Dinamika Alam Adalah Guru bagi Metode Berpikir | Epistemology Part – 15

0 63

Alam selalu bergerak dan berubah secara dinamik dan teratur. Tidak ada perubahan alam yang datang dengan tiba-tiba. Selalu berjalan dari titik terkecil menuju titik medium, lalu ke titik puncak yang besar. Sebut misalnya, musim kemarau akan berganti menjadi musim hujan, ketika langit penuh dengan awan. Hampir mustahil hujan turun tanpa diawali mendung, meski tidak setiap mendung pasti turun hujan.

Dalam kajian biologi juga sama. Tidak ada konsepsi [permbuahan] misalnya, dalam rahiem seorang ibu, tanpa diawali dengan pertemuan ovum dan spermatozoa. Meski tidak setiap pertemuan ovum dan spermatozoa pasti mengandung, tetapi yang mengandung pasti karena ada pertemuan ovum dengan spermatozoa. Manusia atau makhluk bernafas lain, selalu terbentuk dari pertemuan ovum dan spermatozoa ini. Itulah dinamika atau perubahan alam yang akhirnya dapat mendorong manusia menuju titik tertentu untuk melahirkan ilmu.

Kondisi alam yang demikian teratur,Ai?? secara spekulatif, oleh para filosof diduga karena ada Asas Tunggal. Asas tunggal dimaksud dalam bahasa ilmiah diperkenalkan dengan hukum alamAi?? atau natural law. Dalam bahasa agama disebut dengan Tuhan. Lepas dari soal Tuhan atau Hukum alam yang mempengaruhi, yang pasti dinamika dimaksud, selalu berdiri menjadi penyebab utama lahirnya dinamika alam.

Karena sifat alam yang demikian, maka, manusia mampu melakukan proses generalisasi dan sekaligus eksplanasi. Apa yang disebut dengan hujan buatan atau Perencanaan Keluarga Berencana, sejatinya lahir karena sumber pengetahuan manusia, meletakkan pada dinamika alam. Dinamika alam yang demikian teratur, akan melahirkan proses generalisasi. Dengan bahasa lain, metode berpikir ilmiah, lahir karena alam berubah secara ritmis.

Makna Natural Law

Filosof yakin bahwa natural law telah menjadi salah satu sebab adanya ketertibtan alam. Nurcholish Madjid (1992) menyebut natural law yang demikian dengan istilah teleologisAi??[Ii??Ii??Ii??I?Ii??/Yunani]. Ia berasal dari kata telos [akhir, tujuan atau maksud] dan Ii??I?I?I?Ii?? atau logos yang berarti perkataan. Kamus Teologi susunan Henk Ten Napel [2009] menyebut bahwa teleologis akhirnya menjadi sebuah ajaran yang menerangkan segala bentuk kejadian menuju pada tujuan tertentu.

Istilah ini, menurut R. Soedarmo [2010], pertama kali diperkenalkan Christian Wolff, filsuf Jerman abad ke-18. Dia adalah ilmuan yang menjeleaskan gejala-gejala alam yang teratur, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Inilah kemudian yang menjadi ajaran filosofis-religius yang mengkaji tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia.

Kita tahu bahwa alam berjalan dalam ritme dinamis dan tertib. Titus, Smith dan Nolan menyebut alam yang demikian teratur itu sebagai motor (penggerak) bagi lahirnya kajian kekefilsafatan. Filsafat dan ilmu dianggap Titus, Smith dan Nolan (1984) sama-sama berupaya mencapai kebenaran melalui keteraturan alam. Tidak salah juga jika dikatakan bahwa penelitian ilmiah pada awalnya cenderung sangat cosmosentris. Ketertiban alam dianggap dan harus diletakkan sebagai objek ukuran dalam menentukan kebenaran.

Gugatan Ilmuan Atas Natural Law

Ditemukannya metode berfikir ilmiah, secara langsung telah menyebabkan terjadinya ledakan kemajuan ilmu pengetahuan. Manusia bukan saja dianggap dapat hidup dalam ritmis modernisme yang serba mudah dan menjanjikan. Lebih dari itu, manusia, dapat menggapai sesuatu yang sebelumnya seolah tidak mungkin digapai. Manusia perlahan dapat “mengganti” sebagian peran Tuhan dalam menentukan “taqdirya”. Manusia tidak lagi berpangku tangan terhadap apa yang menjadi kehendak alam.

Corak-corak metodis yang sandarannya pada kondisi alam yang dinamik dan teratur, harus diakui telah menyebabkan lahirnya ilmu pengetahuan dengan sifat dan kecenderungan yang positivistik. Kondisi ini disebut Kuntowijoyo (1991) dan Noeng Muhadjir (2004) telah menyebabkan bebasnya manusia dari pikiran etis, ke pemikiran determinis (berdasarkan pada hukum kausalitas) dan evolusionistik (melihat sejarah sebagai dasar dalam menentukan objek yang diteliti). Ilmu selalu lurus berkembang dalam ukuran-ukuran yang konkret dengan model dan pendekatan serta eksperimen dan observasi yang serba terukur.

Dalam perkembangan selanjutnya, model dan cara berfikir demikian telah memperoleh gugatan. Alasannya, karena tidak sernua ilmu dapat didekati dengan model yang sama. Di kasus tertentu, kondisi ini dianggap menyebabkan keringnya ilmu pengetahuan dari nilai etik kemanusiaan. Apalagi nilai etik ketuhanan. Sebab sumber kebenaran terbatas hanya pada aspek- aspek yang bersifat konkret dan rasional murni. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.