Datang dan Pergi dalam Kuasa Tuhan | Hikmah Hidup

0 22

Datang dan Pergi dalam Kuasa Tuhan Hikmah Hidup. Gembira karena bisa datang, harus diiringi dengan kesanggupan untuk memiliki kesenangan karena suatu waktu kita pasti akan pergi. Pergi meninggalkan apapun yang kita miliki atau kita kuasai. Kebahagiaan karena bergembira akan segala capaian yang diraih, harus diiringi dengan kesanggupan untuk bahagia, saat bersedih.

Memang layak bangga, jika banyak pihak memandang kita dengan sejumlah senyum. Meski, harus juga sadar, akan selalu ada manusia yang tetap kecut, sekalipun kita berada dalam posisi yang sangat bersahaja. Senyuman dan tampilan kecut tidak harus memusingkan. Semuanya harus tetap dilayani sebagai obat hati yang mampu menjaga segenap ketulusan kita sebagai manusia.

Kita memang layak bangga saat dilimpahi sejumlah kelahiran baru dalam bidang apapun. Anak atau cucu kita dan berbagai aspek lain di sekitar kita dalam segenap kebaikan, harus dipandang sebagai kelahiran indah. Tetapi, kebanggaan itu, harus juga diiringi dengan kesanggupan untuk tetap bangga saat kematian datang menyapa. Menyapa saudara kita, anak kita dan keluarga serta kerabat kita semua. Kita tetap harus menyampaikan kata salam atas semua apapun yang datang menghampiri tanpa kecuali.

Kita memang mesti tabah saat Tuhan menguji kita karena kita diberi amanah tambahan sebagai sosok yang harus melindungi, mengayomi dan memberi perlindungan. Perlindungan atas apapun yang menjadi asuhan kita yang dalam tata laksana moderen sering disebut sebagai pemimpin. Mengapa demikian? Sebab jika kita tidak tabah, kita akan semakin repot ketika menjalani hidup dalam posisi yang sebaliknya. Secara sosiologis, yang menjabat dan yang dijabat, selalu mengantri seperti sebuah barisan. Itu semua pasti ada akhir dan memutar seperti krambol kehidupan.

Biasakan Hidup Wajar

Yang hendak masuk tak perlu terlalu bahagia, karena banyak pihak yang justru bahagia saat akan ke luar. Manusia selalu melewati fase tertentu, karena kita tidak mungkin abadi dalam satu status yang sama. Kita pasti berubah dan berganti haluan. Karena itu, sejatinya kita tak memiliki assa untuk bahagia selamanya, atau sedih untuk selamanya juga. Biarlah alam memutar roda-nya, agar perjalanan yang kita lewati dapat kita nikmati.

Bagaimana kalau ada penguasa yang so berkuasa. Biarkan saja …. toch yang maha kuasa adalah Tuhan. Ia berarti telah mengambil alih peran Tuhan dan yang membalasnya pasti Tuhan juga. Kondisi itu selalu berada di luar kategori historis kita sebagai manusia. Wilayahnya menjadi wilayah Tuhan. Mengapa harus sedih dan mengapa harus meratap saat kita menyaksikan situasi itu terjadi. Jalan dan biasa saja semuanya…. toch semu ada kalimat sakti yang pasti difirman Tuhan. By. Prpf. Cecep Sumarna.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.