengetahuan

Berbeda dengan intuisi, wahyu adalah pengetahuan yang didapati manusia melalui “pemberian” Tuhan secara langsung kepada hamba-Nya yang terpilih yang disebut Nabi dan Rasul. Agama menjadi kata kunci dalam wahyu. Ia memberi tahu mengenai kehidupan manusia saat ini dan proses eskatilogik yang akan diarungi manusia setelah kehidupannya di dunia. Agama menerangkan kepada manusia tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau maupun yang tidak terjangkau oleh manusia.

Agama bahkan dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi sumber keyakinan. Agama bisa menjadi informasi dan konfirmasi terhadap ilmu pengetahuan yang didapapti manusia. Edward O. Wilson berpendapat bahwa agama memiliki nilai penting dalam kehidupan manusia. Agama akan selalu dianggap bersifat tetap dan sulit untuk dikalahkan apapun. Wilson dalam hal ini menyatakan:

“Agama akan bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Ia akan menjadi suatu daya hidup bagi masyarakat. Agama bagi manusia, ibarat raksasa Anteus yang mendapat tenaga dari ibunya, yaitu bumi. Agama tidak dapat dikalahkan oleh mereka yang rnembuangnya. Kelemahan spiritual naturalisme adalah akibat tidak adanya sumber daya perdana yang sama spritualnya. Kendati mampu menjelaskan sumber- sumber biologis kekuatan emosional agama, sains dan filsafat, dalam perkembangannya tidak dapat memapfaatkan sumber- sumber tersebut. Teori evolusi yang menolak kehidupan setelah mati, hanya mampu ditunjukkan secara eksistensial bagi manusia. Penganut faham humanisme, tidak akan pernah dapat merasakan kenikmatan dan kesenangan sejati tanpa pertobatan spiritual dan ketaqwaan. Sejujurnya, ilmuwan tidak dapat berfungsi sebagai pendeta atau ulama”. (Donald B. Caine, 2004)

Stephen R. Covey (1997) menyebut bahwa, agama terlintas dan berada dalam relung hati dan perilaku keseharian manusia. Jadi menurutnya sekalipun manusia modern secara teoretik menolak agama, tetapi agak sulit untuk meyakinkan bahwa agama tidak dipakai manusia. Ia menyebut bahwa agama akan menuntun orang kepada perilaku positif dan menuntun manusia untuk bersatu dengan Tuhan yang Qudus. Agama akan menjadi sikap pandang dan keinginan untuk bersatu dengan wujud-Nya. Prof. Cecep Sumarna –bersambung