Take a fresh look at your lifestyle.

Dua Cabang Objek Ilmu Dalam Penyusunan Proposal Penelitian

0 101

Dalam penyusunan proposal penelitian ada yang disebut dengan bidang ilmu (objek ilmu). Setiap bidang ilmu, memiliki metodologi tersendiri. Oleh karena itu, setiap bidang ilmu memiliki karakteristik dengan metode keilmuwan yang lain. Perlu dijelaskan tentang objek ilmu pengetahuan yang kemudian akan melahirkan implikasi berbeda terhadap metode yang tepat untuk bidang keilmuwan yang ada. Dalam lapangan keilmuwan, dikenal dengan luas adanya dua cabang pengetahuan (objek ilmu).

Kedua objek ilmu dimaksud adalah pertama, ilmu alam. Kedua, ilmu sosial budaya sebagai hasil dari ekspresi ruh manusia. Objek ilmu yang berbeda secara signifikan ini, secara substansial juga secara otomatis akan melahirkan perbedaan dalam menggunakan metode yang digunakannya. Penjelasan dua objek ilmu itu dapat digambarkan sebagai berikut:

Ilmu Alam

Ciri dasar utama yang menandai ilmu alam adalah adanya pelukisan kenyataan menurut aspek yang memungkinkan terjadinya registrasi inderawi secara langsung pada aspek alami yang melingkupi manusia. Data-data inderawi yang merupakan objeknya, harus dimengerti secara tepat menurut penampakkannya. Bahan-bahan ini disaring, diselidiki, diawasi, diidentifikasi dan diklasifikasikan secara ilmiah, yaitu dengan cara penggunaan instrumen-instrumen sebagai alat bantu. Eksperimentasi ilmu-ilmu kealaman marnpu menjangkau objek potensi-potensi alam yang semula suiit diamati, seperti electron dan multi protein menjadi mudah didapatkan.

Ilmu-ilmu kealaman memperoleh suatu objektivitas yang khas, yaitu semata-mata bersifat empiris eksperimental. Suatu aksi tertentu dapat melahirkan reaksi tertentu pula. Hukum aksi reaksi ini berlangsung menurut sifatnya yang spesifik, karena itu, eksperimen-eksperimen yang dilakukan dapat diulangi. Kelebihan dari objek kealaman ini adalah, jumlah variabelnya sangat terbatas, gejala fisik yang diamati pada umumnya seragam.

Untuk mengetahui cara penyusunan proposal penelitian yang lebih luas nya silahkan baca artikel berikut ini: Cara Menyusun Proposal Penelitian

Metode yang digunakan dalam ilmu kealaman pada umumnya bersifat siklus empiric yang merujuk pada dua hal pokok, yaitu siklus yang mengandaikan adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan secara berulang-ulang , dan empirik yang menunjuk pada sifat bahan yang diselidiki (bersifat inderawi).

Tahap kerja dalam ilmu kealaman ini adalah:

  1. Observasi;
  2. Tahapan induksi di mana hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang bersifat umum;
  3. Dilaksanakannya deduksi-deduksi logis, yaitu data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut;
  4. Observasi eksperimental, yaitu pernyataan yang telah dijabarkan secara deduktif (rasional), diuji dengan melakukan verifikasi empirik untuk mengukuhkan pernyataan-pernyataan rasional dari hasil deduksi yang membuahkan teori.

Objek ilmu kealaman berdasarkan prolog di atas, mengisyaratkan pentingnya model kuantitatif yang bercita-cita mengambil rerata. Penelitian ilmu kealaman ini sedikit berbeda dengan ilmu sosial budaya. Objek ilmu-ilmu sosial adalah gejala yang dapat diamati dan dinalar sebagai suatu fakta empiris, termasuk di dalamnya adalah arti, nilai dan tujuan. Ciri utama dari lapangan ilmu sosial budaya ini adalah normative-teologis. Metodologi yang digunakannya adalah metode linier yang memiliki tiga tahap kerja. Ketiga tahap itu adalah, persepsi (penangkapan data melalui indra), konsepsi (pengolahan dan penyusunan data), dan prediksi (penyimpulan dan peramalan).

Ilmu Sosial Budaya

Jika objek ilmu kealaman Iebih berorientasi pada model pendekatan kuantitatif, maka dalam objek ilmu sosial budaya, model pendekatan kualitatif jauh Iebih tepat dibandingkan dengan model sebelumnya. Kenapa demikian? Sebab soal-soal yang terkait dengan rumpun bidang ini, sifatnya sangat kompleks, sehingga akan sering absurd jika terus berusaha mencari rerata seperti diperagakan dalam model ilmu kealaman.

Tulisan Yvon S. Lincoln, Naturalistict Inquiry, Noeng Moehadjir, Penelitian Kualitatif dan Lexy J. Moleong Penelitian Kualitatif sama-sama menunjukkan adanya kelebihan model penelitian kualitatif, khususnya dalam soal-soal yang terkait dengan bidang ilmu sosial dan budaya, termasuk di dalamnya ilmu kejiwaan. Alasan mereka karena model metodologi ini Iebih disebabkan karena sulitnya model sebelumnya yang cenderung positivistic untuk digunakan dalam bidang-bidang tadi. Metode kuantitatif dianggap tidak memadai untuk menyelesaikan soal- soal kemanusiaan karena variabelnya sangat kompleks.

Yvon S. Lincoln misalnya menyatakan bahwa, jika dalam penelitian kuantitatif basis keilmuwan ditarik dari paradigma induktif untuk mencari rerata, dan karenanya dapat melahirkan teori, maka dalam penelitian kualitatif, teori dihasilkan dari paradigma berfikir bahwa satu-satunya cara adalah ketidakmerataan. Atau dapat juga diistilahkan, satu-satunya generalisasi adalah tidak adanya generalisasi.

Pendapat sama disampaikan Prof. Djawad Dahlan saat menyampaikan orasi mata kuliah Penelitian Kualitatif di Universitas Islam Negeri Bandung, pada Bulan Nopember 2005. la menyatakan bahwa soal-soal kemanusiaan dan yang terkait dengannya, tidak mungkin hanya dapat diselesaikan dengan pendekatan kuantitatif. Akan ada banyak soal yang melingkupi bidang ini, dan akan absurd jika semata-mata diselesaikan dengan metode dan pendekatan kuantitatif. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar