Dimensi Ilahiah dan dimensi Alamiah dalam Pendidikan| Eksistensi Lembaga Pendidikan Islam Part -1

0 65

Sepanjang sejarah perkembangan pendidikan Indonesia, Lembaga Pendidikan Islam (LPI); selalu dihadapkan pada dua pilihan yang diametral. Dua pilihan diametral tersebut, selalu bergerak di antara idealitas (permanen) dan pragmatis (temporal). Kedua pilihan ini, selalu bertanding seolah selalu ingin memenangkan satu sama lain. Kemenagan satu pilihan dianggap akan mengalahkan pertimbangan pilihan lain.

Pada sisi pertimbangan idealitas [permanen], harus diakui jika LPI, selalu menanggung beban berat. Beban ini bahkan nyaris membawa dampak yang kadang kurang nyaman bagi pengembangan postur LPI itu sendiri. Mengapa demikian? Sebab LPI akan menjadi satu-satunya alat dan media untuk mentransformasikan nilai-nilai Islami di dunia pendidikan ke masyarakat luas. Namun demikian, hasyratnya yang bercita-cita menyatukan berbagai prinsip ketuhanan dan kemanusiaan, sulit juga dihindari. Mengapa? Karena LPI hidup di tengah kehidupan masyarakat yang kompleks.

Jika kedua pilihan pertimbangan ini disatukan, maka, LPI akan menjadi lembaga pendidikan dengan ciri yang sangat spesifik. Ia akan menjadi pembeda paling nyata dengan pendidikan Iainnya. Termasuk dengan lembaga pendidikan Indonesia yang coraknya berbeda dengan missi dibawa LPI.

Dialektika dalam Diskursus Missi LPI

Harus diakui jika LPI dengan dua misi sekaligus itu, saat ini sulit menghindari diri dari dunia nyata yang dalam beberapa hal pasti bersifat temporal-pragmatis. Akhirnya, LPI secara terpaksa membawa pekerjaan rumah (PR) yang tampaknya jika menganut faham fatalis, tidak akan pernah selesai, bahkan jika dunia ini telah dinyatakan berakhir [qiyamat]. PR dimaksud terkait dengan posisi LPI ketika harus berhadapan dengan struktur negara dan beban sejarah yang dipikulnya.

Contoh paling nyata dan masih hangat adalah, perdebatan soal dikeluarkannya Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 tentang lima hari sekolah. Permen ini kemudian populer dengan istilah full day school. Penerimaan atau penolakan terhadap Permen ini, telah mengindikasikan ada jurang perbedaan yang mendasar antara posisi LPI dengan keinginan para upper struktur negara di luar jurisdiksi LPI.

Masalah visi dan missi LPI. tampak akan semakin kompleks ketika harus berhadapan dengan tuntutan dunia nyata. Dalam banyak kasus, perkembangannya mengalami progresifitas yang sangat tinggi, namun internal kelembagaannya sulit memperoleh tepi yang berarti. Friksi-friksi di dalam LPI sendiri cukup kompleks.

Karena itu, tulisan serial ini akan mencoba menelusuri misi LPI dan kompleksitas masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, tulisan ini bersifat kontemplatif karena akan membincangkan tentang bagaimana elemen-elemen pendidikan Islam di Indonesia harus berhadapan dan mengambil sikap dengan situasi kekinian. Dapatkah idealitas bisa dipertahankan ketika harus berhadapan dengan sisi temporal yang pragmatis yang dibutuhkan secara nyata di lapangan? Inilah menurut penulis, menarik untuk mencoba kita mengamatinya dan mari kita berdiskusi di forum ini. By. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.