Definisi Pendidikan Dan Pemahaman Pendidikan

Definisi Pendidikan Dan Pemahaman Pendidikan
0 773

Perubahan perilaku bagi manusia adalah tujuan akhir dari segala yang diupayakan dalam proses pendidikan. Untuk menuju kepada perubahan tersebut, setidaknya terlebih dahulu harus membahas wacana makna pendidika, manusia dengan berbagai wacana yang melingkupinya dan pendekatan terhadap perubahan perilaku manusia. Setelah itu baru merenungkan beberapa statemen tentang hubungan logis antara  urgensi pendidikan dan perubahan perilaku (moral). Tulisan ini tidak memfokuskan pada justifikasi ilmiah tentang urgensi moral dalam pendidikan, tetapi akan melihat bagaimana signifikansi pendidikan terhadap perubahan perilaku (moral).

Definisi Pendidikan Dan Pemahaman Pendidikan

Banyak ahli telah membahas definisi “pendidikan”, tetapi  mengalami kesulitan dalam mencari keselarasan  yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti; banyaknya jenis kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai kegiatan pendidikan, luasnya aspek jangkauan pendidikan serta   pendidikan terkait erat dengan aspek psikologis. Akhirnya perumusan definisi pendidikan berpengaruh dengan subyektifitas masing-masing. Di antara difinisi-difinisi tersebut adalah:

Pendidikan adalah bimbingan atau pemimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, jasmani maupun ruhani, menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Ahmad Marimba: 1998: 19).

Menurut definisi ini pendidikan hanya terbatas pada pengembangan pribadi anak didik yang dilakukan oleh pendidik. Sementara interaksi alam dan lingkungan kurang diperhitungkan. Dalam hal ini pendidikan menjadi sempit, hanya dilakukan di sekolah, lembaga formal dan hanya untuk usia anak.

Pendidikan adalah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya,  baik oleh diri sendiri, lingkungan dan orang lain, baik  aspek jasmani, akal, dan hati (Ahmad Tafsir: 1999: 27).

Dalam konteks ini,  tugas pendidikan bukan sekadar meningkatkan  kecerdasan intelektual,  tetapi juga mengembangkan seluruh aspek kepribadian anak didik. Definisi inilah yang dikenal dengan istilah tarbiyah, di mana peserta didik bukan hanya sekedar orang yang mampu berfikir, tetapi juga orang yang belum mencapai kedewasaan. Dalam hal ini, pendidikan  tidak dapat diidentikkan dengan pengajaran.

Pendidikan adalah tuntunan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka kelak menjadi manusia dan  anggota masyarakat yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. (Abu Ahmadi: 1991: 99)   

Definisi-definisi di atas, ada yang mengkhususkan pendidikan hanya untuk anak yang hanya dilakukan oleh lembaga/institusi khusus dalam rangka mengantarkan kepada masa kedewasaan. Tetapi ada juga yang menjadikan  pendidikan berlaku untuk semua orang yang dapat dilakukan oleh semua orang bahkan lingkungan. Keduanya memiliki kesamaan tujuan yaitu untuk mencapai kebahagiaan dan nilai kemanusiaan yang tinggi.

Simpulan

Definisi-definisi tersebut dapat disederhanakan bahwa pendidikan adalah;  seluruh aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik terhadap semua aspek perkembangan kepribadian, baik jasmani maupun ruhani, secara formal, informal maupun non formal yang berjalan terus menerus untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi, baik nilai insaniyah maupun ilahiyah pada diri manusia.

Dalam hal ini, kegiatan pendidikan dapat dilakukan oleh tiga kelompok yaitu; diri sendiri, lingkungan (alam) dan orang lain.  Jangkauannya mencakup tiga wilayah; yaitu jasmani, akal dan hati. Sementara  tempatnya juga mencakup tiga wilayah yaitu; rumah, sekolah dan lingkungan.

Dalam konteks di atas, pendidikan berarti upaya menumbuhkan kepribadian serta menanamkan rasa tanggung jawab. Fungsi pendidikan terhadap diri manusia laksana makanan yang berfungsi memberi kekuatan, kesehatan dan pertumbuhan, sebagai persiapan untuk mencapai tujuan hidup secara efektif dan efesien” (Azyumardi: 199: 4). Oleh karenanya, sistem dan tujuan pendidikan bagi suatu masyarakat tidak dapat diimpor atau diekspor dari atau ke suatu masyarakat.

Pendidikan harus timbul dari dalam masyarakat itu sendiri, ia seperti halnya pakaian yang harus diukur dan dijahit sesuai dengan bentuk dan ukuran pemakainya. Ia berdasarkan identitas, pandangan hidup, serta nilai-nilai yang ada pada masyarakat itu sendiri (M.Quraish Shihab: 1999: 173). Dr. Ahmad Munir, M.Ag. Dosen STAIN Ponorogo

 

Komentar
Memuat...