Inspirasi Tanpa Batas

Dialog Imaginer dengan Soeharto tentang Indonesia dan Golkar Hari ini

Dialog Imaginer dengan Soeharto tentang Indonesia dan Golkar Hari ini
0 669

Berikut adalah dialog imaginer antara wartawan lyceum Indonesia [Acep M. Lutvhy dan Imron Ashofi] dengan mantan Presiden Indonesia yang kedua, Jenderal Soeharto. Wartawan kami diterimanya di sebuah singgasana yang cukup mewah. Soeharto, saat ditemui wartawan itu, tampak begitu gagah dan berwibawa. Ia didampingi setidaknya 7 bidadari, dengan bidadari utama, tentu saja Ibu Tin.Ai??Berikut petikan wawancara yang cukup khidmat dan imaginatif penuh kreativitasAi?? dalam dialog imaginer.

Assalamu’alaikum
Apa Kabar pak Presiden

Waalaikum salam. Sssst … Jangan bilang begitu. Di sini aku bukan Presiden. Aku bahkan bukan siapa-siapa. Aku hamba Allah yang kedudukannya jauh di bawah para syuhada dan para shalihin. Apalagi di hadapan sahabat dan para Nabi dan Rasul.

Di sini, aku bahkan hampir sejajar dengan para petani yang hidupnya selalu mencukupkan dari hasil tanaman pertaniannya. Mereka tidak suka kolusi dan juga dari watak koruptif. Aku hanya bisa bangga saja karena pernah mensubsidi barang-barang pertanian. Ya berkat sedikit keberanianku memberi subsidi kepada mereka, kamu tahu, dulu negeri kita [1984], pernah surplus padi. Akhirnya kami mengeksport beras dimaksud, ke beberapa negara tetangga. Belakangan kita malah import, termasuk dari Thailand.

Dengan lemas dua wartawan itu, diam dan menundukkan kepala. Maaf pak … Bapak memang dari dulu selalu bersahaja. Santai meski banyak pihak menyebutnya sebagai pemimpin yang berani, tegas dan kadang disebut bengis. Meski, tidak ada waktu yang bapak miliki selain tersenyum. Karena itu, sering juga disebut sebagai the smiling genderal.

Nddak apa-apa. Dengan tegap, pak Harto kembali menjawab. Dia lalu melanjutkan perkataannya: “Kabarku baik dan aku bersama istri, Ibu Tin,Ai??alhamdulillah segalanya baik”. Anda lihat sendiri! baik toh … Aku bersama istri, dan sejumlah bidadari yang dihadiahkan Allah, dalam keadaan baik dan penuh nuansa kedamaian.

Pak Harto kemudian melembutkan suaranya dan mendekatkan mulutnya ke telinga dua wartawan. Dia berkata: “Di sini, entah mengapa, ibu tak lagi suka cemburuan. Padahal dulu, sambil tersenyum simpul, Soeharto sambil menoleh kepada bidadari yang cukup banyak, betapa hebatnya rasa cemburu istriku. Hingga aku tak memiliki kesempatan untuk memiliki istri lebih dari satu.

Mohon maap Pak, Apakah bapak menyaksikan Indonesia hari ini?

Oooh pasti. …. Aku mengikuti dengan seksama dinamika negeriku. Aku bangga melihat bangsa dan rakyat Indonesia hari ini. Mereka kelihatan sangat kreatif. Mereka juga tampak sangat sabar. Beda dengan waktu ketika saya masih tinggal dan memimpin Indonesia. Harga dolar naik sedikit, mereka ribut. Apalagi kalau subsidi [listrik, premium, hasil tani] dicabut. Waaah bisa berabe. Bakal cape tuch Harmoko dan Pangkopkamtib mengamankan Istana.

Rakyat bisa berdemonstrasi setiap waktu. Kantor Istana Negara bisa dipenuhi warga Indonesia yang menyuarakan kemiskinan. Aku paling takut dengan kata kemiskinan. Aku merasa sangat perihatin kalau masih ada warga Indonesia, yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Aku ini kan keturunan petani. Bapak ku, kamu tahu, dulu kan tukang mengurus air untuk kepentingan pertanian. Jadi, ya …. sedikit banyak mengerti bagaimana jerih payahnya menjadi seorang petani. Makanya, mereka adalah kelompok yang menurut saya, layak diperhatikan secara serius oleh negara.

Bapak suka menyaksikan apa lagi tentang Indonesia

Banyak hal lah. Termasuk ketika beberapa periode ini, Badan Usaha Milik Negara [BUMN] yang aku dirikan dengan maksud, melindungi rakyat Indonesia, mulai banyak yang dideregulasi. Bahasa sederhananya dijual. Sebenarnya aku sedih menyaksikan semua itu. Tetapi apa daya … kini aku tak mampu bicara. Sebab kalau aku bicara, yang baikpun pasti dianggap buruk.

Aku mendirikan BUMN itu atas landasan Pancasila dan UUD 1945. Tujuannya sederhana. Apa itu? Yakni menjaga wilayah strategis agar tidak dikuasai asing. Makanya, zaman aku, orang asing, termasuk China, tidak boleh kan masuk sampai ke luar Kabupaten/Kotamadya. Mereka hanya boleh di tingkat dua [Kabupaten-Kota]. Menyaksikan yang demikian saja, betapa sesungguhnya aku sedih. Aku khawatir suasana seperti ini akan menyebabkan anak cucu kita malah menjadi buruh di negeri sendiri.

Soeharto kemudian tertunduk lemah. Matanya sayu … entah apa yang dipikirkannya. Yang tampak adalah jari tangannya mengetuk-ngetuk meja, lalu berkata pelan. Tetapi, mungkin memang zaman sudah berubah. Semoga warga pribumi Indonesia, dapat tetap mampu menjaga jati diri dan bangsanya.

Kalau Golkar, bapak perhatikan juga …. ?

Apalagi Golkar yang sekarang telah berubah menjadi Partai Politik. Aku terus mengikuti Golkar mulai dari kepemimpinan Harmoko, itu menteriku yang banyak bicara, sampai yang saat ini memimpin. Siapa tuch namanya …. o ya Setya Novanto. Aku merasa sejak Harmoko sampai Novanto, Golkar selalu dipimpin mereka yang tidak pas. Yang kurang mumpuni. Namun yang paling kurang, menurutku ya Novanto ini.

Inilah tipikal pemimpin Partai Politik yang dihasilkan di era Reformasi. Kalau jaman aku, yang seperti itu, pasti tidak mungkin menjadi Ketua Umum Partai. Apalagi sebuah partai yang dengan susah payah aku dirikan dengan sejumlah keberhasilan yang saya kira tidak ada tandingnya. Indonesia disebut macan Asia, jaman aku toch. Dan kendaraannya Golkar.

Golkar kan mapan. Orang-orang yang ada di Golkar juga, orang mapan. Aku sudah membuat mereka mapan, agar memiliki jati diri dan kepribadian. Agar mereka mampu menjaga perjuangan besar kami, yakni ideologisasi Pancasila. Bukan begitu maksud pendirian Partai Politikku dulu. Bukan menghamba pada yang lain, tetapi, menjadi pioneer dalam segenap kemajuan bangsa.

Harusnya Novanto seperti apa Pak

Ya harusnya dia gentle. Seperti Anas Urbaningrum tuch. Meski dia masih ingusan, dia gentle mempertahankannya melalu proses pengadilan. Kata pengadilan salah, ya salah … Padahal Partai Anas Urbaningrum waktu itu, partai penguasa. Atau dapat juga meniru gaya pemimpin Partai mitraku, PPP, Suryadharma Ali namanya. Meski aku ragu dia korupsi hajji, tetapi ketika divonis salah, dia mengikuti nalar hukum. Ketua Umum PKS juga sama. Meski belum tentu dia mengambil keuntungan dari Import Sapi, ketika divonis, dia menerima begitu aja.

Coba pertahankan gagasan saya soal pengembiakan sapi, seperti di Tapos tuch. Mungkin kita sudah surplus daging sapi. Iya toch …. Habis kebanyakan mereka selalu menganggap apa yang aku lakukan, salah … Jadi daging dan beraspun harus Import. Bahaya tuch negara kalau terus-terusan begitu. Segala sesuatu harus diimport.

Novanto mestinya belajar. Negara tidak mungkin dikuasai oleh kekuatan apapun. Apalagi hanya sekedar Novanto dan kroninya. Hukum harus menjadi tonggak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mengapa Bapak Tidak Menyarankan Anak Bapak Memimpin Golkar

Kalau aku menyarankan anak-anakku mengambil Golkar, julukanku sebagai tukang KKN menjadi nyata. Biarlah mereka berkiprah menurut nalarnya. Jika mereka dipilih atas kehendak rakyat, pilihlah. Jangan lupa ukur kapasitasnya. Jangan hanya karena misalnya dia anakku, dan Golkar aku yang mendirikan, lalu dengan seenaknya, meminta mereka agar menguasai Golkar. Meskipun sesungguhnya, sejak dulu aku memiliki kuasa untuk itu. Tetapi kekuasaanku atas itu, tidak aku pilih. Aku kasian terhadap anak-anakku.

Aku memang punya ajian sakti. Punya juga semacam barang keramat yang dilebihkan Tuhan. Benda itu yang beruba cincin, tongkat, serban, peci dan bahkan sapu tangan. Tetapi, tidak ada satupun yang kuwariskan kepada mereka. Aku takut anak-anakku salah memahami. Kalau salah mereka fatal di hadapan Tuhan, Allah swt.

Aku, sekali lagi tidak ingin begitu mas … Jika anakku tidak layak, atau layak tetapi tidak dipilih oleh kehendak rakyat, ya jangan memaksakan diri. Aku memang banyak yang bilang hebat. Anakku belum tentu seperti aku. Aku dulu pejuang kemerdekaan, dan tentara yang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Anak-anakku tidak sama dengan aku. Biarlah mereka menjadi mereka dengan dunia mereka sendiri,

Aku menjadi Presiden selama 7 periode, kan bukan kehendakku saja. Orang-orang hebat di sekelilingku, selalu mendorong aku menjadi Presiden. Meski akhirnya, kata banyak orang, mereka menjadi brutusku. Sebenarnya aku, ya aku sangat cape dan malas terus-terusan menjadi Presiden. Tetapi apa daya … Kata kawan-kawanku, nggak ada orang setangguh aku. Yang demikian aja, aku yang disalahkan.

Anak Kesayangan Bapak dan Menantu Hebat Bapak Bagaimana

Ya Mas Tommy itu, aku mendidiknya dengan cermat. Kulatih banyak hal kepadanya. Ketika aku mendengar dia akan mendirikan Partai Politik, aku senang saja mendengarnya. Bukan soal menang kalah, berhasil atau gagal, tetapi soal citaku membangun Indonesia, menurut persepsiku, ada yang meneruskannya. Biarkan dia berjuang menurut nalarnya.

Prabowo juga tentu begitu. Itu menantu hebatku, meski aku sempat salah duga. Dan aku menyesal saat pernah menuduh dia bersekongkol dengan masyarakat yang memberontakku dan ingin menggantikanku. Kadang aku juga menyesal mengapa saya tidak mempercayainya. Padahal dia adalah yang tulus dan baik hati. Aku do’akan semoga dia mampu menjaga negeri ini dengan damai.

Anakku, Tommy juga kelihatan mulai dewasa. Tidak gampang emosi kaya dulu. Ya biarlah mereka mengalir. Termasuk Titik katanya, mau ikut nyalon di Golkar. Aku setuju aja … Dia juga hebat dan mewakili sosok perempuan yang tangguh. Ia mirip ibunya yang demikian tulus bukan saja menjaga aku, tetapi juga menjaga negeri. Yang penting mereka memang memiliki kapasitas.

Kalau soal mba Tutut, kelihatannya masih trauma. Trauma akan perubahan politik. Dia khan yang mendampingi aku saat aku menjadi Presiden dan saat aku turun takhta. Sebenarnya dia juga hebat dan tangguh … tapi entahlah, mungkin dia harus membuat rasa damai dalam dirinya dulu.

Pembangunan Pak Jokowi Bagaimana Menurut Bapak

Ya semangatnya bagus. Harus diapresiasi. Bagaimanapun dia Presiden syah Republik Indonesia. Meski ya … karena dia belum banyak pengalaman dalam mengelola negara, kelihatannya dia butuh belajar panjang. Siapa sesungguhnya yang harus dia dengarkan ketika membisikinya. Ingat lho ya … persoalan terberat menjadi Presiden Indonesia itu, adalah arif memahami bisikan para pembisik. Para pembisik itu, suka membutakan kita melihat keadaan yang sebenarnya. Dan Jokowi kelihatannya belum memiliki kepandaian lebih dalam memahami situasi semacam itu.

Sambil tersenyum sinis, dia lalu menyalakan rokok segarelos kesukaannya. Ia memantikkan korek api lalu kembali berkata.Ai?? Cuma gaya seperti itu, mungkin hanya dapat dinikmati pada waktu yang akan datang. Cukup panjanglah … Akan banyak masalah dalam waktu pendek ini. Banyak gagasannya yang tidak rasional dan akan menguras energi bangsa yang tidak sedikit. Kasian sebenarnya aku pada dia. Terlalu dipaksakan. Dan entah siapa sesungguhnya di balik beliau ini.

Membangun inpra struktur tuch, misalnya. Sebenarnya bagus … hanya perlu diperhitungkan nilai manfaat dan emergensinya. Misalnya, apa sudah waktunya, membangun jalan tol di Irian Jaya dan daerah lain di luar pulau jawa. Wach … jangan-jangan belum waktunya. Nanti biaya pembuatan dan perawatannya cukup mahal toch. Dan membangun inpra struktur sebanyak itu, pasti akan pinjam ke sana ke mari.

Dulu waktu aku jadi Presiden, Indonesia yang masih hijau sekalipun, meminjam uang ke funding-funding asing itu memusingkan. Aku merasa dengan meminjam ke asing, pembangunan akan menghasilkan sesuatu yang produktif. Nyatanya tidak demikian. Aku malah banyak diatur orang luar. Mengapa aku jatuh, hari ini aku sadar, sebenarnya karena aku tidak lagi menjadi good boy bagi mereka itu. Aku sadar … aku mengubah haluan. Aduch disinilah aku kasiannya sama Jokowie.

Wartawan lalu dipersilahkan minum teh hangat tanpa gula. Setelah basa-basi, mereka pergi meninggalkan Smiling Genderal ini di singgasananya yang luar biasa. Team Kreatif Lyceum Indonesia [Murni imaginasi, mohon maaf barangkali ada hal yang tidak berkenan]

Komentar
Memuat...