Disintegrasi Agama, Sosial dan Alam terhadap Ibadah

0 208

Filsafat pendidikan Islam menegaskan keharusan integrasi dan kesatuan ketiga aspek ibadah. Karena pemisahannya menyebabkan pada penafian interaksi masing-masing dan merubahnya menjadi semata-mata gerakan dan praktek yang hampa tanpa ruh, kreativitas dan vitalitas. Masyarakat yang mentolelir pemisahan antara ketiga aspek tersebut mulai mengalami kemunduran, kemudian menuju kehancuran dan hal itu disebabkan karena:

Munculnya Lembaga yang Saling Bertentangan

Pertama, pembatasan konsep ibadah pada aspek agama mengarah kepada kelalaian akan aspek sosial dan aspek alam. Sehingga menafikan pengamatan kepada keduanya dan runtuhnya ilmu sosial dan alam atau menyimpang dari tujuan dan alurnya yang benar. Pemisahan ini menyebabkan munculnya tiga lembaga yang merefleksikan ketiga bidang ilmiah yang masing-masing berjalan secara bertentangan satu sama lain. Hal ini menyebabkan masyarakat berakhir kepada kehancuran dan keruntuhan.

Lahirnya Dua Kelompok Pembelajar

Kedua, pembatasan konsep ibadah kepada aspek agama dan pemisahannya dengan aspek sosial menyebabkan pada lahirnya dua kelompok pembelajar. Kelompok pertama adalah orang-orang ahli beragama yang memiliki sifat negatif dan lemah. Kelompok kedua adalah kelompok ahli sosial yang memiliki sifat bebas dan tidak memiliki orientasi perilaku.

Pemisahan antara aspek agama dan aspek sosial juga menyebabkan lahirnya model ahli agama yang memiliki sifat tawakal, malas dan bekerja karena keterpaksaan. Model orang yang ahli yang memiliki sifat materialisme konsumtif yang membutuhkan orientasi perilaku sehat. Ini adalah yang terjadi pada masa-masa Islam akhir ketika aspek-aspek ibadah terbelah. Sehingga terbelah pula konsep pengetahuan dan terbatasnya lembaga pendidikan dan pengajaran kepada aspek agama.

Hal ini menyebarnya wilayah kekuasaan syaikh dan darwis profesional, dan menyebar pula kemalasan, kelemahan, keterpaksaan dan negativisme di hadapan bencana dari dalam dan ancaman dari luar. Ini sama dengan menyebarnya negativisme sosial, penyakit moral dan beraneka ragam masalah.

Timbulnya Konflik Sosial

Ketiga, pembatasan konsep ibadah kepada aspek agama mencegah orang-orang yang sibuk dalam bidang sosial dan alam dari orientasi dan petunjuk. Sehingga dalam kehidupan mereka menyebar penentangan terhadap nilai dan etika dan timbulnya konflik sosial. Ini adalah yang terjadi pada masyarakat Islam pada masa-masa terakhir dan menyebabkan bencana dan sebab-sebab perpecahan.

Ketika masyarakat Islam modern memperhatikan pengaruh kelemahan ini, mereka tidak mulai merevisi dan mengevaluasi bidang pendidikan. Akan tetapi berlindung kepada taklid –taklid masa stagnasi di era klasik, taklid masa dikhotomi antara agama dan ilmu di era modern. Pembatasan dan aplikasi yang sempit terhadap konsep ibadah menjadi kokoh dan terbangun dualisme dalam pembelajaran. Pentaklid era klasik mengambil spesialisasi ilmu agama yang membatasi konsep ibadah kepada aspek agama. Pentaklid modern mengambil spesialisasi ilmu sosial dan alam yang terpisah dari ilmu agama. Dari sini timbul dualisme yang tidak selaras pada generasi-generasi modern masyarakat Islam dan menurunkan taraf kepribadian Islam dari apa yang seharusnya pada masa permulaan risalah.

Menafikan Risalah Agama sebagai Reformasi Sosial

Keempat, pembatasan konsep ibadah kepada aspek agama dan pemisahan dengan aspek sosial menafikan risalah agama sebagai reformasi sosial dan membelenggunya untuk memerangi kejahatan, bahkan merubahnya menjadi faktor penyangga bagi keburukan yang terjadi sehari-hari. Ini adalah sebab yang menjadikan –orang yang menyukai kemewahan dan kenikmatan- di setiap generasi menyerukan pemisahan agama dari kehidupan, yakni sebab yang menjadikan mayoritas yang terzhalimi bergabung di bawah panji orang-orang yang mengingkari agama.

Keharusan Memadukan Aspek Agama dan Sosial dalam Al Quran

Karena sebab-sebab inilah filsafat pendidikan Islam diharuskan memadukan simbol-simbol agama dengan aspek sosial dan aspek alam untuk ibadah, dan memadukan aspek agama dengan aspek sosial yang Qur`an tunjuk ketika berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 177).

Kesadaran dan Agama sebagai Fenomena Historis yang Terbatas

Kelima, pemisahan antara aspek agama dan aspek alam terhadap ibadah menjadikan kesadaran dan agama sebagai fenomena historis yang terbatas dalam waktu dan tahapan tertentu dalam perkembangan masyarakat manusia dan menghalangi agama memberikan banyak bukti yang merupakan penjelasan dari “ayat ufuk dan jiwa” sehingga gagal melakukan reformasi, pengayaan dan kontinuitas dalam bidang pemikiran, nilai dan aplikasi. Oleh karena itu instruksi Tuhan menuntut Rasulullah SAW agar mengarahkan akal mereka kepada aspek alam setiap kali mereka menuntut dalil atau bukti atas kebenaran dakwahnya dalam “aspek agama”.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.