Do’a Menghadapi Fitnah | Cara Ke luar dari Krisis Diri – Part 6

Do'a Menghadapi Fitnah| Cara Ke luar dari Krisis Diri – Part 6
0 3.296

Do’a Menghadapi Fitnah. Pernahkah anda menangis gara-gara mau lebaran tidak mampu membeli pakaian baru? Pakaian yang akan digunakan atau diberikan kita kepada istri dan anak-anak. Padahal orang lain, misalnya tetangga sudah pada membelinya. Pernahkah anda mencucurkan air mata, saat anak anda menangis minta air susu, lalu anda tidak mampu membelinya?

Saya kira, mungkin iya ada yang menangis karena kekurangan tadi. Tetapi, jumlah manusia yang menangis karena tidak mampu membeli pakaian atau membeli susu buat anaknya akan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan ketika kita diuji oleh sebuah firnah. Fitnah yang merongrong bukan hanya dada, tetapi jantung dan hati kita.

Jadi apa yang paling mudah membuat anda menangis karena dianggap paling menyakitkan dalam hidup? Jawabannya ternyata adalah saat kita diragukan. Diragukan dalam konteks apa? Ya dalam konteks apapun yang menjadi watak dasar dan potensi kita sebagai manusia biasa. Misalnya, jika anda menjadi peneliti, orang tanpa tahu apa yang kita teliti, tiba-tiba meragukan atau bahkan menistakan hasil penelitian yang dengan susah payah kita susun.

Jika anda menjadi pebisnis yang jujur dan ulet, tiba-tiba diragukan hasil bisnis yang anda peroleh. Jika anda menjadi guru atau dosen, yang dengan susah payah anda berkarier di dalamnya, tiba-tiba misalnya dituduh sebagai guru atau dosen yang tidak baik. Kita diragukan keguruan atau kedosenannya. Jika anda sebagai politikus, lalu anda diragukan kemampuan politiknya. Jika anda sebagai pemegang keuangan, diragukan laporan keuangannya.

Akan terasa menyakitkan, ketika yang menuduh itu tidak mampu menunjukkan batang hidungnya. Ia bersembunyi di balik tirai-tirai hidup yang sulit diurai. Saat kita bergulat dengan sejumlah pemikiran buruk yang tidak tahu dari mana semua ini berpangkal. Situasi inilah yang paling menyakitkan. Mengapa? Karena dalam terminologi agama, inilah yang disebut dengan fitnah. Jadi menghadapi fitnah, itulah beban yang paling berat dalam hidup. Inilah ujian terbesar dalam segenap perjalanan psikologis kita sebagai manusia.

Apakah kita boleh sakit saat fitnah itu datang menerpa kita? Pasti dan tidak mungkin ada manusia yang rela dan ikhlash menerima fitnah.Mengapa misalnya, Allah dalam al Qur’an surat al Baqarah [2]: 191 menyatakan bahwa fitnah lebih kejam dibandingkan dengan membunuh. Mengapa? Sebab memfitnah sama dengan membunuh. Membunuh yang lebih keji dan lebih menyakitkan.

Apa boleh kita dendam menghadapi siatuasi semacam itu? Itu tidak boleh! Mengapa? Sebab jika kita memiliki rasa dendam, Tuhan tidak akan hadir menolong kita. Biarkan untuk waktu tertentu, hal itu terjadi dan berlalu. Setidaknya untuk melakukan koreksi atas apa yang mungkin salah telah menimpa kita. Jika kita benar-benar merasa tidak bersalah atas apa yang disebut dengan fitnah dimaksud, maka, kita baru boleh melangkah.

Cara Menghadapi Fitnah

Menghadapi situasi semacam ini, sejujurnya saya diingatkan akan perjalanan hidup yang dialami saya sendiri. Situasi inilah yang kadang membuat diri saya sekeluarga harus melakukan hijrah ahwaliyah. Banyak melakukan intropeksi diri. Setelah benar-benar yakin bahwa itu fitnah, melangkahlah dengan tenang. Selesaikan benang kusut itu, dengan pikiran yang jernih. Lalu perkuatlah melakukan afirmasi [do’a] kepada Tuhan yang kita anut. Tujuannya, agar hati kita tetap utuh dan mata hati tetap tajam melihat keadaan.

Saat situasi semacam itu berlangsung, umumnya kami melakukan do’a berikut ini:

“Ya Allah, ya rabbi yang kariem … Aku pasrah pada ketentuanmu. Aku ikhlash dan menerima apapun yang menjadi ujian-Mu kepada kami sekeluarga. Namun hanya karena Engkaulah satu-satunya tempat di mana kami berlindung, aku hanya akan berlindung kepada-Mu dari segenap kebakhilan [kebodohan].  Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut. Aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur.” [al hadits]

Ya Allah melalui fitnah ini, Engkau hadirkan kesadaranku sebagai manusia biasa yang penuh dosa. Tetapi jauhkanlah aku dari sebutan-Mu sebagai hamba yang berada dalam derajat sebagai pembuat dosa terburuk [fitnah]. Sebab sesungguhnya, aku sadar, seburuk-buruk pembuat dosa dimata-Mu [selain musyrik] adalah mereka yang menutup mulut dan telingannya. Mengapa? Karena mereka tidak berakal. Ya Allah perkenankanlah aku tetap berada dalam barisan hamba-Mu yang selalu memuji-Mu dan tetap berada dalam posisiku sebagai hamba yang berakal. Amiin ….”

Dalam konteks hubungan kemanusiaan, kita menjalani hari-hari dengan biasanya dan apa adanya. Tidak perlu melakukan rekayasa dan menyembunyikan apapun yang kita sedang rasakan. Apalagi sambil membuat keburukan kepada orang lain. Jika kita mampu berada dalam posisi tenang seperti ini, saya yakin Tuhan akan menyertai kita. Semuanya, pasti berujung dengan buah manis. Bukankah hanya Tuhan yang menjadi pemilik untuk mengangkat dan menjatuhkan martabat kita sebagai manusia.

Yang pasti, orang yang terkena fitnah, pasti akan diangkat derajatnya. Dan yang membuat fitnah, tidak lama lagi akan dijatuhkan martabat kemanusiaannya. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...