Definisi Perusahaan Keluarga Dan Kesuksesannya

0 482

Definisi Perusahaan Keluarga Dan Kesuksesannya – Dalam terminologi bisnis, perusahaan keluarga terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah family owned enterprise (FOE), adalah perusahaan yang dimiliki oleh keluarga namun dikelola oleh profesional yang berasal dari luar lingkaran keluarga. Keluarga hanya berperan sebagai pemilik dan tak melibatkan diri dalam operasi di lapangan. Perusahaan jenis ini merupakan bentuk lanjutan dari usaha yang semula dikelola oleh keluarga yang mendirikannya.

Jenis perusahaan keluarga yang kedua yaitu family business enterprise (FBE), adalah perusahaan yang dimiliki serta dikelola oleh keluarga pendirinya. Perusahaan tipe tersebut dicirikan oleh dipegangnya posisi-posisi kunci dalam perusahaan dari anggota keluarga. Jenis perusahan keluarga inilah yang banyak terdapat pada Indonesia.

Batasan lain tentang perusahaan diberikan oleh John L. Ward dan Craig E. Arnoff. Menurutnya, suatu perusahaan dinamakan perusahaan keluarga apabila terdiri dari dua atau lebih anggota keluarga yang mengawasi keuangan perusahaan. Sedangkan menurut Robert G. Donnelley dalam bukunya “The Fanily Business” suatu organisasi dinamakan perusahaan keluarga apabila paling sedikit ada keterlibatan dua generasi dalam keluarga itu dan mereka mempengaruhi kebijakan perusahaan.

Perbedaan Besar Antara Dunia Bisnis dan Dunia Keluarga

Dunia bisnis dan juga dunia keluarga memang memiliki perbedaan yang amat curam. Jelas, dalam sebuah keluarga kepentingan keluarga akan mengalahkan berbagai kepentingan yang lain. Padahal, perusahaan menuntut sikap yang profesional. Termasuk dalam masalah kompensasi atau pembagian keuntungan.

Perusahaan profesional akan mendasarkan pemberian gaji pada nilai pasar serta riwayat kerja (kinerja) seseorang. Sedangkan keluarga mendasarkan pemberian gaji kepada kebutuhan. Di sini terlihat betapa keluarga memiliki standar yang tak jelas.

Dari masalah-masalah yang sering muncul dalam bisnis keluarga, terutama untuk masalah profesionalisme, akhirnya muncul mitos, “generasi pertama membangun, generasi kedua yang menikmati, dan generasi ketigalah yang menghancurkan”. Dan, ABS sengaja membahas masalah kepemimpinan dalam perusahaan keluarga, masalah konflik yang sering terjadi pada bisnis keluarga, suksesi, kompetensi, dan budaya dalam perusahaan keluarga sebagai tawaran paradigma baru dalam bisnis keluarga. Semua ini tak lain sebagai counter attack terhadap mitos: “generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan juga generasi ketiga menghancurkan”.

5 Paradigma Bisnis Keluarga

Dengan adanya perubahan pasar serta persaingan, muncul lima paradigma baru dalam lingkungan intern bisnis keluarga. Pertama, karyawan merupakan generasi baru yang berbeda dengan pendiri perusahaan. Yang perlu diperhatikan dari pengelola bisnis keluarga, karyawan yang memiliki tingkat pendidikan tinggi (karyawan tingkat atas) mengharapkan adanya transparasi. Dan juga, karyawan tingkat bawah memiliki keberanian untuk melakukan berbagai tuntutan.

Paradigma kedua, meningkatnya isu-isu yang berkaitan dengan perburuhan, pemogokan, dan yang lain-lain. Ketiga, tingkat profesionalitas keluarga sudah mulai meningkat. Keempat, tuntutan adanya kompensasi yang adil dan sama (fair and equiptable compensation) baik melalui sistem kompensasi yang dikaitkan dengan kompetisi, kinerja, ataupun kontribusi. Dan yang kelima, yang terakhir, lebih transparannya sistem organisasi (halaman 39).

Masalah terpenting keberlanjutan bisnis keluarga adalah masalah suksesi. Suksesi memang bukan satu-satunya penentu kelanggengan dalam bisnis keluarga. Tapi, mau tak mau generasi pendahulu harus memberikan tongkat estafet perusahaan untuk generasi berikutnya. Suksesi tidak hanya berarti pata tingkat pimpinan dan managerial saja, termasuk pada berbagai kebijakan perusahaan.

Terdapat tujuh langkah dalam melakukan suksesi perusahaan keluarga: mengevaluasi struktur kepemilikan; mengembangkan gambaran struktur yang diharapkan setelah suksesi; Mengevaluasi keinginan keluarga; mengembangkan proses pemilihan, melatih dan juga memonitoring penerus masa depan; Melakukan aktivitas team building dari keluarga; Menciptakan dewan direksi yang efektif; Yang terakhir, memasukkan penerus pada saat yang tepat, yaitu ketika pendiri berusia 50 tahun dan penerus berusia 30 tahun.

Disarikan dari Buku Family Business karangan A.B. Susanto d.k.k

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.