Djiaw Kie Siong Sosok Hampir Terlupakan dalam Prosesi Kemerdekaan RI

0 79

Djiaw Kie Siong adalah satu dari sekian banyak warga keturunan Tionghoa yang masuk dalam jajaran orang Cina yang tercatat dalam deretan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Petani kecil ini, merelakan rumahnya untuk digunakan para pemuda-pemudi Indonesia berkumpul membincangkan kemerdekaan Indonesia. Termasuk tentu, ia merelakan rumahnya dimaksud untuk digunakan pemuda progresif dimaksud guna mengamankan Soekarno-Hatta dari pengaruh Jepang.

Atas jasanya dimaksud, Djaw Kie Siong, diberi penghargaan berupa sertifikat dari Mayjen Ibrahim Adjie sebagai pembela tanah air. Penghargaan ini diberikan kepadanya pada tahun 1961. Penghargaan diberikan kepadanya karena dia secara rela mengidzinkan rumahnya untuk dijadikan tempat perjuangan kemerdekaan yang dilakukan para kaum muda Indonesia.

Di depan rumah ini juga, bendera merah putih telah dikibarkan sejak tanggal 15 Agustus 1945. Tentu untuk di zaman tersebut,  langkah tersebut dianggap berani. Karena hal itu mengandung arti bahwa ia head to head melawan Jepang. Keberanian itu dilakukannya karena ia menginginkan agar proklamasi kemerdekaan segera dibacakan.

Saat Soekarno dan Hatta diasingkan oleh Soekarni, Chaerul Saleh dan Wikana, umur Djiaw Kie Siong saat itu berada di kisaran 66 tahun. Kampung Bojong, Rengasdengklok, Kerawang ini, mengisahkan geroisme laki-laki Tionghoa yang lahir tahun 1879, meninggal tahun 1964 sebagai deretan nama yang turut menyumbang atas lahirnya kemerdekaan. Meski tentu perjuangan yang diberikan Djaw Kie Siong tidak memanggul senjata seperti pejuang lainnya.

Memindahkan Rumah Sejarah

Djiaw Kie Siong adalah petani kecil keturunan Tionghoa. Ia tidak termasuk dalam deretan bangsa Tionghoa Indonesia yang kaya. Namun demikian, ia menjadi sosok yang demikian gigih bagaimana perjuangan kemerdekaan Indonesia dapat terus diupayakan.

Ia juga ingin perjalanan kebangsaan tidak terlupakan. Karena itu, ia menginginkan agar peristiwa yang terjadi di rumahnya itu tetap terawat.Karena keinginannya yang demikian besar itu, ia memindahkan rumahnya yang terletak di bantar sungai Citarum dimaksud, ke jarak yang lebih jauh yakni sekitar 150 meter dari bantar sungai. Ia takut rumahnya tergusur air bah jika tidak dipindahkan. Pemindahan rumah tersebut tentu murni menggunakan uang yang dimilikinya.

Pemindahan rumah itu tidak mengubah sedikitpun seluruh barang yang digunakan Soekarno-Hatta saat menyusun teks naskah proklamasi. Termasuk bentuk kamar dan segala isinya yang digunakan Soekarno-Hatta istirahat. Bahkan digambarkan beberapa coretan tangan di kertas yang berserak, awalnya diamankan dia. Meski kemudian membakarnya karena takut Jepang kembali berkuasa.

Rumah di bantar sungai itu pindah tempat. Dan ternyata dugaan Djaw Kie Siong benar. Beberapa tahun setelah itu, tempat yang dulunya dijadikan tempat penyimpanan Soekarno-Hatta tergerus air bah sungai Citarum.  Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.