Di Pesawat Spiritualitas Haji telah Bergema| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 11

Di Pesawat Spiritualitas Haji telah Bergema| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 11
0 102

Di Pesawat Spiritualitas Haji telah Bergema – Tepat pukul satu dini hari, pesawat Saudi Arabia Airline (SAA), mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Seluruh Jamaah dengan penerbangan yang menggunakan pesawat, di mana Crhonos dan keluarganya, akan terbang. Inilah Boeing 747 yang memberangkatkan tidak kurang dari 800 jama’ah. Pesawatnya besar sekali.  Crhonos sendiri, rasanya belum pernah naik ke dalam pesawat sebesar ini. SAA direncanakan akan mendarat di Madinah. Setidaknya, itulah yang disampaikan Ketua Rombongan.

Namun pengumuman itu ternyata salah. Rombongan yang diikuti Crhonos, malah naik pesawat Garuda Indonesia Airline (GIA). Pesawat ini, berangkatnya memang hampir bersamaan dengan pesawat SAA. Hanya saja akan mendarat di Bandara King of Abdul Aziz, Jeddah, pada dini hari waktu setempat. Jama’ah tetap naik ke dalam pesawat yang juga besar.

Crhonos mengapit tangan Shofi, yang semakin terlihat sangat lemah. Ia menuntunnya dengan pelan dan dengan berbagai bacaan yang mampu dia lafalkan. Sampailah mereka di kursi sesuai dengan permohonannya, agar mereka ditempatkan dalam kursi yang berjejer. Shofi minta duduk di kursi paling pinggir. Ia ingin menyaksikan bagaimana pesawat terbang. Ia juga ingin menyaksikan bagaimana gulungan awan di langit dapat terlihat dari arah yang berlawanan dari kebiasaan dilihat Shofi. Crhonos mempersilahkannya dan diapit oleh istrinya, Siti. Mereka berbicara dengan sangat pelan dan lembut.

Kepala Shofi kembali diikat dengan kain putih. Ia merasa sangat kedinginan. Jaket tebalpun dipakaikannya dengan rapih. Ia minta diambilkan makanan ringan yang ternyata, lupa dimaksukkan ke dalam tas besar. Sementara tas besar posisinya ada didalam bagage pesawat. Crhonos kemudian menyampaikan, nanti dua jam dalam perjalanan, kita pasti disuguhi makanan. Jangan khawatir. Shofi kemudian diam dan membaca berbagai ayat-ayat suci al Qur’an yang dia hafal.

Pesawatpun mulai bergerak pelan. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba suara mesin yang turbulonsis mulai mengeras. Pesawat berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi, dan terbang dengan aman. Saat turbulonsis itulah, Shofi, Siti dan Vetra tampak sangat gelisah. Crhonos memegang tangan mereka dan berkata: Tenang, insyaallah kita selamat.

Hajj in The Sky

Suasana haji semakin terasa. Banyak Jama’ah haji yang membaca pelan berbagai bacaan spiritual yang diimani masing-masing jama’ah. Meski tidak sedikit, di antara jama’ah yang bolak-balik keluar masuk wc, hanya sekedar untuk kencing dan bahkan buang air besar. Maklum, penumpang kebanyakan sudah pada tua. Jadi, WC menjadi tempat pavorit mereka untuk dikunjungi.

Di pesawat itu, Crhonos menyaksikan bagaimana jama’ah merasa sudah berada di Mekkah. Wajah-wajah jama’ah secara umum tampak penuh harap maghfirah Allah. Berbagai ajaran yang disampaikan para pemateri di KBIH dan Kantor Kementerian Agama, yang kadang terlalu melankolis dan spiritualis itu, sering membuat jama’ah over estimate akan makna haji. Akibatnya, berbagai aspek tentang ibadah yang seharusnya diterjemahkan biasa ini, menjadi sangat tidak biasa. Dalam kasus tertentu, malah terkesan magis dan spiritualis.

Dalam soal ini, di satu sisi, aku, kata Crhonos  bangga akan fenomena spiritual ini. Tetapi, dalam perpektif lain, suasana yang terlampau berlebihan ini, sejatinya akan mengurangi makna spiritual yang sesungguhnya dari pelaksanaan ibadah haji. Aku yakin, bathin Crhonos menghela nafas, “Allah akan memberikan Hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang diberi hikmah oleh Allah, maka, ia telah diberi kebaikan yang banyak”. Hal ini sebagaimana dapat dibaca dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah [2]: 269.

Hikmah dalam pengertian ini, dapat diterjemahkan dengan keilmuan. Karena itu, dalam konteks pelaksanaan haji sekalipun, dimensi ilmiah ini, seharusnya tidak boleh ditinggalkan. Mengapa? Sebab melalui proses keilmuan ini, makna dan hikmah haji yang sesungguhnya akan tertangkap dengan baik. Aku jadi khawatir, hikmah ini, akhirnya tidak dapat terpenuhi dalam pelaksanaan ibadah haji.

Di tengah segenap lamunan seperti itu, Crhonos langsung menghentikan diskusi batiniyahnya, dan mengatakan bahwa berhaji adalah kalam. Firman yang sulit dirasionalisasi. Akhirnya, ia diam sendiri tanpa kata sedikitpun.

Bermimpi dalam Segenap Kegelisahan Bathin

Di pesawat, Crhonos tetap agak sulit memejamkan mata, apalagi tertidur dengan pulas. Setelah hampi 42 jam, ia tidak bisa istirahat dengan kaki yang mulai tampak bengkak, tetap saja awalnya sulit untuk tidur. Ia malah gelisah memikirkan anak-anaknya yang masih kecil. Ia berusaha memalingkan rasa gelisahnya kepada anak-anaknya itu, dengan cara melamun. Ia mengingat bagaimana dirinya, mengunjungi beberapa kyai yang pernah mengajarinya agama. Ia juga mendatangi seorang tokoh yang sangat tua sebelum berangkat haji. Mereka mendo’akan keluarganya agar selamat dalam perjalanan, selamat dalam melaksanakan ibadah haji, selamat ketika pulang dari Mekkah dan bertemu orang-orang di kampung halamannya dengan selamat pula.

Ia sendiri merasa sangat tulus mengunjungi mereka. Sikap Crhonos yang demikianm, dilakukan atas dasar hadits Nabi yang menyatakan bahwa beliau ketika akan melakukan safar –tentu didalamnya ibadah hajji– selalu mendatangi shahabat-shabatnya dan selalu mengucapkan salam atas mereka. Dan ketika beliau pulang dari safar, maka para shahabat mendatangi beliau. Para sahabat itu, mengucapkan salam atas beliau. Ia membayangkan bagaimana mereka sangat tulus menyayangi dirinya. Tak sedikit di antara mereka yang mendoakan dengan cara yang sangat panjang. Di tengah lamunan itu, ia tertidur. Dalam tidur itulah, dia bermimpi.

Crhonos melihat anak-anaknya tersenyum dengan hangat bersamanya di rumah. Mereka yang masih sangat kecil-kecil dan belum memiliki kesanggupan untuk hidup dengan sendirinya, itu sedang bermain dengan bahagianya. Entah mengapa, dalam mimpi itu, ia tiba-tiba sangat takut pesawatnya jatuh. Di tengah segenap kegelisahan dalam mimpinya itu, ia lantas tertidur dan merasa bermimpi dengan seseorang yang mengabarkan tentang pentingnya berdo’a saat situasi itu terjadi.

Hai Srhonos … ingatlah hadits Nabi yang menyatakan: “aku titipkan engkau kepada Allah, agama engkau, amanat engkau dan penutup amal engkau. Baca juga hadits lain yang dapat menjadi do’a. Hadits itu menyatakan: “Semoga Allah membekalimu dengan takwa. Semoga juga Allah mengampuni dosa-dosamu. Semoga Allah memudahkan kebaikan kepadamu. Semoga Allah mengarahkanmu kepada kebaikan dimanapun kamu berada.”

Crhonospun bangun. Kru pramugari datang membawa makanan dan membangunkan dirinya dalam tidur yang sangat singkat itu. Melalui tidur itu pula, ia memperoleh kebahagiaan melalui mimpinya. Ia memuji Allah dan berterima kasih atas segenap kebaikan yang telah membahagiakannya.

Diskusi Singkat dalam Pesawat

Hai anakku, kata Shofi. Mengapa kamu demikian bahagia. Kamu sedang melamunkan atau bermimpi apa? Tanya Shofi dengan sangat pelan. Oh ya pak, saya mimpi menyaksikan anak-anakku sedang dalam kebahagiaan. Lalu saya diberi beberapa penjelasan berupa do’a saat berada dalam kerumitan. Ada seorang laki-laki tua, menyampaikannya kepadaku. Haruskan aku percaya atas mimpi itu.

Shofi kemudian menjawab, makanya, kalau baca al Qur’an harus tartil. Tartil itu, artinya difahami. terhadap mimpi coba kamu misalnya ingat surat al Isra [17]: 60 yang menyatakan:

“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.

Baca juga surat ash shaffar []: 102 yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Atau coba diingat kembali sama kamu surat Yusuf [12]: 6: “Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kan sudah saya katakan sama kamu sebelum berangkat, sudahkah kamu siap dan ikhlash atas semua sikap yang kamu tempuh dalam pelaksanaan ibadah haji ini. Salah satunya tentu kamu pasrah akan nasib dan masa depan kamu beserta anak kamu. Dengan khidmat, Crhonos menyatakan, iya pak. Terima kasih ya atas ilmunya. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...