Desa Rasa Kota : Kau Buat Sarjanaku Terpasung

0 26

Desa Rasa Kota. Warga yang hidup rukun bertetangga, tak ada benteng antara rumahku dan rumah tetangga. Jalan utama tak seramai jalan raya. Angin semilir masih terasa walau panas terik melanda. Rintik hujan masih bisa menetes didedaunan yang setelanya wangi tanah karena air hujan masih bisa tercium setelahnya hujan reda. Sepanjang jalan masih terlihat sawah-sawah yang ditanami berbagai tanaman sesuai musimnya. Berbeda dengan ibukota.

Suasana desa dan Jakarta yang sangat berbeda. Itulah sebabnya jika ingin merasakan kenyamanan dan kejernihan fikiran banyak orang kota berwisata ke desa. Gambaran itu hanya sejauh mata memandang saja, hidup di Desa saat ini sudah sama seperti dikota. Hanya gedungnya saja yang tinggi menjulang yang tak ada, namun orang-orang yang bekerja didalamnya sama. Kolusi korupsi Nepotisme sudah merajalela tak memandang dikota atau di desa.

Dulu, kukira kerasnya hidup hanya ada di Jakarta. Tapi nyatanya pekerjaanku kini membuka mataku untuk melihat keadaan sebenarnya. Benar ternyata, idealis hanya akan kudapat saat aku mahasiswa. Bahkan di Desa saja yang penduduknya tak lebih dari dua ribu orang, Korupsi tetap ada, apalagi Nepotisme. Jika aku bukan siapa nya tak akan jadi apa-apa meski gelarku sarjana. akhrnya ku sipulkan Desaku kini, Desa Rasa Kota.

Mirisnya Tempat Kelahiranku

Oooh, Mirisnya tempat kelahiranku. Belum ku umpamakan yang lain, ku umpamakan diriku sendiri, lulusan sarjana dengan predikat cumelude, pejabat teras di berbagai organisasi, aktivis pula kata mereka. Namun tak berarti apa-apa rasanya.

Pertama, saat ku mulai menduduki jabatanku di desa kelahiranku, aku menyombongkan diri beradu dengan kemampuanku. Tak mau aku bermain nepotisme untuk menduduki kursi yang kini aku dapatkan. Hati kecilku tertawa lucu, lagipula aku saudara siapa? Atau anak siapa? Hanya anak pedagang kaki lima yang ayahnya bukan tokoh masyarakat di Desanya. Politik uang apalagi, apa yang mau ku beri? Tabungan orang tuaku ku habiskan untuk meraih gelar sarjanaku dan menyekolahkan kedua adikku. Percaya dirinya aku yang berani mendapatkan kursi jabatanku hanya bermodal keberanian saja. Memang pada akhirnya aku bisa mendapatkan kursi itu. Namun….

Kedua, kekesalan selalu menyelimuti hati dan mengganggu aktifitas kerjaku. Mereka seenak jidat berbicara ini itu, fikirnya perubahan bisa semudah membalikan telapak tangan. Tapi, aku terus berusaha sedikit demi sedikit membuat perubahan di Desaku lewat kegiatn-kegiatan yang kubaktikan tanpa bayaran. Namun lagi, mereka hanya mampu berkoar katanya perubahan ku tak ada apa-apanya. Tak ada uangnya mungkin tepatnya.

Ketiga, ku ingin terapkan idealisme bekerja ditempatku, tapi aku dibuatnya mati kutu. Aku berfikir sedikit saja dicurigai, dekat dengan si ini dikira antek-anteknya, dekat dengan si itu dibilang menurut saja. Aku dibunuh karena bicara ku terlalu berani katanya, tapi jika diamsaja aku seolah mereka bodohi. Usiaku memang masih kepala dua, jauh dari memakan asam garam katanya. Tapi aku masih bisa membedakan mana penjilat dan mana pejuang. Ahhh…. Tapi rasanya tak ada pejuang. Mungkin kekesalanku tak hanya hitungan satu, dua, tiga.. bahkan tak hingga jika ku panjangkan ceritanya. Terlalu banyak makan hati dan mengelus dada untuk terus bilang sabar.

Desa Rasa Kota, inilah Desaku, ingin kubuat kamu maju sebenarnya, tapi langkahku terpasung, fikiranku terpenjara. Aku seolah hanya bisa berteriak tanpa bertindak. Sedih sekali rasanya melihat sarjanaku yang semakin berjamur karena tak terpakai. Semoga saja ini tak berangsur lebih lama. Sementara ku terpenjara, ku akan menulis ideku sebagai karya sarjanaku untuk desaku. ***Yayu H Aspandi

Komentar
Memuat...