Dari Film Gangster Hingga Kekuasaan | Di Mana Kaum Pribumi Berpijak Part – 3

Dari Film Gangster Hingga Kekuasaan
0 101

Dari Film Gangster Hingga Kekuasaan. Di antara sekian banyak orang yang berdiskusi persoalan kebangsaan di pagi itu, kami, juga larut dalam perbincangan mengenai peran masyarakat Cina dalam dunia hiburan. Dan bagaimana bangsa Indonesia, sesungguhnya sudah lama dibikin tidak sadar, atas simpanan memory kolektifnya tentang Cina yang hebat karena peran-peran mereka dalam dunia hiburan yang memikat.

Melalui dunia hiburan, mereka berhasil mengakselerasi budaya bangsanya kepada dunia luar melalui dunia film. Akibatnya, banyak sekali bintang-bintang mereka yang demikian populer di Indonesia. Popularitasnya, bahkan sangat mungkin mengalahkan popularitas bintang film Indonesia.

Dari soal ini saja, kita mungkin tidak sadar bahwa, batok kepala kita akan dengan demikian mudah menyimpan keunggulan, kehebatan dan kedigjayaan mereka. Tentu apalagi transpormasi budaya, dalam lanskap budaya lokal mereka yang terus menjadi mendunia.

Sebut misalnya, siapa yang tidak kenal Jackie Chan. Aktor Cina bertubuh gempal, yang lahir di Hongkong, 7 April 1954 dengan tinggi badan sekitar 1,74 Centi Meter? Tentu sangat sedikit yang tidak kenal dia. Ia pastilah menjadi tokoh populer di Indonesia. Ia bukan saja tampil dalam film-film laga, tetapi, peran kontroversialnya yang kadang konyol.

Kita bahkan sampai hapal, kebiasaan peran Jackie Chan yang sangat kontras berbeda dengan peran Andy Lau. Sosok yang sikesankan selalu serius dalam setiap cerita, meski kadang romantisme cinta mengalahkan bintang lain.

Atau siapa yang tidak kenal Chow Yun Fat, aktor asal Hongkong, kelahiran 18 Mei 1955. Ia adalah sosok yang selalu tampil dalam kekalemannya yang sangat luar biasa. Ia mampu menyihir penonton dalam film-film laga dan kemampuan bermain kartu [judi]. Sehingga dikenallah dia sebagai sosok yang populer dengan sebutan God Gambler. Dialah sosok yang oleh para pemerhati sineas kelas dunia, sering disejajarkan denganAi??aktor asal Inggris bernama Cary Grant dan Alain Delon dari Perancis.

Peran mereka bukan hanya ditampilkan di layar lebar sejenis gedung film 21, tetapi, sangat marak ditampilkan dalam layar kaca [televisi]. Mereka masuk bukan hanya ke rumah setiap penduduk Indonesia, tetapi, bahkan ke kamar masing-masing orang Indonesia, tanpa meminta permisi sedikitpun kepada kita.

Tampak Mulai Berbeda

Jika sekarang ditanyakan siapa yang kenal [kalimat tanya terbalik] denganAi??Nancy Agram dan Elissa? Dua penyanyi yang suaranya dikenal masyarakat dunia dengan desah nafas yang mungkin malah mengalahkan Mariah Carey atau Marilyn Monroe. Nancy dan Elissa adalah penyanyi asal Arab atau berkebangsaan Arab ini, memiliki talenta suara yang sangat luar biasa. Tetapi, siapa di antara masyarakat Indonesia yang mengenalnya. Pasti ada, meski itu sangat minoritas atau sangat sedikit. Yang karena saking sedikitnya, dalam rumus statistika patut dianggap tidak ada.

Pertanyaan lain, siapakah aktor atau penyanyi Indonesia yang benar-benar at home di pemirsa Indonesia. Tentu sangat banyak, meski prosentasenya, kebanyakan di antara mata dan memory kita, justru dihabiskan untuk menonton dalam banyak kasus, pemain-pemain asing, termasuk asal Cina tadi.

Kita hanya patut bersyukur dalam beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa aktor yang dibesarkan melalui berbagai film yang dibesut Sutradara Setiawan Hanum Bramantyo. Film yang justru secara natur mengungkap fenomena lokal Indonesia, yang kemudian membuncah menjadi sebuah lakon global dunia. Jika dalam beberapa tahun terakhir, tidak tampil sosok-sosok revolutif dalam konteks bintang film tadi, maka, sangat mungkin bintang film Indonesiapun, karam dan tenggelam.

Dalam soal ini, peran warga Indonesia keturunan Arab, tentu akan merasa hal di atas menjadi sebuah ancaman. Bukan soal negara Cina-nya yang jaraknya ribuan mil dari Indonesia. Tetapi, peran-peran mereka dalam mengkonstruk dunia, termasuk melakukan konstruksi Indonesia dianggap memiliki resistensi terhadap dirinya secara panjang dan mendalam.

Jangan tanya lagi soal perkebunan cengkih, tembakau atau keperluan rempah-rempah lain. Termasuk jangan ditanya soal penguasaan penyediaan kain dalam industru textil. Produk-produk dimaksud, di masa lalu dikuasai kaum santri yang secara sosiologis, kultural dan bahkan ideologis lebih dekat dengan apa yang dimaksud dengan bangsa atau keturunan Indonesia Arab. Mayoritas kalau bukan sama sekali, habis dikuasai Cina.

Sembilan Naga yang menjadi simbol keperkasaan Cina Indonesia, sering juga dituduh berada di balik berbagai rekayasa politik dan ekonomi Indonesia. Benar tidaknya, kita nggak tahu! Bahkan benar-benar ada atau tidak, apa yang disebut dengan Sembilan Naga, kita juga tidak tahu.

Mencari Makna

Tetapi, dari sini, saya hanya mampu merumuskan bahwa memang, karakter kita selalu lebih senang, lebih merasa enjoy atau merasa ada sesuatu yang berharga di luar atau berasal dari luar. Ini soal budaya dan soal mental. Soal sikap dan soal keberpihakan. Keberpihakan tentu dalam pengertian bukan rasis, tetapi, prioritas mana dan di mana serta bagaimana seharusnya kita bergerak dan berjuang. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

 

Komentar
Memuat...