Dominasi Loyalitas Etnosentrisme dan Mazhab Dalam Sistem Pendidikan Islam

0 15

Loyalitas Etnosentrisme dan Mazhab Dalam Sistem Pendidikan Islam: Sesuai dengan konteks jika kami katakan bahwa lembaga pendidikan yang ada di dunia Arab dan Islam modern membutuhkan “hubungan keadilan dan kebaikan. Oleh filsafat pendidikan Islam dijadikan sebagai model hubungan antara manusia dengan manusia. Ia menempati berbagai macam hubungan yang saling berbaur yang didirikan atas loyalitas mazhab dan fanatisme. Dalam hal ini sama antara lembaga pendidikan Islam dan lembaga pendidikan modern. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

Lembaga Pendidikan Islam

Kebanyakan metode dan penggambaran dari lembaga pendidikan ini diwariskan dari periode stagnasi dan kemadzhaban. Bukan dari periode keemasan dan kesatuan afiliasi kepada satu umat Islam yang memiliki keberanian yang terbuka terhadap kemanusiaan seluruhnya. Oleh karena itu bentuk hubungan yang diinternalisasikan antara manusia dengan manusia menjadi beranekaragam dan bercampur aduk. Akibatnya mempengaruhi hubungan-hubungan yang ada dalam masyarakat luas di sekitarnya.

Hubungan antara manusia dengan manusia ada kalanya tidak ada sama sekali. Sehingga bentuk dan karakter idealismenya selalu diulang-ulang dalam metode, studi dan rujukan lembaga tersebut. Yakni “individu” yang mengadakan slogan. Keselamatan di akhirat seakan-akan ia tidak hidup di dunia.

Adapun umat yang terbentuk dari jalinan individu, nilai, pemikiran dan jaringan hubungan sosial terbagi antara dua batas keadilan dan kebaikan. Ini menyembunyikan gambarannya dari lembaga pendidikan Islam. Yaitu dengan tersembunyinya periode keemasan pendidikan yang menyertai periode penaklukan. Serta membawa risalah dan pemberian peradaban kepada seluruh umat manusia.

Hubungan Fanatisme Madzhab

Terdapat bentuk hubungan lain yang diinternalisasikan oleh lembaga ini antara manusia dengan manusia. Yakni hubungan fanatisme madzhab yang juga pertumbuhannya berasal dari masa stagnasi dan madzhabisme. Yaitu ketika pendidikan mulai memusatkan kepada pengajaran madzhab dan dicatat sebagai kelas tokoh madzhab dalam kapasitasnya sebagai agen bagi kebenaran mutlak dan yang selainnya adalah mutlak salah. Kemudian bekerja untuk meningkatkan loyalitas pendidik dan membentuk hubungan kemanusiaannya melalui bingkai madzhab.

Lembaga pendidikan yang utama seperti asosiasi keagamaan, kelompok politik Islam dan tarikat-tarikat sufi mengejawantahkan hubungan manusia dengan manusia. Hal ini untuk membantu loyalitas “anggota” atau “murid” terhadap asosiasi, kelompok dan tarikatnya.

Semua ini merupakan bentuk-bentuk loyalitas yang tidak memberikan keluasan kepada hubungan-hubungan lain. Ia juga tidak berkenan terhadap keluasan wilayah hubungan. Sehingga mencakup hubungan manusia dengan manusia. Dengan tidak mempertimbangkan keyakinan atau rasnya.

Kebanyakan kelompok ini mencampur antara “hubungan orang beriman dengan orang beriman” dengan “hubungan manusia dengan manusia” kemudian yang pertama menempati yang kedua sehingga membatalkan dan menghilangkan pengaruh-pengaruhnya. Hanya saja yang kedua berbeda dengan yang pertama dan tidak membatalkannya, dalam hubungan “orang yang beriman dengan orang yang beriman” adalah hubungan persaudaraan, sedangkan hubungan manusia dengan manusia adalah hubungan keadilan dan kebaikan meskipun manusia berbeda keyakinan dan rasnya dan jika tidak ada persamaan yang tersisa di antara mereka kecuali persamaan asal-usul dan jenis manusia. Ini adalah hubungan yang menjadikan toleransi menjadi kaidah yang mendasar dalam hubungan ras manusia.

Lembaga Pendidikan Islam Merasa Cukup Dengan Meminjam Sistem Pendidikan Barat

Ketika lembaga pendidikan Islam hendak memperbaiki sistemnya pada abad sekarang ini –atau abad 16-an Masehi merasa cukup dengan meminjam bentuk bangunan, nama ijazah, dan gelar pengajar dan dengan meminjam birokrasi Barat yang bertentangan dengan universitas dan lembaga pendidikan di sana untuk keluar dari pengaruh negatifnya yang disebarkan oleh pejabat dan menyebar tingkatan ijazah dan pangkat ilmiah dan tugas dan melemahkan hubungan kemanusiaan antara pengajar dan peserta didik.

Semua ini menyebabkan terjadinya loyalitas Islam modern untuk madzhab, asosiasi, kelompok atau tarikat. Umat Islam atau kemanusiaan yang kembali kepada satu bapak dan satu ibu tidak berpengaruh dalam aplikasi dan pelaksanaan.

Lembaga Pendidikan Modern

Lembaga pendidik modern berawal di wilayah Eropa dan Amerika. Oleh karena itu sejak awal memerlukan “hubungan keadilan dan kebaikan” dan menetapkan filsafat pendidikannya sesuai dengan campuran filsafat Barat dan tradisi kesukuan Arab dan fanatisme klasik yang diarahkan oleh akademi Barat yang utama.

Di satu sisi ia membangun asas Barat yang memusatkan pada hubungan kerja dan produksi yang orientasinya berdasarkan pada konsep konflik dan kelestarian bagi yang kuat. Di sisi lain, berkembang hubungan fanatisme keluarga, suku dan regional melalui pemusatan kepada tradisi sastra Jahiliyah dan kesukuan yang tercermin dalam  al mu’allaqat al khamsah, syair pujian, pengagungan, sindirian dan metode pencatatan yang didasarkan pada demonstrasi prestasi keluarga yang berkuasa, ras yang berkuasa dan yang disebabkan oleh penggalian, aplikasi dan mengagung-agungkan nilai peradaban regional klasik. Ini semua bermuara kepada hubungan fanatisme keluarga, suku dan regional dan tidak keluar dengan hubungan kemanusiaan di luar wilayah sempit yang terbatas ini.

Akibat ambiguitas dalam wilayah-wilayah hubungan dan pusat loyalitas ini menyebabkan loyalitas individu di masyarakat Arab dan Islam modern adalah untuk keluarga, suku atau regionalnya, dan tersembunyinya konsep satu umat yang memiliki keberanian dan pertimbangan yang terbuka terhadap kemanusiaan dengan risalah dan hasil peradaban, hal yang memfasilitasi agar umat Islam hancur menjadi bangsa-bangsa kemudian melemahkan bangsa dan hancur menjadi regional-regional yang kacau balau tidak kokoh yang mendorong wilayah internalnya pusat loyalitas suku dan golongan dan mengingatkan akan kehancurannya dan transformasinya menjadi suku dan kelompok seperti kita memulai sebelum kedatangan risalah Islam.

 Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.