Inspirasi Tanpa Batas

Dua Mei Mengurai Benang Kusut Pendidikan Nasional

0 5

Konten Sponsor

Dua Mei Mengurai Benang Kusut Pendidikan Nasional. Memasuki bulan Mei, setidaknya terdapat tiga hajat nasional. Tentu hajat ini di luar hajat keagamaan, termasuk tentu Islam dan hajat lain yang bersipat internasional. Mei selalu menjadi titik berangkat dalam konteks Indonesiaan. Bagaimana tidak! Setidaknya, pada bulan Mei terdapat dua hajat nasional, yakni hari pendidikan Nasional [2 Mei] dan hari kebangkitan nasional yang selalu jatuh pada tanggal 20 Mei.

Tentu masih ada hari lain yang populer dengan sebutan Hari Buruh Internasional. Suatu hari yang mendeklarasikan perjuangan kaum buruh akan hak-haknya terhadap pemodal. Mereka sebelumnya selalu dianggap budak oleh mereka yang memiliki kapital besar. Melalui upaya dan gerakan kaum buruh inilah, para buruh dimaksud diperjuangkan hak-haknya di mata pemilik modal tadi.

Jika hari buruh nasional jatuh pada tanggal 1 Mei, maka, hari pendidikan nasional dikenang setiap tanggal 2 Mei. Mengapa hari pendidikan Nasional jatuh pada tanggal 2 Mei? Rupanya, penentuan hari pendidikan dimaksud, ditahbiskan pada kelahiran Mas Soewardi Soeyaningrat. Seorang Raden keturunan keraton yang lahir pada tanggal 02 Mei 1989. Satu tahun setelah kelahiran Soetomo [1988] yang mendirikan Boedi Oetomo [1908]. Ketika usi Mas Soewardi menginjak 40 tahun menurut hitungan tahun saka, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia menganggalkan gelar Raden dengan maksud agar ia menjadi lebih dekat dengan rakyat.

Konsep Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara

Konsep pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara adalah Tutwuri Handayani [di belakang mendorong], Ing Madya Mangun Karso [di tengah membangun peluang untuk berprakarsa] dan Ing Ngarsa sungtulada [di depan memberi contoh]. Konsep tri tunggal ini, juga saat ini dikenang dan dikenal sebagai visi pendidikan Nasional Indonesia. Lambang pendidikan selalu mengacu pada suatu kalimat Tut Wuri Handayani.

Pahlawan nasional atas Surat Keputusan Presiden Nomor 305 tahun 1959 yang ditetapkan pada tanggal 28 Nopember 1959 ini, adalah Menteri Pendidikan, pengajaran dan Kebudayaan Nasional pertama di Rezim Orde Lama. Pendiri Yayasan Taman Siswa yang dituduh berbau animisme ini, memaksudkan pemberian nama dimaksud untuk memberi ruang kebebasan kepada peserta didik, agar ketika mereka belajar, suasana di dalam sekolah terasa sangat menyenangkan. Karena suasana di dalam sekolah itu menyenangkan, maka, proses pendidikan dan pembelajaran dapat dilangsungkan dengan baik.

Delapan bulan sebelum ia mendapat gelar pahlawan, sosok ini menghembuskan nafas terakhirnya di Jogjakarta, pada tanggal 28 April 1959. Ia meninggal dalam usia 70 tahun dengan dimakamkan di Jogjakarta. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar