Dualisme Cobaan Manusia | Kebaikan dan Keburukan

0 179

Dualisme Cobaan: Manusia menjalani dua bentuk cobaan –cobaan dengan kebaikan dan cobaan dengan kuburukan- dalam setiap detik usia duniawi, dan dalam setiap aktivitas duniawi bersifat berpasang-pasangan yang saling bertentangan, maksudnya bahwa dalam setiap posisi cobaan terdapat pasangan. Salah satunya, dicoba dengan aspek kebaikan dan kedua dicoba dengan aspek keburukan.

Orang-orang yang dicoba, misalnya, dengan kekayaan di satu sisi, maka di sisi lain akan terdapat orang-orang yang dicoba dengan kemiskinan. Orang-orang yang dicoba dengan pertolongan di satu sisi maka di sisi lain akan terdapat orang-orang yang dicoba dengan kekalahan. Orang-orang yang dicoba dengan kekuatan di satu sisi maka di sisi lain akan terdapat orang-orang yang dicoba dengan kebengisan dan kehinaan derajat.

Orang yang dicoba dengan pengetahuan di satu sisi maka di sisi lain akan terdapat orang-orang yang diuji dengan kebodohan.

Orang yang dicoba dengan iman di satu sisi maka di sisi lain akan terdapat orang-orang yang diuji dengan kekafiran.

Demikianlah manusia dalam setiap posisi kehidupan terdapat pasangan yang saling bertentangan dalam hubungan cobaan baik secara individu, kolektif atau umat. Masing-masing dicoba dengan yang lainnya dan dari sini melahirkan cobaan yang saling bertentangan berupa perbuatan taat dan maksiat, aspek kebenaran dan kesalahan, kebenaran dan kebatilan, keutamaan dan kehinaan. Karena itu ia menuntut pasangan yang saling bertentangan untuk menjalankan perintah dan anjurannya yang perannya khusus dalam posisi cobaan.

Orang yang dicoba dengan harta, misalnya, maka dituntut untuk menafkahkannya sesuai dengan perintah Allah. Sementara itu, orang yang diuji dengan kemiskinan dituntut untuk memeranginya dengan cara bekerja dengan tekun dan produksi yang terus menerus, dan semua bantuan yang diberikan kepada mereka diterima dengan syukur dan cinta, dan setiap nasib buruk diterima dengan penolakan dan perlawanan.

Kemenangan dan Kekalahan

Orang yang dicoba dengan pertolongan dan kemenangan dituntut untuk tidak keluar dari tujuan berperang untuk menyebarkan keadilan, mengunggulkan kebenaran dan mengalahkan kezhaliman dan keterbelakangan. Dan hendaknya merendahkan diri dan meminta ampun kepada Allah dari tanda-tanda melampaui batas dan merasa mulia dengan kemenangan. Sementara itu, orang yang dicoba dengan kekalahan dituntut untuk meneliti sebab-sebabnya baik secara logika, mental dan material –denga ukuran ketuhanan- dan mengobatinya dengan cara yang Allah perintahkan.

Orang yang dicoba dengan kepemimpinan, kerajaan dan kekuasaan hendaknya memiliki sifat adil, kasih sayang, rasa tanggungjawab dan menjauhkan diri dari sifat buruk. Sementara itu, orang yang diuji dengan menjadi rakyat dan pengikut hendaknya taat terhadap apa yang Allah perintahkan dan membangkang terhadap apa-apa yang Allah larang bukan dengan menghinakan diri, ketundukan dan kecemasan.

Orang yang dicoba dengan pengetahuan hendaknya berusaha menyebarkan, mengajarkan dan menginvestasikan aplikasinya untuk kebaikan manusia. Sementara itu, orang yang dicoba dengan kebodohan dituntut untuk berusaha mencari pengatahuan, mempelajari dan mengaplikasikannya.

Orang yang dicoba dengan iman hendaknya mencurahkan harta dan dirinya untuk menyampaikan iman kepada orang yang dicoba dengan kekafiran. Sementara itu, orang yang dicoba dengan kekafiran hendaknya mensucikan diri dan kehidupannya dari pengaruh-pengaruhnya serta belajar iman –dari ahlinya- dengan penerimaan, kerelaan, syukur dan seterusnya.

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu” (Qs. Al Maa`idah [5]: 48).

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu” (Qs. Al An’aam [6]: 165).

“Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain” (Qs. Muhammad [47]: 4).

Menjaga Diri Sebagai Hamba

Dalam masing-masing dua bentuk cobaan ini, setiap orang yang sedang dicoba dituntut untuk tetap menjaga diri sebagai hamba yang mengesakan yang menjalankan perintah-perintah Allah atas apa yang dituntut dari posisi cobaan tersebut. Juga ia dituntut untuk menjaga cobaan yang sebaliknya. Maka ia mengingat dan mengambil petunjuk dari hikmah cobaan, dan jika menolak maka ia akan binasa. Dari kaidah ini muncul prinsip perintah pada kebaikan, mencegah kemungkaran dan jihad dalam berbagai macam bentuknya.

Adapun sebabnya adalah bahwa membatasi atau berpaling dari bagian mana pun dari hikmah cobaan maka akan berpengaruh negatif pada bagian lainnya. Ketika orang yang dicoba dengan harta menyimpang dalam hal mengumpulkan dan menginfakkannya sesuai dengan kaidah cobaan maka yang dicoba dengan kemiskinan mendapat kegagalan dan kesialan dalam cobaan. Ketika yang dicoba dengan risalah menyimpang dalam menyebarkan dan menyerukannya maka orang yang dicoba dengan kebodohan, kekafiran akan mendapat kesialan dengan kekafirannya, dan seterusnya.

Akan tetapi manusia terkadang salah memahami “keberpasangan dan dualisme manusia dalam cobaan” dan merubahnya menjadi “dualisme” antara ia dan Allah alih-alih dengan manusia. Pemahaman yang buruk ini beradampak pada prakteknya dan menjadikan nilai dan perbuatannya keliru. Qur`an memberikan berbagai macam contoh terhadap pemahaman yang salah tentang “Dualisme cobaan manusia- dan akibatnya ini. Di antaranya adalah surah Al Fajr ayat 15-16.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” (15) “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (16) (Qs. Al Fajr [89]: 15-16)

Kesalahan Memahami Cobaan

Kesalahan yang dilakukan manusia di sini adalah bahwa ia melihat –cobaan dengan kekayaan- sebagai kemuliaan dan pahala. Bukan cobaan atas ketaatannya. Ia juga melihat –cobaan dengan kemiskinan- sebagai siksaan dan kehinaan, bukan cobaan atas ketaatannya.

Oleh karena itu Qur`an meluruskan pemahaman yang salah ini. Dalam ayat yang berbunyi secara berurutan dan mengulang mengarahkan pemahaman kepada praktek yang keliru yang berasal dari pemahaman yang salah terhadap hikmah cobaan. Kesalahan ini adalah tidak memuliakan anak yatim dan tidak terdorong untuk memberi makan kepada orang miskin dan memonopoli dan menimbun harta tanpa menginfakkannya sebagaimana diperintahkan Allah.

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim” (17) “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” (18) “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil) “ (19) “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan” (20) (Qs. Al Fajr [89]: 17-20)

Bahkan empat surat setelah Al Fajr, yakni Al Balad, Asy-Syams, Al-Lail dan Adh-Duhaa adalah surat-surat yang memusatkan pada tema dualisme cobaan dan “melampaui batas”. Hal ini disebabkan oleh pemahaman yang buruk terhadap cobaan ini. Pemusatan terhadap cobaan dengan harta yang merupakan sebagian dari unsur “aspek sosial” terhadap ibadah.

Cobaan Adalah Pendidikan Dengan Pengalaman

Cobaan adalah pendidikan dengan pengalaman yang tujuannya memahami kebaikan dan merasakan keindahan, dan memahami keburukan dan lari dari keburukannya. Melalui pemahaman dan merasakan ini terwujud –tujuan utama- yakni menemukan keagungan nikmat Tuhan kepada manusia. Kemudian, di antara manfaat dari cobaan ini adalah ketinggian akal, jiwa dan masyarakat.

Ketika manusia diuji dengan posisi tertentu, kemudian mengikuti cara-cara yang benar untuk mengobatinya. Maka baginya terbentuk pengalaman yang baik yang terdidik dengan watak posisi sementara dan segala sesuatu yang ada. Juga mengetahui cara-cara yang baik untuk mengobatinya dan manfaat dari semua cara yang benar.

Ketika ia melakukan cara-cara yang benar maka ia memahami signifikansi penyimpangan terhadap hukum segala sesuatu. Ia mengetahui pengaruh-pengaruh buruk terhadap cara-cara yang keliru. Maka manfaatnya adalah kemuliaan manusia. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Komentar
Memuat...