Dialog Imaginer dengan Pemimpin Revolusi Soekarno

Dialog Imaginer dengan Pemimpin Revolusi Soekarno
0 95

Team Kreative lyceum kembali membuat kejutan. Setelah beberapa bulan yang lalu, mereka berhasil melakukan dialog imaginer dengan Presiden RI kedua, Jenderal Soeharto, mereka kembali berhasil menemui Pemimpin Revolusi Indonesia, Ir. Soekarno. Sosok yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia dan bahkan dunia.

Sebenarnya, “surat permohonan” dialog imaginer terlebih dahulu diberikan kepada Soekarno. Hanya sayang, staff khususnya lambat menyampaikan pesan melalui surat kami. Baru setelah beberapa bulan, beliau akhirnya berkenan menerima wartawan kami. Berikut adalah petikan wawancara wartawan kami dengan beliau.

Assalamu’alaikum

Apa Kabar Pemimpin Revolusi yang Kami Muliakan?

Mata Presiden Soekarno menatap tajam. Tampak sedikit geram seperti hendak marah. Namun kemudian dia tersenyum simpul dan mengatakan, aku dalam keadaan baik! Segala halnya telah tercukupkan untukku di sini. Alhamdulillah, Allah atau Sang Hyang Widi memberiku tempat yang cukup istimewa. Tetapi, jangan pernah kau katakan lagi, kalau aku pemimpin revolusi. Itu kalimat yang tidak tepat disampaikan, karena aku bukan lagi pemimpin revolusi. Di sini aku adalah makhluk biasa. Tidak ada sesuatu yang layak dibanggakan. Aku malu mendengarnya.

Malu bukan lantaran karena aku pernah luka gara-gara kalimat seperti itu! Tetapi, mereka yang berhasil menetap atau hanya sekedar singgah di sini, semua dalam keadaan yang sejajar dan sederajat. Panggil saja, di sini aku sebagai Bung Karno saja. Seperti dulu anak-anak muda Indonesia, termasuk Moch. Natsir, Perdana Menteriku, sering menyebutnya. Aku sempat memenjarakan dia dan mengusulkan agar partai pengusungnya, Masyumi dibubarkan. Terlalu kritis dan tidak sabar mereka dalam memperjuangkan negara ideal.

Ok Bung kalau begitu. Terima kasih dan kami mohon maaf.

Di sini Bung bertemu juga dengan M. Natsir?

Pasti bertemulah! Bahkan bukan hanya dengan dia. Dengan Soeharto juga sering bertemu dan Berdiskusi. Mas Harto itu, memang sering melawan saya. Tetapi dia kelihatannya memang tulus. Dengan Moch. Hatta juga sama. Bahkan dengan pemimpin Darul Islam, Jawa Barat, Kartosuwirjo, kami biasa berbibincang. Keputusanku untuk meneken agar regu tembak “menembak Mati” Kartosuwirjo berada dalam desakan yang sangat berat. Sesungguhnya aku tak sanggup tuk melakukannya. Tetapi mau ngomong apa … itulah keadaannya. Itulah politik di tengah negara yang baru berdiri.

Beliau banyak jasanya untuk Indonesia. Kan karena ulah Kartosuwirjo, Negara-negara Arab banyak membantu Indonesia. Sebenarnya itu juga merupakan ideku. Tidak mungkin aku bertentangan seratus persen dengan dia. Lho dia dengan aku ini satu perguruan kan. Tujuannya, agar Indonesia diakui kemerdekaannya oleh seluruh negara Islam. Tetapi sudahlah! Itu politik tingkat tinggi.

Dalam soal begini, saya kira yang tahu betul hanya aku dan Kartosuwirjo. Tidak banyak yang tahu …

Apakah Kartosuwirjo Memaafkan Bung?

Menurutku seharusnya dia memaafkan. Dia dan aku tahu resiko membentuk negara yang baru tumbuh menjadi bayi. Indonesia itu cuplikan Syurga. Terlalu banyak orang dari negara-negara di dunia yang menginginkan Indonesia. Mereka ingin menguasai apapun di Indonesia. Apalagi oleh negara-negara kaya. Ya termasuk negara Arab.

Jangan tanya China lho …. Mereka sejak abad ketiga belas datang mengantri ke Indonesia. Aku ingin mereka tetap merasa menjadi tamu di negeri kita, agar mereka tidak menguasai segala hal. Cuma penerusku, Soeharto, kelihatannya sedikit toleran. Dia membuka kran kepada mereka untuk melakukan investasi besar-besaran di negeri kita. Mereka pandai membawa diri dan pandai membuat petinggi negara senang. Tapi sudahlah, nasi telah menjadi bubur. Meski sesungguhnya sejak awal saya sudah kecewa.

Barat dan Eropa lebih-lebih lagi. Mereka adalah penjajah yang harus disingkirkan dari bumi pertiwi sampai kapanpun. Kita terlalu lama dijajah Erofa dan Barat. Sampai-sampai …. Soekarno kemudian diam sesaat…..Ai?? Lalu mengatakan: Saat dulu aku remaja, aku jatuh cinta sama orang Barat, mereka bilang aku ini Inlander. Betapa sakitnya aku disebut inlander di negeriku sendiri. Nasib yang sama menimpa M. Roem. Pemimpin Partai Masyumi yang juga saya bubarkan. Mereka dalam anggapan para penasihatku, ikut menggerakan Permesta di Sumatera.

Makanya aku mati-matian memperjuangkan kemerdekaan. Mengapa? Agar bangsa ini benar-benar memiliki dan menguasai seluruh potensi yang dimiliki bangsa ini. Kan lucu masa masyarakat yang menjadi pemilik negeri, lalu mereka malah menjadi tamu di negerinya sendiri. Sekarang ini, kelihatannya bakal lebih parah. Indonesia yang merdeka itu, mentalnya tetap saja inlander.

Bung … suka mengikuti dinamika Indonesia hari ini?

Pasti dan tidak mungkin tidak mengikutinya. Aku kan bagian dari rakyat yang menjadi founding father’s Indonesia. Aku dan kawan-kawan di generasiku memiliki impian yang cukup panjang tentang Indonesia. Bayangkan oleh anda ya de … Indonesia panjangnya saja, setara dengan dari Sabang sampai Merauke, sama dengan panjangnya Kota Iran [Teheran] sampai ke London. Berapa negara kalau di luar negeri. Indonesia, satu negara. Tidak banyak negara seluas dan semakmur Indonesia.

Coba anda pergi ke Eropa dan ke Barat pada umumnya, termasuk Timur Tengah. Adakah negara sesubur seperti suburnya Indonesia. Nggak kan …. cuaca di kita tidak ekstrem. Inilah tempat di mana seluruh bangsa di dunia ingin menguasainya.

Aku bukan tidak ingin dibantu asing. Tetapi ketika mereka membantu keinginannya terlampau banyak. Makanya, konsepku adalah Marhaenisme. Itu adalah cita-cita membentuk negara dengan masyarakat yang sangat mandiri. Tidak tergantung kepada pihak asing. Sepanjang ada ketergantungan, maka, di situ berarti ada keterjajahan.

Pemerintahan Indonesia sepeninggalku, relative toleran dengan apa yang disebut dengan penjajahan. Aku bisa bilang go to hell ke Amerika Serikat. Mungkin hal yang sama akan aku lakukan ke negeri lain, termasuk ke Cina, jika mereka ingin menguasai apapun, seperti dulu Amerika. Padahal Amerika adalah negeri adi daya, Penerusku ternyata lembek. Mereka lebih suka dipuji sebagai Good Boy oleh asing, ketimbang disebut good leader oleh rakyatnya. Inilah yang membuat aku sakit dan terluka dengan para penerusku.

Anak-anak Bapak sendiri Bagaimana?

Inilah memang yang seharusnya menjadi bagian penting penerus ideologiku. Tetapi entahlah, dalam beberapa episode ini, kelihatannya anak-anakku terpecah-pecah. Mba Mega sendiri kelihatannya sulit menerapkan gagasan kerakyatannya secara tepat. Mungkin karena terlalu banyak pembisik. Makanya, ketika aku dulu memimpin, aku sangat jarang mendengar nasihat para pembantuku.

Mengapa? Karena banyak di antara pembantuku itu, datang kepadaku dengan kepentingannya sendiri. Mereka tidak utuh dan tidak murni membela rakyat kecil. Melihat situasi sekarang, kadang membuat aku miris. Kalau itu tentu jika pertanyaan anda ditujukan kepada Mba Megawati. Aduch kelihatannya dia terlalu banyak dipengaruhi orang lain. Padahal dulu aku tidak mengajarkan seperti itu. Aku malah sering mengajarkan tentang pentingnya penggunaan hati nurani untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, termasuk membela orang-orang kecil.

Saya hanya berharap, di sisa umur Mba Mega itu, dia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kembali Indonesia sebagaimana dulu aku mengharapkannya.

Apakah PDIP Mewakili kepentingan Ideologi Nasionalisme Anda?

Seharusnya memang begitu. Meski kadang aku berpikir mengapa nama partainya tidak PNI saja seperti jaman dulu aku toch. Nama PDI kan buatan Mas Harto, sepeninggal aku. Dia mem pusi partai-partai, termasuk partaiku PNI ke dalam PDI.

Lepas dari itu, biarlah nggak apa! Toch apa artinya sebuah nama. Yang penting memang semangat memperjuangkan warga kecil, teraniaya dapat terus dilaksanakan. Meski kadang keraguan muncul. Sebab PDIP sendiri, kelihatannya sekarang ini, lebih banyak mengakomodir kelompok elite dibandingkan dengan masyarakat yang kita sebut rakyat kecil.

Bagaimana Masa Depan Indonesia menurut Bung?

Saya percaya, Indonesia itu anugerah. Negeri itu, bukan hanyaAi?? dijaga manusia, tetapi juga dijaga Tuhan. Lihat sajalah. Akan selalu ada cara bagaimana Indonesia ke luar dari krisis. Ke luar dari kemelut. Paling yang aku khawatirkan, bangsa ini terpecah-pecah karena adu domba pihak luar. Padahal betapa susahnya, membentuk NKRI. Team Lyceum

Komentar
Memuat...