Dari M. Roem Kita Belajar Hidup | Tokoh Politik Islam Indonesia Part 5

Karir Politik M. Roem Tokoh Politik Islam Indonesia Part 5
0 43

Pada 18 Maret 2017, pukul 12.33, penulis membaca suatu tulisan berjudul Mohamad Roem, pemimpin tanda dendam. Tulisan tersebut diposted Kopral Cepot, 17 Juni 2009, di Kompas.com. Tulisan ini menginspirasi penulis atas tulisan sebelumnya, yang sedang menulis beberapa tokoh dan politisi Muslim di awal-awal kemerdekaan Indonesia.

Dalam tulisan dimaksud, disebutkan bahwa jiwa nasionalisme Indonesia Roem bangkit sejak dia belajar di HIS. Pada waktu itu, ia dihardik murid Belanda sebagai orang pribumi. Ia merasa dirinya terhina dan terlecehkan. Belum lagi, ia juga membaca berbagai papan larangan di gedung-gedung bioskop dan di rumah makan, yang mengharamkan orang pribumi masuk dan menikmatinya.

Penghinaan itu terasa semakin menyiksa saat suatu waktu ia sedang istirahat di sekolah. Tiba-tiba ada seorang murid Belanda yang mendorong-dorong tubuhnya sambil mengolok-olok. “Inlander! Inlander!” Akibat dorongan itu, Roem jatuh terjerembab. Tapi ia segera bangkit lalu ia mengejar anak Belanda itu. Setelah tertangkap, Roem meninju perutnya, hingga muntah-muntah. Inilah perisriwa yang tidak mampu dia lupakan sampai akhir hayatnya.

Selalu Mengabdi untuk Umat

Kembali ke tulisan Kopral Cepot, disebutkan bahwa ia adalah pemimpin tanpa dendam. Mereka tampil dalam keakuannya sendiri sebagai pemikir, sekaligus pemimpin bangsa yang cerdas. Kecerdasan mereka, sebagaimana dapat dibaca dari tulisan itu adalah, kesanggupan dia untuk tidak dendam atas apa yang terjadi kepada dirinya.

Roem sempat ditembak Belanda di Kwitang. Ia cacat sampai akhir hayatnya. Di zaman awal Orde Baru, yakni Presiden Soeharo, ia juga “disakiti”. Ia yang menjadikan Masyumi sebagai Partai Politiknya, menunjuk dirinya menjadi ketua umum Parmusi saat berlangsung musyawarah di Malang tahun 1968. Soeharto tampaknya tidak rela kalau Partai dimaksud dipimpin Roem. Sejak saat itu, ia istirahat di bidang politik sampai akhir hayatnya. Beliau wafat tanggal 24 September 1983 dalam usia 75 tahun.

Rocky Gerung, Dosen Filsafat UI, dikutif dari tulisan tersebut adalah  apa yang disampaikan Soekarno ketika menanggapi kritik pedas yang dilakukan Sutan Sjahrir. Soekarno mengatakan: ”Kalau saya ini seperti rotan. Rotan itu melengkung, tetapi tidak patah karena ditekan”. Para pemimpin itu harus memiliki kecerdasan. Salah satu ciri kecerdasan itu adalah kemampuannya dalam membuat metafora.

Kemampuan metaforis itu pula yang dimiliki Mohamad Roem. Ia adalah Menteri Luar Negeri Indonesia dalam kabinet Natsir dan wakil perdana menteri era Ali Sastroamdjojo. Ia tidak pernah menyimpan rasa dendam, termasuk kepada Soekarno yang memenjarakannya di Madiun. Ia memang menyebut Soekarno oligarkis dan feodal. Tetapi, ia tetap rukun membela kepentingan masyarakat Indonesia. Roem malah mengatakan bahwa dalam politik, kalah dan menang itu hal yang biasa. Perbedaan tajam tidak mengurangi hubungan baik antar peribadi mereka.

Meski publik tetap menyebut Roem tidak secerdas Sutan Sjahrir, namun bukan berarti perannya dalam konteks mempertahankan kemerdekaan kecil. Dalam banyak hal, bahkan perannya sangat luas dan banyak. Adakah Indonesia hari ini melahirkan pemimpin seperti M. Roem? Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...