Take a fresh look at your lifestyle.

Dokter Entrepreneur

1 32

Konten Sponsor

Siang itu, Juni 2011, para intelektual angkatan 1990-an, berjumlah kurang lebih 70 orang, berkumpul di sebuah Rumah Makan Beber. Kami berdiskusi tentang  berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan. Di pertemuan itu, ada satu pemandangan unik, yakni kehadiran seorang dokter spesialis THT. Dia adalah Alumni UNPAD Bandung. Seorang dokter yang penampilannya bersahaja dan jauh dari kesan sebagai seorang dokter  spesialis yang umumnya glamour. Ia menjadi dokter bertipikal entrepreneur. Karena itu kami memanggilnya dengan dokter entrepreneur

dr-asad-300x300

Adik seorang Profesor Universitas Islam Negeri di Bandung ini, ternyata sama. Dia adalah aktivis. Karena dia sama-sama berasal dari Padepokan Intelektual, akhirnya didaulat menjadi ketua KAHMI Cirebon. Pertemuan terus kami jalin. Diskusi marathan terus dilakukan, khususnya ketika kami harus mencari jalan ke luar tentang bagaimana nasib para alumni Pendidikan Tinggi dapat terserap di dunia kerja.

Dokter spesialis Rumah Sakit Gunung Djati ini, merintis dunia usaha akhirnya dengan membuka Rumah Makan di Lapangan BIMA. Membuka kursus Bahasa Inggris dan mengembangkan obat untuk kesehatan unggas dan peternakan lain. Semua digelutinya dengan tekun di sela kesibukan sebagai seorang dokter. Pertemuan saya dengan beliau, lebih banyak berbicara entrepreneurship dibandingkan tema lain. Kami memiliki ideology ekonomi yang sama, di mana kami harus tumbuh seperti pohon bambu.

Diketahui kalau bambu tidak pernah ditanam dari bibit yang besar dan dari jumlah yang banyak. Bambu selalu berasal dari bibit kecil dengan jumlah yang sedikit”. Tunggal dan kecilnya bibit bambu dapat melahirkan anak yang banyak dan besar-besar. Tanah di sekitar bambu tidak pernah kering malah justru menjadi lebih subur. Batang pohon yang tumbuh di sekitar bambu sendiri, tegak berdiri dengan julangan yang sangat tinggi.

Virus Enterpreneur

Virus entrepreneur merasuki jantung dan titik-titik tertentu dalam darah kami. Kami terus menerus berjuang dalam medan yang berbeda, meski visi-nya sama yakni pentingnya mengembangkan dunia entrepreneur.  Doktrin dan simbol yang melekat dalam neuron kami satu, yakni: Kita menjadi apa yang kita percayai. Apapun itu! Tekad kami tunggal, yakni: Yakin bahwa setiap usaha yang dilakukan pasti akan sampai pada tujuan yang dituju.

Dalam berbagai pertemuan berskala nasional, ia menemukan seorang funding yang berani mengambil resiko dalam pendirian Rumah Sakit Internasional di Cirebon. Rumah sakit itu, berdiri, diresmikan dan mulai operasional awal tahun 2016 ini. Jalan Tuparev menjadi saksi bisu akan kokohnya bangunan rumah sakit yang menembus sampai ke Jalan Pilang Raya.

Melalui Rumah sakit ini, tentu efek dominonya banyak dan kompleks. Ratusan pegawai mulai dari dokter, suster, tenaga administrasi dan  teknisi lapangan misalnya, mulai terserap di Rumah Sakit ini.

Sebagai seorang dokter spesialis dengan istri yang juga sama-sama dokter, tentu untuk sekedar mempertahankan hidup dengan segenap kemewahannya dapat ia lakukan, tanpa harus bersusah payah mendirikan rumah sakit. Tetapi, mengapa ia akhirnya mendirikan Rumah Sakit? Untuk dirinya atau untuk orang lain? Banyak orang awwam berpikir untuk dirinya.

Tetapi logika entrepreneur berbeda. Ia pasti berpikir untuk orang lain. Faktanya, hari ini, dia sama seperti saya. Yang setiap hari ditakuti satu rasa, yakni selalu memikirkan nasib hidup karyawannya, jika ternyata usahanya gagal, atau terlambat maju. Ia menjadi praktisi yang setiap jamnya dihabiskan untuk memikirkan orang lain. Kebahagiannya berpindah dari memikirkan dirinya sendiri menjadi memikirkan orang lain.

Pertanyaan lainnya, berapa banyak  orang seperti dr. Asad ini lahir di Indonesia? By. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna