Inspirasi Tanpa Batas

Donald Trump dalam Ancaman Kehancuran Politik

Donald Trump dalam Ancaman Kehancuran Politik
0 57

Donald Trump dalam Ancaman Kehancuran Politik. Terlampau banyak cerita misterius soal persekutuan Donald Trump dengan Vladmir Putin. Keduanya memang terkesan mesra. Salah satu buktinya, Trump oleh Putin dipanggil Donald, dan Putin dipanggil Trump dengan sebutan Vladmir. Penyebutan nama sangat langka. Mengapa? Karena umumnya di kedua negara itu, panggilan nama biasanya menggunakan nama akhir.

Lepas dari itu semua, Trump dan Putin, keduanya berhasil menjadi pemimpin dua negara yang sama-sama disebut adikuasa. Kemampuan dua negara dalam menguasai bidang teknologi, pertahanan dan keamanan, serta ekonomi, membuatnya selalu menjadi perhatian dunia. Perhatian dunia atas dua negara itu, terlihat semakin mantap, khususnya setelah Perang Dunia dua berakhir. Mereka seperti sedang mempresentasikan dua emperium [Romawi dan Parsi] lama, dalam bentuk baru yang relatif vulgar. Keduanya selalu menghiasi dinamika politik dunia. Keduanya juga memiliki hubungan unik layaknya ….

Dua negara [Amerika-Rusia], pernah membuat ketegangan hebat dengan pengaruhnya masing-masing. Sakking besarnya pengaruh dua negara ini, mereka berhasil memecah dunia pada dua kelompok besar. Blok Timur [Sosial-Komunis] dan Blok Barat [liberal]. Meski secara politik, konflik [perang] dingin sudah berakhir, khususnya setelag Gorbachev, gagal membangun reformasi ekonomi, Glasnote dan Prestorika, fakta bahwa di grassroot, masyarakat di ke dua negara ini, tetap selalu menyimpain persoalan. Namun, kehadiran Trump [Amerika] dan Puttin [Rusia], seperti menunjukkan ada kepentingan yang sama. Apa itu? Tidak ada yang tahu. Yang tahu tentu hanya mereka berdua.

Kemesraan dalam Kepentingan Politik

Hubungan mesra kedua pemimpin itu, terlihat misalnya, ketika Trump melakukan komunikasi selama 10 menit dengan Putin. Komunikasi itu, dapat dibaca dari Politico.com, 15,12,2017, berlangsung via telephon di hari Kamis waktu setempat. Keduanya berbincang terkait dengan program nuklir Korea Utara. Korea yang berhaluan komunis itu, mengembangkan Nuklir dalam bentuknya yang massif.

Masih dari sumber yang sama, Trump dikabarkan mengucapkan terima kasih kepada Putin karena dia mengakui kinerja ekonomi Amerika. Pujian Putin atas Trump disampaikannya dalam konferensi pers tahunan negara Rusia. Ungkapan Putin dimaksud, terlihat dari kalimat berikut ini:

“Kami melihat beberapa capaian yang cukup serius, bahkan hanya dalam periode singkat, Donald sudah bekerja dengan baik. Lihatlah bagaimana pasar mereka bangkit. Situasi itu menunjukkan munculnya kepercayaan dari para investor terhadap ekonomi Amerika. Itu juga menunjukkan bahwa mereka percaya pada apa yang dilakukan Donald dalam bidang ekonomi”

Komunikasi Trump via telepon dari Gedung Putih dengan Putin itu, dalam anggapan banyak analis, sejatinya mengandung pesan khusus. Trump merasa penting menjalin kerja sama dengan Putin, karena dia masih memiliki hambatan politik dalam negeri. Hambatan politik dalam negeri dimaksud, semakin hari malah semakin panas.

Dugaan campur tangan Rusia dalam Pilpres AS 2016, bukan saja telah memberikan kesan negatif terhadap hubungan Washington-Moskow, tetapi juga terus berlangsungnya penyelidikan khusus atasnya. Penyelidikan itu, tidak ta-tanggung, langsung dipimpin Robert Mueller. Dialah yang menginvestigasi kemungkinan benar salahnya berita dimaksud. Sulit dibayangkan, jika informasi itu ternyata benar. Trump bisa menjadi Presiden tercepat dalam sejarah Amerika Serikat.

Putin sendiri berulang kali menyatakan bahwa, berita terkait keterlibatan Moskow atas Pilpres 2016 Amerika Serikat, tidak lebih hanya sekedar hoax. Namun pernyataan publik Putin ini, tetap saja tidak meredakan situasi politik dalam Negeri Paman syam itu,

Analisa Politik

Rumitnya situasi politik Trump di Amerika Serikat, memang mulai menggeliat serius. Bahkan seorang teman Trump, sebagaimana dapat dibaca dalam Liputan6.com, yakniAi?? Roger Stone [konsultan politik], dikabarkan sudah mulai menulis Ai??sebuah buku “obituari politik” Trump.

Buku Stone ini, dikabarkan bakal diberi juduli: The Fall of Trump. Ai??Ia menyebut bahwa dirinya memiliki firasat bahwa masa kepresidenan Trump berada dalam bahaya. Hanya sayang, miliarder nyentrik itu tidak menyadarinya.Ai?? Padahal menurutnya, penyelidikan atasnya telah menyasar sejumlah mantan petinggi di tim kampanye Trump.

Sebut misalnya, mantan penasihat kampanye, George Papadopoulos dan Michael Flynn, mantan penasihat keamanan nasional Trump, belakangan mengakui telah berbohong kepada FBI. Sementara mantan ketua kampanyenya, Paul Manafort, membantah dirinya bersalah atas tuduhan pencucian uang. Ia menyebut tuduhan tersebut keliru dan tidak berdasar.

Jika analisa ini benar, maka, jangan-jangan dukungan Trump atas Jerusalem sebagai Ibu Kota Negara Yahudi di Palestina-pun, sesungguhnya adalah upaya Trump untuk menjaga dirinya. Menjaga dirinya dalam jabatannya sebagai Presiden Amerika yang saat ini, sedang terancam. Jika hal ini benar, maka, betapa buruknya Trump di mata dunia dan umat Islam khususnya. Sebab demi ambisi politiknya, ia menyeret negara yang dipimpinnya dalam konflik besar dunia, khususnya dengan dunia Islam. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...