Diam Seribu Bahasa | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 11

0 171

Allent dan Mell diam seribu bahasa. Keduanya akhirnya berhenti bicara. Keduanya bahkan terkesan merebahkan diri dalam kursi pesawat executive yang mewah. Mereka tampak ingin istirahat, hanya sayang, ternyata sulit dilakukan. Keduanya merasa Past life yang mengilustrasi seolah mereka pernah bertemu. Entah di mana dan dalam kepentingan seperti apa. Keduanya tidak tahu.

Pramugari dan berbagai kru pesawat kelihatan hilir mudik, meminta penumpang untuk membetulakn jok yang diduduki. Mereka kelihatan mempersiapkan diri untuk menertibkan seluruh penumpang. Bel pesawat menginformasikan sebentar lagi, penumpang asal Osaka akan segera mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Tak terkecuali kursi yang diduduki Mell dan Allent. Allent-lah yang pertama kali bicara. Sambil mengambil kaca mata hitam dan menempelkannya di mata, Allent berkata, Mell terima kasih ya … berkat kamu perjalanan ini terasa singkat. Ya sama-sama ya.

Mereka berdua juga yang pertama keluar dari pesawat. Keduanya memakai kaca mata hitam. Tampak serasi dan memiliki padanan dalam pandangan umum sebagai sosok pasangan yang menghantarkan kenyamanan mata siapapun yang melihatnya. Keduanya menuruni tangga pesawat secara bersama. Seolah-olah mereka adalah pasangan dengan tujuan yang sama. Begitu sampai di altar Bandara, Allent sadar bahwa Mell bukan istrinya. Ia hanya berbisik kepada Mell: “Hai aku mau shalat dulu ya …. Tadi kayaknya aku belum melaksanakan shalat Maghrib dan Isya.

Mell semakin terbalalak. Seorang calon Komisaris Utama itu mau shalat juga. Aku juga sama mau shalat, kata Mell. Kebetulan tadi di pesawat aku belum shalat. Kalau begitu, yu kita bareng aja ya ….

Allent dan Mell akhirnya masuk mushala di Bandara Soekarno-Hatta. Mell minta jadi makmum dan Allent diminta menjadi imam. Di luar dugaan Mell, bacaan shalat Allent sangat syahdu dan merdu. Ia membaca surat ar-rahman dan surat al Mulk. Keduanya tampak khusu’ dalam melaksanakan shalatnya itu. Selesai salam, tengok kiri dan kanan, tanpa diduga, Mell mencium tangan Allent yang kokoh.

Allent heran dan bengong. Saat dia memperkenalkan diri, tangannya begitu tegak, tetapi saat ini, tangannya begitu syahdu dan mencium tanggan Allent dengan segenap rasa yang ajaib. Akhirnya kedua ke luar bersama dan banyak sekali orang yang menemput penumpang saat itu. Allent hanya berkata, kau mau ke mana sekarang? Apakah sudah ada yang menjemput atau belum?

Aku mau ke Cirebon, suamiku akan segera datang menjemputku. Kamu pulang ke mana dan sudah ada yang menjemput belum? Ya … aku sudah ditunggu. Tuch di pelataran Parkir, sambil menunjukkan Mobil Lamborgini yang mendekati mereka berdua. Aku Mau ke Jakarta Pusat. Suatu waktu, jika kamu main ke Jakarta, main ya kekantorku. Ini kartu namaku.

Dijemput dengan kematian

Allent mau beranjak, tetapi, mobil yang menjemput Mell belum juga datang. Ia bingung dan meminta supirnya kembali memutar. Ia mulai khawatir ada apa-apa, jika Mell tidak ada yang menjemputnya. Ia dan Mell tetap berdiri. Sebenarnya saat itu, Mell ingin Allent pergi saja. Khawatir suamiku salah tafsir atas apa yang terjadi, Mell membathin. Mell tahu suaminya pencemburu. Apalagi yang berdiri di sini, jauh lebih gagah secara fisik dibandingkan dengan suaminya. Hampir dua jam, suaminya ternyata tidak datang. Dibel tidak masuk-masuk. Sementara malam mulai berganti waktu, menjadi terang.

Allent menawarkan diri. Bagaimana kalau kamu ikut aku saja, Mell. Nanti supir kami akan mengantarkan kamu ke manapun mau, termasuk ke Cirebon. Akhirnya dengan sangat terpaksa Mell naik Lamborgini. Ia berangkat bersama ke Kantor Utama PT. Multinasional di mana Allent akan berkiprah. Di tengah perjalanan dalam Lamborgini itu, tiba-tiba melalui suatu surel khusus ke akun Mell yang mengabarkan suaminya tabrakan di Tol Cipali. Belum jelas kondisi yang menimpa suaminya itu. Tetapi, Mell menangis dengan keras. Dan tanpa disadari, Allent memeluk dan memintanya untuk bersabar.

Mell kalut dan mencari tahu posisi mereka yang celaka itu ada di mana? Ternyata, mereka di bawa ke rumah sakit Hasan Sadikin Bandung. Akhirnya, ketiga manusia itu berangkat ke Bandung. Sesampainya di sana, suaminya sudah meninggal dunia. Isak tangis dan jeritan histeris menyaksikan tubuh korban, membuat Allent tidak tahan tinggal di rumah sakit.

Allent pamitan ingin kembali ke Jakarta kepada Mell. Ia berkata, kami turut berduka cita atas meninggalnya suami kamu Mell. Semoga Allah menerima amal kebajikannya di dunia dan mengampuni segala dosanya jika ada. Ketika Mell diyakini sudah bertemu dengan saudaranya, ibunya dan seluruh keluarganya, akhirnya Allent benar-benar pulang.

Dalam keadaan duka itu, Allent tanpa disengaja bertemu dengan seorang ibu separuh baya. Kira-kira umurnya 49 tahun. Allent dengan lembut dan sopan idzin pamitan. Ibu itu ternyata orang tua Mell. Ia memperkenalkan diri bernama Allent, kebetulan satu jok dengan Mell dalam Garuda Indonesia Airway. Wanita itu juga memperkenalkan dirinya, namanya Santi.

Dalam salaman perkenalan itu, Santi berdecak kagum dan ia merasa sangat hapal benar dengan sosok laki-laki ini. Tetapi karena dalam keadaan duka, maka, segera Santi menyimpan kenangannya terhadap sosok yang berkemungkinan besar menjadi bapaknya Allent. Dalam hatinya, dia berkata: “Allent kau sudah besar dan sangat ganteng”. Aku yakin … itulah engkau. –By. Charly Siera

Komentar
Memuat...