Inspirasi Tanpa Batas

Do’a Suami untuk Istri Sedang Hamil di Jarak yang Jauh

0 1.079

Konten Sponsor

Do’a Suami untuk Istri Sedang Hamil di Jarak yang Jauh. Suatu hari, saya tinggal di Banda Aceh. Meninggalkan istri yang sedang mengikuti studi S1 di Cirebon. Tinggal di Banda Aceh kurang lebih 2 tahun lamanya. Kepergian ke Aceh dengan maksud tugas belajar, bersamaan dengan posisi istri yang sedang hamil pertama. Inilah anak yang dikandung istri, dalam posisi saya tidak dapat bersama mendampinginya. Bahkan sampai anak berusia 16 bulan. Hanya sewaktu-waktu, tentu dalam waktu yang singkat, saya dapat menemani anak di kurun waktu itu.

Sampai ketika saya benar-benar menyelesaikan studi S-2 dan tinggal bersamanya, anak memanggil saya sebagai tamu. Bukan sebagai bapaknya. Mengapa? Karena dari mulai dia dikandung, sampai berumur 16 bulan itu, ia tidak bertemu dengan saya. Sakit memang berada dalam posisi seperti itu.  Tetapi apa daya, itulah pilihan hidup. Hampir tidak mungkin seorang ayah, yang ingin membiarkan anaknya berada dalam rentang jarak yang berjauhan.

Saat berada dalam jarak yang jauh itu, saya hanya mampu berdo’a. Berdo’a kepada yang Maha Kuasa dan pasrah atas berbagai kemungkinan yang terjadi. Memasrahkan dan menitipkan anak kita yang dikandung istri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai pemilik segala kesemestaan.

Membayangkan bagaimana istri kita hamil tua, harus berjalan di jalan umum. Di jalan yang kadang terjal. Berjalan dalam kepulan asap yang penuh volusi atau bahkan berjalan dari rumah ke mushala/Masjid yang kadang cukup curam. Ingin rasanya menuyun dirinya, ketika jalan turun atau mendorongnya ketika jalan menanjak.

Membayangkan bagaimana buncitnya perut yang dia kandung. Terbayang bagaimana lelahnya hidup seorang istri. Ketakutan kadang membayang, menghinggapi nadi-nadi dan pori-pori kita yang juga sesungguhnya gelisah. Gelisah yang antah berantah. Suami atau calon ayah dari bayi yang dikandung itu, juga tahu resiko yang namanya melahirkan itu, memiliki dua ruang yang sulit ditafsirkan.

Saat seorang perempuan sedang mengandung anak, itulah puncak spiritual kemanusiaan laki-laki. Di jarak yang jauh, seorang bapak yang baik pasti akan menekan tingkat kepusingan istrinya. Ia akan lebih banyak menghadap Tuhan-nya, siang dan malam. Membaca apa saja yang biasa atau yang bisa dibacakan.

Do’a yang Terlantun di Jarak yang Terjauh

Secara umum, selain membaca al Qur’an setiap habis shalat meski hanya satu atau dua ayat, khusus ba’da Maghrib, saya mempersembahkan untuk anak-anak yang sedang di kandung itu, suatu bacaan surat al Mulk. Terus tanpa henti sampai anak itu benar-benar lahir. Selain itu, do’a-do’a Nabi Ibrahim dan Zakariya juga dibacakan tanpa henti setiap habis shalat.

Do’a kedua Nabi dimaksud, saya adaftasi dari surat Ibrahim [14]: 40, Al-Furqon [25]: 74 dan Ali Imran [3]: 38. Do’a kedua Nabi itu, diilustrasi dalam kalimat berikut ini:

Wahai Tuhan-ku dan Tuhan keluarga Kami, serta Tuhan seluruh manusia yang bertauhid, jadikanlah aku beserta seluruh keturunanku, keluarga yang selalu melaksanakan shalat …. Keluarga yang selalu tunduk pada semua titah-Mu.

“Ya Allah ya Rabbi ya karim …. Anugerahkanlah kepada kami, istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati. Jangan jadikan anak dan keturunan kami sebagai beban hidup baik di dunia maupun di akhirat. Jadikanlah kami beserta keturunan kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa,”

“Ya … Rabbi ya … ghaniyu ya … fattah ya alim, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Anak yang mampu memberiku pandangan mata yang indah dan dapat membawaku bersamanya menuju pintu-Mu yang abadi. Ya Allah terimalah do’ku karena sesungguhnya Engkau Maha Mendengar setiap jeritan doa setiap hamba-Mu”

Inilah do’a yang menyejukkan hatiku. Biasanya, baik sehabis shalat atau pada malam hari, do’a itu selalu diakhiri dengan tetesan air mata. Dalam linangan air mata itu, diakhiri dengan kalimat: Ya Allah ampuni dosaku. Jangan Kau bebankan dosaku kepada anak-ku. Meski air mata menetes, tetapi biasanya, kebahagiaan datang. Sebab kita yakin, Allah mendengar do’a kita. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar