Inspirasi Tanpa Batas

Diantara Kepentingan Bangsa, Pancasila dan Islam Indonesia

Indonesia memang memisahkan islam dari kepentingan-kepentingan bernegaranya tetapi tidak bisa dikatakan langsung sebagai Negara sekuler. Sebab, asas-asas yang menganut keIslaman tidak ditinggalkan sama sekali oleh Indonesia. Malah dijadikan landasan Negara Indonesia. Tidak lain adalah pancasila.

0 62

Konten Sponsor

Apa yang kalian fikirkan ketika menemukan pernyataan tentang Indonesia yang merupakan Negara sekuler dan bukan Negara Islam?. Pasti sebagian banyak dari kalian akan menyinyir. Seperti “Kenapa bisa Negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam tidak menyelimuti negaranya dengan system Islam?”. Kemudian, “Kenapa lebih memilih system yang jelas-jelas tidak diciptakan oleh orang-orang Islam?. Melainkan oleh orang barat”.

Jika pertanyaan-pertanyaan diatas benar adanya seperti apa yang tengah kalian fikirkan sekarang. Berati kalian masih menjadi sebagian orang yang belum mengerti dan mencintai Indonesia sama seperti apa yang orang-orang kemukakan tentang Indonesia Negara Sekuler.

Disini penulis akan menjelaskan semua pernyataan sekaligus pertanyaan diatas. Indonesia memang memisahkan Islam dari kepentingan-kepentingan bernegaranya tetapi tidak bisa dikatakan langsung sebagai Negara sekuler. Sebab, asas-asas yang menganut keIslaman tidak ditinggalkan sama sekali oleh Indonesia. Malah dijadikan landasan Negara Indonesia. Tidak lain adalah pancasila.

Oleh sebab itu  lebih pantas menyebut Indonesia sebagai Negara pancasila dari pada sebagai Negara Sekuler. Jika kalian penasaran tentang asas-asas Islam yang dianut oleh Pancasila. Bisa kita lihat dari lima sila dibawah, sebagai berikut :

  • Sila pertama “Ketuhanan yang maha Esa”. Sangat jelas, sila pertama menjelaskan tentang ketauhidan sebagaimana faham yang di anut oleh umat muslim. Lihat surat (al-ikhlas).
  • Sila kedua “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Menjelaskan tentang manusia yang harus mempunyai sikap adil dan beradab. Banyak ayat dalam al-Quran yang menguraikan untuk manusia agar berbuat adil dan beradab.
  • Sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Dalam sila ketiga ini menurut pemahaman penulis mengandung arti sikap toleransi bagi seluruh jenis dan golongan masyarakat di Indonesia yang harus dianut oleh seluruhnya. Lihat dan fahami dengan mendalam surat (al-hujurat ayat  13). (Ir Soekarno : 28)
  • Bunyinya, “Hai manusia, sungguhlah kami telah menjadikan kamu dari padamu suku-suku dan cabang-cabang keluarga, supaya kamu berkenalan satu sama lain?”
  • Sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Menurut pemahaman penulis sila keempat ini menjelaskan bahwa rakyat harus bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan dengan jalan permusyawaratan ataupun perwakilan.
  • Sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dalam sila terakhir ini, Kita diberikan hak oleh Indonesia untuk memperoleh keadilan dalam bermasyarakat/ hidup bersosialisasi.

Persamaan Pancasila dengan Islam

Inti dasar dari yang sudah dijelaskan dalam point-point diatas adalah bahwa Pancasila dan Islam mempunyai tujuan yang sama. Tidak lain adalah untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini.

Perbedaan Pancasila dengan Islam

Bedanya  adalah Islam berasaskan kepada al-Quran dan al-hadist. Sedangkan Pancasila berasaskan kepada nilai-nilai keagamaan, utamanya islam. Perbedaan lainnya bisa kita jumpai ketika melihat hakikat dari kedua hal tersebut. Islam adalah Agama. Sedangkan Pancasila adalah faham yang tidak bisa dijadikan sebuah kepercayaan/keagamaan.

Sejarah polemik antara Pancasila dengan Islam

Ketika pancasila ini lahir. Tidak serta merta bangsa Indonesia menerimanya dengan baik. Terutama di kalangan umat Islam. Seperti yang dikutip dari edudetik.blogspot.co.id (11/11). Bahwasanya pada tahun 1930 Soekarno dan Natsir berpolemik dalam menentukan dasar Negara. (3/2014)

Soekarno bersikeras terhadap nasionalisnya yang ingin melahirkan pancasila. Natsir juga bersikeras terhadap keislamannya yang ingin Indonesia diselimuti oleh Islam.

Begitu juga pasca kemerdekaan Indonesia. Kedua kelompok yang diwakili oleh Soekarno dan Natsir tersebut bertarung melalui Piagam Jakara. Tepat dalam konsep dasar Ideologi bangsa yaitu pada kalimat “… dengan berdasarkan kepada ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” meskipun pada akhirnya berdasarkan musyawarah dapat diganti dengan kalimat “…berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa.”

Sikap yang harus kita ambil dari sejarah polemik tersebut bukan seharusnya dijadikan sebuah alasan untuk berontak di zaman ini. Berontak terhadap Pancasila ataupun ajaran Islam. Sebab mereka telah tuntas dalam satu kesepakatan dengan menjadikan pancasila sebagai azas negara dengan rumusannya yang sempurna.

Sumber :

Ir Soekarno. 2017. “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme”. Bandung : Sega Arsy.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar