Inspirasi Tanpa Batas

Sejarah Hubungan Baik Dinasti Thahiri dengan Dinasti Abbasiyah

0 38

Konten Sponsor

Pada masa Harun Arrasyid situasi pemerintahan Dinasti Abbasiyah sudah mulai melemah. Tekanan dari luar dan dalam terus menerus menghampiri. Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abbasiyah, sikap setiap khalifah yang tidak pernah bisa lepas dari kemewahan, pemberontakan dari beberapa golongan  dan lain-lain selalu terjadi.

Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abbasiyah, bisa dijumpai ketika Khalifah al-Ma’mun menumbangkan khalifah al-Amin melalui Pasukan yang dipimpin Thahir Ibn Husain dari Persia. Atas keberhasilan panglima Thahir Ibnu Husain tersebut, khalifah al-Ma’mun akhirnya memberikan hadiah Jabatan Gubernur kepada Thahir ibn Husain. Kelak hadiah tersebut menjadi cikal bakal Dinasti Thahiri. Dinasti Thahiri juga sebagai tanda tonggak awal kemunculan dinasti-dinasti kecil lainnya yang akan dijadikan fokus dalam kesempatan ini.

Dinasti Thahiri

Selain menumbangkan khalifah al-Am’in, Thahir Ibn Husain berhasil meredamkan pemberontak Kaum Alwiyin di Khurasan. Tidak heran, setelah Thahir ibn Husain diberikan hadiah jabatan Gubernur di Mesir, khalifah al-Ma’mun memberi izin kepada Thahir ibn Husain untuk mendirikan Dinasti Thahiri, dengan syarat tetap menjalin hubungan baik dan setia dengan pemerintahan Abbasiyah di Baghdad.

Tujuh tahun setelah didirikan Dinasti Thahiri, Thahir ibn Husain meninggal. Kemudian, Thalhah Ibn Thahir menggantikan posisi khalifah Dinasti Thahiri selama 6 tahun pada tahun 207 H. Setelah Thalhah Ibn Thahir, kekuasaan berpindah tangan kepada penerusnya, yakni Abdullah Ibn Thahir pada tahun 213 H. Pada masa Abdullah Ibn Thahir, khalifah al-Ma’mun memberikan wilayah kekuasaan sampai ke Suriah dan Jazirah.

Tetapi pada tahun 213 H, Abdullah Ibn Thahir didapati Khalifah al-Ma’mun cenderung memihak kepada keturuan Ali Ibn Abi Thalib. Sehingga wilayah kekuasaan Suriah, Mesir dan Jazirah diambil kembali. Lalu diberikan kepada saudara Khalifah al-Ma’mun, yakni Abu Ishak ibn Harun Arrasyid.

Dinasti Thahiri mengalami detik detik keruntuhan pada tahun 259 H, ketika Muhammad Ibn Thahir menjabat kekuasaan Dinasti Thahiri. Ditandai dengan beberapa penyerangan yang dilakukan Bani Saffari dan pasukan ALawiyin.

Sumbangsih Dinasti Thahiri terhadap Islam

Dinasti Thahiri mampu menjadikan kota Naisabur sebagai salah satu pusat perkembangan ilmu dan kebudayaan Islam. Disisi lain, negeri Khurasan mengalami kemakmuran dalam segi ekonomi. Sehingga kegiatan ilmu dan kebudayaan diberi ruang yang sangat luas. Selain itu, Dinasti Thahiri juga mampu menjaga keamanan wilayah sampai ke Turki.

Sumber : Supriyadi, Dedy. 2008. “Sejarah Peradaban Islam”. Bandung : Pustaka Setia

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar