Home » Politik » Dialektika Bahasa dalam Kata Versus

Share This Post

Politik

Dialektika Bahasa dalam Kata Versus

Arab versus China atau China versus Arab. Bertanding dalam suatu ring yang disebut Indonesia. Sansaknya adalah warga negara asli Indonesia. Yang menangis dan tertawa hidup dalam suasana yang sama, yakni di kolom penonton. Mereka bertepuk tangan atau menangis, di lapak-lapak tontonan dalam suatu pertandingan yang sangat seru karena pertandingannya hampir seimbang. Para penonton setelah menyaksikan pertandingan itu, sebagian ada yang menangis dan tidak sedikit yang bertepuk tangan.

Menarik untuk disebut kalau yang menangis dan bertepuk tangan itu, adalah mereka yang dilahirkan oleh orang tuanya yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan harta dan jiwanya. Tidak sedikit di antara para penonton itu, yang tidak mengerti mengapa mereka menangis atau mengapa mereka bertepuk tangan.

Untuk dan karena itu, kita hanya absen untuk memberi penilaian atas apa yang terjadi di hati mereka masing-masing. Namun yang pasti, pemilik media, baik cetak maupun elektronik, audio, visual maupun audio visual, karenanya telah memperoleh keuntungan atas pertandingan ini. Mengapa? Karena pertandingan ini telah menyedot ratusan juta mata yang karena itu telah menghasilkan layanan iklan yang sangat mahal. Para penonton, tetap tidak memiliki ruang untuk memperoleh keuntungan. Inilah nasib namanya.

Rekomendasi untuk anda !!   Tangisan Ahok dalam Drama Politik dan Pembelaan Agama

Arab versus China?

Arab versus China atau China versus Arab. Inilah kalimat yang menjadi kata kunci baru dalam perhelatan sosial dan budaya bangsa Indonesia. Kalimat ini, dalam beberapa minggu terakhir mulai ramai dibincangkan di kalangan masyarakat. Perbincangan itu, ramai dibincangkan mulai di pinggiran jalan, kopi jalanan atau tidak sedikit di Media Sosial (Medsos) dengan ragam jenis dan bentuknya. Kalimat ini, seolah sedang memperbincangkan Ahok di satu sisi dan Habieb Rizieq di sisi lain. Meski jika di analisa, kalimat dimaksud cenderung tendesius, tetapi, dalam beberapa hal, agak sulit untuk mengindarinya.

Mengapa tendensius? Karena kalimat dimaksud telah membuat belahan diametral yang mengasumsikan seolah Ahok hanya mewakili kaum China dan Habieb Rizieq seolah hanya milik Arab. Padahal keduanya mendapat pengikut dari bangsa pribumi juga. Selain itu, Ahok dan Rizieq juga sama, yakni sama-sama telah menjadi pribumi. Hal lainnya adalah, seolah rizieq hanya didukung pribumi yang Muslim tanpa dukungan dari non Muslim, padahal faktanya banyak juga pendukungnya yang non Muslim. Sama juga dengan Ahok. Ia bukan hanya didukung non Muslim, tetapi, mayoritas malah didukung kaum Muslim.

Rekomendasi untuk anda !!   Inilah Dampak Bahaya Dari Rush Money

Jika itu analisanya, lalu sedang memainkan apa irama kebangsaan hari ini? Yang pasti, tampaknya, kita sedang berada dalam titik tertentu untuk memperebutkan sesuatu yang seharusnya tidak diperebutkan. Jika itu problemnya, maka, marilah kita sama-sama menempati bumi dalam kepentingan kemanusiaan kita sebagai manusia. Inilah hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuk kita semua. ** (TLI)

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>