Delapan Istilah Kebahagiaan Dalam Al-Qur’an

0 1.964

Pandangan Al-Qur’an Tentang Kebahagiaan

Ada delapan istilah dalam al-Qur’an yang memiliki indikasi makna dengan istilah kebahagiaan yang diterjemahkan dengan istilah al-falâh. delapan istilah tersebut adalah al-farah, al-thayyib, al-sakinah, al-surur, al-Sa’adah, al-na’im/ al-na’ma’, l-fauz dan al-hana’. Kedelapan istilah tersebut akan dijelaskan lebih dahulu sebelum menjelaskan kata al-falâh. Hasil dari pemaparan data ini digunakan untuk membahas makna atau konsep kebahagiaan dalam al-Qur’an  yang diungkapkan dengan kata al-falah. Baik sebagai penguat, penegas, maupun sebagai pembanding dan pembatas.

 1. Al-Farah (الفرح)

Secara bahasa kata al-farah yang berasal dari derivasi kata yang terdiri dari huruf  fa-ra-ha, adalah konisi dan perasaan yang bebas dari suatu beban. Kata ini diantitesakan dengan kata huzn (sedih).[1] Dalam konteks ini, kata alfarah tidak menunjuk pada sesuatu, tetapi menunjuk pada kondisi dari sesuatu.  Oleh karenanya, ketika al-Qur’an menyuruh untuk merasa bergembira, adalah terhadap hal hal yang patut dibahagiakan, yaitu rahmat dan anugerah ilahi.[2]  Kadang kadang  al-Qur’an  melarang untuk bergembira.[3] Tentu yang dilarang hal hal yang justeru akan menyebabkan kesediahan. Salah satunya adalah kesenangan yang dilebih lebihkan. Karena bisaanya kesedihan yang berlebihan berhimpit dengan kesediahn. Al-Râghib mengartikan kata al-farah adalah kondisi kelapangan dada yang disebabkan oleh kenikmatan yang bersifat sesaat. Oleh karenanya, hal yang dikategorikan kegembiraan adalah hal hal ytang berkaitan dengan kenikmatan materi atau inderawi.[4]

Di dalam al-Qur’an, kata al-farah dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak 22 kali. 16 kali dalam bentuk verba (fi’l), dan enam kali dalam bentuk nomina (ism).[5] Al-Qur’an ketika menyebut kata al-farah menggambarkan kondisi psikologi manusia ketika merasakan kesenangan. Akan tetapi kesenangan tersebut lebih disebabkan karena faktor materi atau faktor inderawi. Dalam hal ini, maka kata al-farah dapat dikontekkan dalam dua hal, yaitu terhadap hal yang diridlai oleh al-Qur’an dan dalam hal yang diingatkan oleh al-Qur’an.

2. Al-Thib/al-Thayyib (الطِّيْب/الطّيَِّب)

Secara bahasa kata al-Thîb/al-Thayyib (الطِّيْب/الطّيَِّب) berasal dari susunan huruf tha’- ya’-ba . Ujaran tersebut ketika digabung dan dalam bentuk kata kerja (fi’l) membentuk kata thâba (طَابَ) yang berarti bersih, dan membaik. Dan jika dalam bentuk kata benda (ism) berbentuk thayyib (طَيِّب) atau thîb (طِيْب) yang berarti kebaikan, keindahan dan kenyamanan yang bebas dari hal hal yang mencederai.  Dari kata berbentuk thayyib (طَيِّب) atau thîb (طِيْب), berubah menjadi kata thûbâ (طُوْبَى) yang berarti kebaikan dalam kehidupan yang menghantarkan pada kondisi keselamatan, kesenangan dan kebahagiaan.[6]

Di dalam al-Qur’an,  kata thûbâ (طُوْبَى) hanya disebut satu kali. Hanya saja kata ini memiliki derivasi yang disebut sebanyak 50 kali yang berasal dari kata thâba atau kata thayyib.[7]  Penyebutan penyebutan tersebut dituangkan dalam beberapa konteks, tetapi secara garis besar adalah konteks kehidupan. Seperti konteks rizki dan berkonsumsi,[8] konteks pernikahan, keluarga dan keturunan,[9] konteks tempat kehidupan dan alam lingkungannya, dan konteks bersistem sosial.[10]

3. Sakinah (سَكِيْنَة)

Kata sakînah (سَكِيْنَة) berasal dari huruf sin – kaf – nun yang membentuk ujaran sakana, yang berarti tenang.  Pisau disebut sikkîn (سِكِّيْن), karena binatang yang disembelih dengan pisa setelah darah mengalir dari sembelihannya ia akan tenang tidak bergerak lagi. Tempat yang dijadikan tempat tinggal  semula disebut   maskan (مَسْكَن). Orang yang  menempati daerah sebagai tanah airnya disebut sukkân (سُكَّان). Orang yang tidak mampu menyikapi kehidupan dengan mandiri    akibat karena kelemahannya, disebut miskin (مِسْكِين).[11] Kata sakînah dikategorikan sebagai bagian dari terminology kebahagiaan, karena orang yang bahagia cenderung bersifat dan bersikap tenang, baik secara lahir maupun secara batin. Dari ketengan inilah akan nampak dan datang kebahagiaan. Waktu malam disifati dengan sakanan (سَكَناً), karena waktu itu manusia sedang istirahat dan tenang.[12]

Di dalam al-Qur’an kata sakana dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak 70 kali.[13] Dalam konteks ini, yang akan dibahas adalah bentuk sakînah (سَكِيْنة). Karena makna dari bentuk kata ini yang dianggap memiliki kedekatan makna dengan terjemahan makna bahagia. Term sakînah yang dikategorikan sebagai terma yang menunjuk kebahagiaan, memberikan pemahaman bahwa kebahagiaan dalam konteks ini adalah berdasar pada ketenangan hati dan sikap. Ketenangan hati dan sikap tersebut didasarkan pada totalitas keyakinan dan komitmen terhadap petunjuk dan ajaran yang harus dipedomani.

4. Surur (سُرُوْر)

Kata surûr (سُرُوْر) berasal dari kata sirr (سِرّ) yang berasal dari kumpulan huruf sin-ra-ra, menyembunyikan sesuatu dengan segala hal yang ada dalam kedalamannya. Lawannya adalah terang, terbuka dan diumumkan (إعلان). Nikah kadang kadang disebut dengan sirr (سِر), karena nikah sesuatu yang tidak dibukakan kepada orang lain.[14]  Malam yang gelap karena bulan tidak nampak pada peredarannya disebut dengan sirâr (سراَر). Kata sirr (سِر) juga bermakna tersembunyi. Dalam konteks ini, al-sirr (سِر) berarti inti atau sari dari sesuatu. Huruf sin-ra-ra, ketika berbentuk tuturan sarara atau berubah menjadi asarra (أَسَرَ) berarti rahasia. Akan tetapi jika huruf tersebut berbentuk ujaran sarra (سَرَّ) berarti menyenangkan atau membahagiakan.

Di dalam al-Qur’an,  derivasi kata sarra (سَرَّ) yang berarti menyenangkan atau membahagiakan diulang sebanyak enam kali. Satu kali berbentuk verba (تَسُرُّ) yang dikaitkan dengan keindahan, dan lima kali berbentuk nomina yang terdiri dari tiga kali dikaitkan dengan kata infâq dan memberi makan kepada orang yang kelaparan, dan dua kali berkaitan dengan balasan dari amal perbuatan.

5. Sa’adah (سَعَادَة)

Kata  sa’âdah (سَعَادَة) berasal dari huruf  sin-a’in-dal, yang menunjuk pada makna kebaikan dan kesenangan. Dalam konteks ini, kebahagiaan diindikasikan dengan dua hal yaitu; adanya kebaikan dari suatu materi kehidupan dan adanya kesiapan jiwa dalam mengapresiasi materi kehidupan tersebut. Pertemuan antara dua hal tersebut menghasilkan sebuah nilai yang disebut dengan kebahagiaan.[15] Al-Râghib mengartikan kata sa’âdah adalah pertolongan dari Allah bagi manusia dalam mendapatkan atau meraih suatu kebajikan. Lawannya adalah saqâwah.[16] Dari makna dan definisi tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan yang ditunjuki dengan istilah sa’âdah terkait dengan suatu kebaikan, dan kebaikan tersebut terkait dengan campur tangan Allah dalam mendapatkannya. Al-Qur’an, menyebut kebahagiaan dengan istilah yang berasal dari derivasi kata sa’ada sebanyak dua kali dalam satu kontek yang terdapat dalam satu surat, yaitu surat Hûd/11: 105 dan 108.

Ayat tersebut sebagai acuan hasil yang akan diraih oleh masing masing orang setelah ia menjalani kehidupan di dunia ini.[17] Karena informasi ini berkaitan dengan hasil yang belum terjadi dan hanya akan terbukti di hari akhir nanti, wajar jika al-Qur’an tidak banyak mebicarakannya. Hal ini berbeda dengan konsep konsep lain yang terjadi dalam kehidupan di alam nyata ini.

6. Na’im/Na’mâ’ (نَعِيْم/نَعْماَء)

Secara bahasa, kata na’îm atau na’mâ’ (نَعِيْم/نَعْماَء) berasal dari huruf nun-‘ain-mim. Yang berarti kemakmuran, kelimpah-ruahan, serta kenyamanan. Dari susunan huruf nun-‘ain-mim tersebut, muncul kata ni’mah (نِعْمَة) yaitu apa yang diberikan oleh Allah kepada manusia baik berupa materi maupun kehidupan itu sendiri. [18] Menurut al-Râghib, ni’mah (نِعْمَة) adalah kondisi yang paripurna yang dirasa oleh manusia dalam kehidupan. Dalam hal ini, nikmat tidak selalu identik dengan materi, tetapi lebih pada kondisi jiwa dan psikologi. Jika kata ni’mah berbentuk ni’ma (نِعْمَ), dipakai untuk memuji sesuatu yang berkaitan dengan kondisi. Lawannya adalah bi’sa (بِئْسَ) yang digunakan untuk menunjukkan kondisi yang tidak nyaman atau tidak baik. [19]

7. Fauz (فوز)

Kata fauz (فوز) berasal dari derivasi huruf fa-wau-za’, yang memiliki dua makna yang bertolak belakang. Yang pertama bermakna keberuntungan, keberhasilan dan kemenangan. Sementara makna yang kedua menunjuk pada kerugian dan kehancuran. Orang yang berhasil dan sukses disebut fâ’iz (فائز).[20]

Di dalam al-Qur’an, derivasi huruf fa-wau-za’ diulang sebanyak 29 kali, tiga kali dalam bentuk verba (fi’il) dan 26 kali berbentuk nomina (ism).[21] Dalam bentuk verba, dua kali disebut berbentuk lampau (mâdli),[22] dan satu kali dalam bentuk sedang (mudlâri’).[23]

8. Hanâ’ah (هَناَءة)

Secara bahasa kata al-hanâ’ adalah tercapainya suatu kebaikan tanpa ada kesusahan yang berarti.[24] Atau atau sesuatu yang tidak mendapatkan hambatan atau rintangan.[25] Ketika kata tersebut berbentuk hnî’ menunjuk pada makna “penyelesaian suatu masalah tanpa adanya kesusahan”. Di dalam al-Qur’an, derivasi kata al-hanâ’ diulang sebanyak empat kali.[26] Seluruhnya dikaitkan dengan perintah untuk  makan (كُلُوا). Sebagai contoh  Q.S. Al-Hâqqah: 24. Selanjutnya Baca: Makna Kebahagiaan

Oleh: Ahmad Munir (Baca: Biografi Ahmad Munir)

Catatan Kaki:


[1] Abî al-Fadl Jamâl al-Dîn, Muhammad bin Mukarram bin Mandzûr,, Lisân al-‘Arab (Kairo: Dâr al-Hadîts, 2003), J. 7, h. 51

[2] Lihat Qs. Ali ‘Imrân/3: 170:

فَرِحِينَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

[3] Lihat Qs. Al-Qashash/28: 76:   لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

[4] Al-Râghib al-Asfahânî,  Mu‘jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân,  (Beirut Libanon: Dâr al-Fikr, tt), h. 389.

[5]Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqî, Al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm, (Beirut, Dâr al-Fikr: 1992), h. 653.

[6] Ibn Mandzûr, Lisân,.. J.5, h. 586

[7] ‘Abd. Al-Bâqî, Al-Mu’jam,… h. 548

[8] Lihat Qs. Al-Baqarah/2: 57, 168, 172, al-Mâ’idah/5: 4, 5, 88, al-A’râf/7: 32

[9] Lihat Qs. Alu ‘Imrân/3: 38, al-Nisâ’/4: 3, 4,

[10] Qs. Al-Baqarah/2: 267, Alu ‘Imrân/3: 179, al-Nisâ’/4: 2, al-A’râf/7: 58, al-Taubah/9: 72.

[11] Ahmad bin Fâris bin Zakariyyâ,, Mu’jam al-Maqâyîs fî al-Lughah,  (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), h. 486

[12] Lihat Q.S. Al-An’âm/6: 96

[13] ‘Abd. Al-Bâqî, Al-Mu’jam,… h. 448

[14] Lihat Q.S. Al-Baqarah/2: 235

[15] Ibn Fâris, Al-Maqâyîs,… h.480.

[16] Al-Râghib, Mufradât,… h. 238.

[17] M.Quraish Shihab, Al-Mishbah,… Vol. 6, h.337

[18] Ibn Fâris, Al-Maqâyîs,… h.1035.

[19] Al-Râghib, Mufradât,… h. 521.

[20] ‘Ibn Fâris, Al-Maqâyîs,…h. 822

[21] ‘Abd. Bâqy, Mu’jam,… h. 669

[22] Lihat  Q.S. Alu ‘Imrân/3: 183, al-Ahzâb/33: 71

[23] Lihat  Q.S. Al-Nisâ’/4: 73

[24] Ibn Fâris, Al-Maqâyîs,…h. 1076

[25] Al-Râghib, Mufradât,.. h.544

[26] Lihat Q.S. Al-Nisâ’/4: 4, al-Thûr/52: 19, al-Hâqah/69: 24, al-Mursalât/77: 43

Komentar
Memuat...