Take a fresh look at your lifestyle.

Donald Trump dan Tersulutunya Perang Dunia Baru di Timur Tengah

0 143

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, kembali bikin ulah. Beberapa bulan lalu, ia kontroversial karena tidak memberi idzin atas masyarakat beberapa negara [Timur Tengah] untuk hanya sekedar singgah di negerinya. Kini, Donald Trump,  kembali membuat kejutan dengan menyebut Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Hal itu, disampaikan Trump di Amerika Serikat pada Rabu (6/12). Hal ini akhirnya menjadi viral karena dikutif ratusan atau bahkan ribuan jurnalis dunia.

Tidak sampai di situ. Trump dalam konteks Jerusalem, malah mulai memproses perpindahan kedutaan besarnya yang semula di Kota Tel Aviv ke Jerusalem. Sontak hal ini, menyebabkan Amerika kembali berseteru dengan negara-negara Muslim baik di Timur Tengah atau negeri lain yang bersimpati atas perjuangan masyarakat Muslim Palestina.

Ideo Politik Amerika Serikat

Secara politik, apa yang dilakukan Trump, sesungguhnya merupakan aksi politik pribadi. Hal ini sesungguhnya bukan karena alasan ideologi, teologi atau apapun yang layak disandingkan dengan kata dimaksud. Aksi Trump tampaknya dilakukan untuk memenuhi salah satu janji politiknya atas konflik Timur Tengah yang tidak pernah selesai. Langkah ini, harus difahami sebagai pemenuhan atas janji kampanye saat Trump melakukan lobi politik jelang Pilpres Amerika beberapa tahun lalu.

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Presiden Trump mengatakan ‘sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel’. Ini bagian penting dari pidato Trum. Pidatonya ini, ia sampaikan saat Amerika justru sedang dirundung banyak masalah, mulai dari soal lemahnya dukungan politik dalam negeri kepada dirinya, ditambah dengan kondisi ekonomi negara adidaya ini, yang banyak diprediksi sedang mengalami kolav.

Trump lebih ngeri lagi menyatakan: “Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi pemerintah modern Israel, rumah bagi parlemen Israel, Knesset, rumah bagi Mahkamah Agung,” tuturnya. Tentu pernyataan ini sangat menyakitkan warga Muslim Palestina, yang sejak tahun 1948, negaranya merasa dianeksasi Israil tanpa sebab. Karena itu, ketika Trump menyatakan hal seperti ini, ia sesungguhnya sedang menabuh perang dengan warga Palestina dan negara-negara lain di dunia yang mendukung inifadah mereka.

Namun demikian, jika kita mencoba mendengar dan membaca pernyataan lainnya, Trump tampaknya putus asa. Pernyataannya yang menyebut: “Israel memiliki hak untuk menentukan ibu kota negaranya, karena fakta penundaan penetapan Yerusalem sebagai ibu kota Israel selama ini, tidak membawa apapun dalam mencapai perdamaian Timur Tengah”.  Ia merendahkan pernyataannya dengan menyebut bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen pada solusi dua negara dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Politik Amerika Israil

Apa yang dinyatakan Trump, bagi politik Amerika Serikat, sesungguhnya bukan barang baru. Itu adalah lagu lama. Yang baru hanya hanya kaset, CD atau flashdisk. Secara ideologi politik, Trump mewakili kepentingan politik mereka, karena Amerika sesungguhnya tidak pernah bisa netral dari kepentingannya dengan Israil.

Bagi Amerika Serikat, Israil sesungguhnya bukan mitra atau sekutu. Israil adalah bagian dari cara Amerika untuk tetap menguasai Timur Tengah, tentu dengan politik adu domba mereka, agar bukan hanya sekedar mereka menguasai asset-asset timur tengah, tetapi, dapat juga dimaknai sebagai cara distribusi produk ekonomi dan politik mereka. Karena itu, berharap atas bantuan Amerika, lepas dari partai manapun mereka menjadi presiden, soal Israil selalu akan menjadi prioritas politiknya. Acep M. Lutvhy.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar