Inspirasi Tanpa Batas

Dia Berangkat Untuk Menjadi Jendral

0 7

Intan Nurazizah IslamiMalam itu, dia datang dengan kemeja putih. Seperti biasa seolah menjadi alarm. Kalau tidak pulang ya pergi pada jam- jam ini. Dia datang sambil berkata: “Teh Intan Sosro”, sambil bernyanyi- nyanyi senang. Duduk disofa dengan lengan tidak lepas dari gadget miliknya. Percakapan- percakapan kecil menghiasi sebelum tubuhnya berlalu ke lantai atas.

Ya, dia seorang remaja tanggung yang sedang menikmati masa- masanya. Baru menamatkan pendidikan menengah pertamanya tahun ini. Kudengar, nilainya cukup memuaskan meski katanya ia belajar “gak bener”. Aku sendiri tidak tahu yang dia maksud belajar yang gak bener itu seperti apa. Kenyataannya dia sekarang melanjutkan pendidikan di sekolah yang tidak biasa.

Pada hari- hari terakhir, dia menikmati hangatnya rumah ini. Rumah yang telah ia tinggali lebih dari empat belas tahun lamanya. Rumah yang telah memeperlakukannya sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Rumah dimana dia bisa nakal, merengek, dan pulang pergi seinginnya. Rumah yang setiap pagi selalu dia hiasi dengan “Mah..bajuku dimana? Mah bajunya yang mana?” itu juga kalau dia bangun pagi. Karena hampir setiap pagi mamahnya harus berteriak- teriak membangunkannya karena kesiangan.

Di rumah ini, ya rumah dua lantai yang selalu ramai olehnya. Tanpanya, rumah ini sepi. Bahkan mungkin komplek ini sepi. Seringkali dia terbangun di pagi buta dan meramaikan dapur ketika yang lain terlelap. Adakalanya dia melakukan hal- hal ‘nakal’ yang kadang buat orang lain gemas. Tapi aku masih yakin dia cerdas dan berbeda.

Dialah satu- satunya orang yang selalu membuat gelisah, menunggu kepulangannya. Apalagi mamahnya, bukan berarti kakak atau adiknya tidak mendapat perhatian demikian tapi, mungkin karena dia ‘nakal’ jadi tetap saja berbeda.

Dia berbeda. Karena berbeda pernah sekali dia salah kostum dalam sebuah acara. Kostum ala- ala dia atau mungkin kebetulan tidak ada. “Mah..bajunya yang mana”. Sampai- sampai orang menelpon langsung pada orang tuanya karena dia salah kostum. Aku pikir bukan karena dia ingin mendapat perhatian seperti kebanyakan orang yang berbeda, tapi memang dia berbeda.

Dia akan berangkat, dia siap untuk berangkat. Dia akan melanjutkan pendidikan dan menyongsong cita- citanya. Aku sebut dia calon jendral. Ketika dia panggil aku “Teh Intan Sosro” aku panggil dia “Hai, jendral!”. Aku yakin dia akan menjadi jendral.

Pagi itu, saat keberangkatannya. Aku tau, aku bisa merasakan ada air mata di rumah ini. Bukan karena kesedihan, tapi air mata bahagia dan bangga akan keberangkatannya. Mamahnya yang tegar, menyimpan air mata yang mendalam. Papahnya yang bijak, menyembunyikan senyum bangga. Kakak dan adiknya begitu juga. Meski seperti acuh, mungkin semalaman mereka menikmati saat- saat terakhirnya. Bisa jadi, mamahnya tak henti menatap dan mencium keningnya ketika dia terlelap. Ayahnya berdoa tiada henti untuk kesusksesannya dalam diam.

Dia berangkat dengan langkah tegap. Seluruh restu mengiringi langkahnya. Sebelum keberangkatannya kami sempat terlibat percakapan kecil.

“Siap berangkat?” tanyaku,

“Siap dong…” jawabnya.

“Berangkatlah dan pulanglah ketika sudah menjadi jendral!”

“hahaha…iya teh! Aamiin.” Sembari asik dengan gadget.

Dalam hati aku ikut mengamini. Aku yakin doa di pagi hari pasti mustajab. Dia berangkat untuk menjadi jendral. Pasti!

Oleh: D I E

*didedikasikan untuk ALD

Komentar
Memuat...