Dikhotomi Antara Ilmu Dan Agama

0 37

Di sini saya akan mejelaskan tentang dikhotomi antara ilmu dan agama. Yakni dikhotomi antara hakikat dan nilai. Dikhotomi yang menyebabkan ilmu menjadi lumpuh; Agama menjadi lumpuh; Hakikat menjadi lumpuh dan nilai menjadi lumpuh.

Jadi tidak mungkin mencabut nilai spiritualisme dan makna etis dari bidang pengetahuan, penelitian dan pengalaman manusia. Sebagaimana kita tidak mungkin membiarkan nilai tersimpan di gudang gereja. Jika ilmu dengan pengertiannya yang sekarang tidak menghendaki dan mengandung fungsi ini. Maka niscaya diperlukan pengembangan konsep ilmu secara lebih luas. Ilmu yang dibekali dengan kekuatan dan sarana yang lebih besar. Ilmu yang mampu mengadakan studi terhadap nilai dan mengetahui bagaimana menanamkannya kepada manusia.

Ilmu seperti ini akan banyak menjamin –dan telah menjamin sebelumnya- apa yang disebut dengan ilmu-ilmu agama. Dan yang tidak bisa dibantah adalah bahwa ilmu yang maknanya luas seperti ini niscaya dan hendaknya mencakup -di antara perhatiannya- kepada semua yang termuat oleh agama. Dan apa yang mungkin menjadi perhatiannya.

Saya pikir saya akan melangkah jauh jika saya katakan bahwa jika kita meletakan kamus dengan kunci istilah dan muatannya yang dianggap keluar dari bidang ilmu berdasarkan konsepnya yang klasik. Maka kita akan menemukan bahwa masing-masing istilah ini saat ini mengandung makna-makna yang petunjuk-petunjuknya terdapat dalam wujud fisikawi.

Dengan demikian perkenankan saya mengatakan bahwa hendaknya terdapat mekanisme baru bagi ilmu. Ilmu harus memiliki makna yang lebih luas. Atheis abad kesembilan belas membakar rumah alih-alih merenovasinya. Ilmu telah melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan agama dan sekaligus jawabannya. Ilmu menolak setiap pernyataan agama. Karena orang yang mendasarkan pada agama memberikan jawaban yang tidak bisa diterima. Dan tidak didasarkan pada bukti-bukti yang bisa dicerna oleh pemilik ilmu yang menghargai dirinya sendiri.

Masalah-Masalah Ilmiah Yang Perlu Mendapatkan Penghargaan

Akan tetapi saat ini, dan setelah lebih banyak ilmu dan pencerahan. Maka meskipun tidak bisa menerima jawaban-jawaban agama juga. Namun telah jelas baginya bahwa objek-objek penelitian agama. Penelitian agama dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan agama seputar masalah kelahiran, eksistensi dan kematian, adalah masalah-masalah ilmiah yang perlu mendapatkan penghargaan yang sempurna.

Ini adalah masalah-masalah yang sangat mendasar mengenai watak manusia. Dan memungkinkan untuk mengadakan studi dan mengujinya dengan teknik ilmiah yang kokoh. Dan bahwa gereja telah berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kemanusiaan yang mulia dan absah. Gereja, meskipun telah keliru dalam memberikan jawaban namun masalah itu sendiri berhak mendapatkan penerimaan yang sempurna dan justifikasi yang sempurna.

Sekarang, yang tidak bisa dibantah, adalah bahwa ahli psikologi alam dan sosial akan menganggap orang yang tidak memberikan perhatian kepada agama. Objek serta masalahnya adalah orang yang menyimpang atau orang yang sakit.

Perasaan Akan Kebangkrutan Pendidikan Modern

Perasaan akan kebangkrutan pendidikan modern ini tidak hanya terbatas pada semisal Roszack dan Maslow. Akan tetapi juga merupakan fenomena umum di kalangan spesialis pendidikan dan filsafat ilmu modern. Teriakan yang diucapkan dari sana sini menakut-nakuti bahaya orang yang terlambat ke tempat di mana manusia akhirnya kembali. Kami mengutip seperti yang berikut ini:

Dalam resolusi Komite Dunia untuk merevisi pendidikan yang dipimpin oleh Edgar Faure dan yang telah kami tunjukan pada awal bagian ini.

“… Saat ini adalah waktunya untuk mengadakan reformasi dalam bidang pendidikan. Pendidikan saat ini menjadi medan polemik. Sudah menjadi keniscayaan agar kita meninjau ulang seluruhnya pendidikan sebagai suatu keseluruhan dan kita akan menemukan pada saat itu bahwa kita benar-benar membutuhkan, lebih besar dari pada saat-saat sebelumnya, untuk saling menolong antar negara dan saling menanggung antar umat dan bangsa”.

Sudah mendesak agar manusia baru merealisasikan sebentuk keseimbangan antara kemungkinannya yang maksimal dalam memahami dan merasakan dengan sifat-sifat yang berkaitan dengan watak, perasaan dan etika yang wajib diterima. Maknanya adalah bahwa pengetahuan bukanlah semata-mata fondasi manusia… bukan dan bukan pula perbuatan manusia, akan tetapi manusia harus, disamping pengetahuan dan perbuatan, merasakan bahwa ia hidup dalam kesesuaian dengan dirinya sendiri dan orang lain…”.

Rene Dubos berkata:

“Ilmu dianggap merobohkan nilai agama dan filsafat yang tidak memberikan alternatif petunjuk tentang perilaku, dan konsepsi tentang alam…. saat ini manusia sulit hidup tanpa berfikir tentang eksistensinya, atau keyakinan akan arti penting kematiannya”.

Kebutuhan Dalam Bidang Filsafat Pendidikan

Bisa dikatakan bahwa harapan dan kebutuhan yang paling jelas dalam bidang filsafat pendidikan -atau pendidikan pada umumnya- bisa disimpulkan sebagai berikut:

Kebutuhan pertama adalah kebutuhan akan filsafat pendidikan yang menghilangkan perbedaan-perbedaan antar manusia dan mentransformasikan mereka kepada kehidupan baru yang fondamennya adalah saling membantu dan cinta.

Kebutuhan kedua adalah kebutuhan akan pendidikan yang membantu manusia menemukan dirinya. Memahami unsur-unsur kepribadiannya; makna harapan dan mimpinya; watak hubungan antara satu individu dengan individu lainnya; atau antara individu dengan masyarakat. Juga kebutuhan akan pendidikan yang mengajarkan manusia tentang cinta, ilmu, merealisasikan pemikiran dan idealisme dalam masyarakat di mana ia hidup.

Kebutuhan ketiga adalah kebutuhan akan terciptanya manusia yang objektif yang tidak terbatas pada mengaplikasikan teknik objektif dalam bidang teknologi, akan tetapi membebaskan dari hawa nafsu dan rangsangan-rangsangannya dan berfikir dengan pemikiran ilmiah dalam semua masalah-masalahnya, bentuk-bentuk perilaku, kebiasaan dan cara hidupnya, keyakinan dan konsepsinya, sehingga menolak pernyataan-pernyataan diri dan pernyataan yang masih prematur, dan bergantung kepada pengetahuan objektif yang mengarahkan perbuatan dan yang ditundukkan untuk mengabdi kepada manusia. Tanpa itu di tahun-tahun mendatang manusia tidak akan mampu turut serta dalam peradaban modern yang menuntut semangat toleransi, menerima perbedaan dan adaptasi dengan perkembangan yang cepat.

Generasi Terakhir Pengkritik Filsafat Pendidikan Modern

Mungkin generasi terakhir pendidikan yang mengkritik filsafat pendidikan modern dan akar-akarnya serta aplikasi-aplikasinya adalah mazhab revisionis. Mereka tersebar di tidak sedikit universitas-universitas Amerika dan Eropa seperti Herbert Jentz, Samuel Bowls, Martin Karnawi, Karir, Joel Springs, Taskoni dan lain-lain.

Mereka mengadakan revisi terhadap akar-akar pendidikan di Amerika dan Eropa dan aplikasinya di luar dua benua tersebut khususnya pendidikan pragmatisme progresif di mana John Dewey adalah salah seorang pelopornya. Mereka membebaskan pengaruh dan dorongan masyarakat yang dihadapi oleh pendidikan ini.

Sehingga analisis yang mereka hasilkan adalah bahwa pendidikan modern dieksploitasi untuk kepentingan kapitalisme. Hal ini dilakukan dengan cara mendirikan sistem pendidikan dan kehidupan sekolah yang menyerupai sistem kehidupan yang dibutuhkan dalam pabrik dan tempat-tempat kerja. Melalui minimalisasi studi dan keilmuan yang menyebabkan manusia mengetahui humanitasnya. Dan menjadikannya rindu akan kemuliaan, kebebasan dan kesetaraan; menolak eksploitasi dan tirani. Itu adalah dengan tujuan menjinakkan para pekerja masa depan sebelum mereka memasuki dunia pekerjaan.

Para revisionis berhenti kepada slogan baru yang intisarinya adalah “pendidikan adalah candu masyarakat” bahkan Ivan Illich menyerukan kepada penghapusan sekolah-sekolah dan menciptakan masyarakat tanpa sekolah. Bisa dikatakan bahwa peran penting yang dimainkan mazhab revisionis adalah internalisasi dasar-dasar historis dan sosial yang menyebabkan kelemahan dalam filsafat pendidikan modern dan aplikasinya, akan tetapi mereka tidak mengajukan alternatif terhadap apa yang mereka kritik. ***Dr. Majid Irsan Al Kailani

Bahan Bacaan

Abraham Maslow, “Khtathr al Insyiqaq bain ad-Din wa al-‘Ilm”, Majid Irsan Al Kailani (penerjemah), dalam Majallah al Ummah, Qatar (Rabi’ul Awwal, 1401 H)

Edgar Faure, Learning To Be, (Paris: Unesco, 1972)

Rene Dubos, So Human an Animal (New York: Charles Sciber’s Sons, 1968)

Komentar
Memuat...