Duka Allent ditinggal Mati Istri | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 13

Duka Allent ditinggal Mati Istri | Misteri Sang Ksatria Cinta-Part 13
0 117

Duka Allent ditinggal Mati Istri: Dua hari setelah rapat pemegang saham berlangsung, dan perusahaan sedang dalam pengelolaan khusus, maklum akan ada sedikit perubahan management, tiba-tiba orang tua Fahrani –berarti bunga mekar yang indah dalam bahasa Tiongkok– atau mertua Allent, menelephonnya dengan penuh kesedihan. Allent segera menerima panggilan itu dan ia seperti sudah tahu akan situasi dan kondisi terkini tentang Fahrani di sana.

Di ujung sana, Tiongkok, mertua Allent berbicara: Nǐ hǎo Allent, Fahrani tā de bìngqíng zhèngzài èhuà. Wǒ xīwàng nǐ hěn kuài jiù huì lái dào zhèlǐ. Zhèlǐ de yīshēng wúfǎ zhìliáo. Wǒmen zhǐ wàimài dào yìnní. Oke dad, aku akan prepare dulu dan mencari pesawat mana yang bisa segera berangkat ke sana. Hari ini juga aku akan berangkat ke sana. Kata Allent penuh semangat.

Ia memanggil staf dan supirnya. Ia juga meminta Aisha untuk mempersiapkan segala keperluan keberangkatannya ke Tiongkok di rumah mereka di Pondok Indah Jakarta. Supir dan stafnya mencari tiket menuju Tiongkok dan ternyata gagal didapatkan. Supir yang bernama Ardi itu mengatakan: Boss sorry, Tiket sudah habis untuk keberangkatan hari ini. Paling ada pesawat lusa, itupun singgah dulu di Singapura.Ya sudah kalau begitu. Semoga ada jalan lain. Allent yang biasanya cuek, kini seperti kacau dan agak sedikit pucat.

GIA dalam Certeran Keluarga Allent

Kemudian, Allent ngontak ayahnya, yakni Alberta yang suka memiliki ide cemerlang penuh sensasional. Allent menggambarkan situasi yang dihadapi Fahrani –menantunya– di Tiongkok. Atas saran Alberta, bapaknya menyarankan, agar mengontak salah satu agent pesawat carteran saja. Aku, kata Alberta akan datang dan ikut bersama kamu ke sana.Mamah kamu dan kakak kamu yang sedang ada di Amerika Latin, akan aku kontak juga kata Alberta, barangkali ada kemungkinan bisa hadir juga ke sana.

Selesai komunikasi dengan Allent, Alberta menelephon istrinya di Amerika Latin. Ia mengatakan situasi terkini, di mana Rani berada dalam sakit yang kritis. Aku kata Alberta akan ke sana. Jika tidak keberatan, alangkah baiknya, Mamah sama Altair, syukur jika dengan keluarganya, berangkat juga ke Tiongkok. Oke pah. Agak sulit dimengerti kalau aku tidak berangkat ke sana Pah. Aku pasti akan berangkat sekarang juga. Kebetulan penerbangan dari benua ini ke Tiongkok relatif mudah dan banyak pesawat yang bolak balik. Inyaallah aku berangkat sekarang juga. Kita bertemu di Guangzhou saja ya, tempat dimana Rani dirawat. Oke ya …. By pah. Tolong jaga Allent ya … Oke Mam jawab Alberta … by.

Boeing 737 milik Maskapai GAI, akhirnya berhasil didapatkan. Entah berapa biaya yang harus dikeluarkan Allent. Tidak lagi dipedulikan. Allent dan beberapa staf kantor bersama dengan Alberta tentu saja, berangkat dari Halim Perdana Kusumah Jakarta, tepat pukul 4 sore. Pesawat mengudara dan Allent berada dalam kerumitan bathin yang sangat mendera. Enam jam kemudian, pesawat carteran itu tiba juga di Zhengzhou Xinzheng International Airport, Tiongkok. Empat mobil yang menjemput keluarga Allent di Bandara dimaksud sudah berada di sekitar pelataran Bandara, Mereka tanpa basa-basi, satu persatu masuk ke dalam mobil.

Fahrani Meninggal di Rumah Sakit Tumor

Rumah Sakit Tumor Modern Guangzhou yang terletak di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, itu sampai juga dikunjungi mereka. Kamar VVIP yang menjadi tempat perawatan Fahrani, dimasuki Allent dengan penuh perasaan pilu. Dilihatnya Fahrani sedang tidur lemah, dengan selang dan kabel melilit seluruh tubuhnya dari muka sampai kaki. Dengan lemah Allent mendatangi tubuh yang sudah sangat kurus itu, maklum beberapa kali dilakukan kemoteraphy. Dengan pelan, Allent memegang tangannya yang sudah tidak berdaya dan sangat kurus, tinggal kulit dan tulang.

Sesaat setelah Allent memegang tangannya, tiba-tiba, Fahrani sadar dan meneteskan air mata. Ia berkata: Lent, ikhlashkan aku ya. Aku lelah. Aku akan menunggumu di Syurga. Terima kasih atas segenap kebaikan dan rasa sayang kamu kepadaku. Mohon maaf, selama ini, sejak kamu menikahi aku, aaaku, belum sempat melayanimu. Kalimat itu muncul dari mulut Rani dengan pelan dan terbata-bata. Alberta yang menangis dan Allent tampak tegar dengan mengatakan: “ya .. aku ikhlas. Jangan risau. Kau tidak salah. Suatu saat, nanti di Syurga, kita akan menikmati kebahagiaan.

Lent, tolong, kamu menikah lagi ya. Jangan takut, di syurga nanti aku akan menjadi salah satu bidadarimu dan dengan tulus menunggumu di pintu syurga seberapa lamapun aku harus menunggunya. Aku ingin, saat itu kau datang dengan pendamping kamu secara bersama. Aku akan menjemputnya dengan bahagia. Saat kalimat itu meluncur, Allent baru meneteskan air mata. Di peluk muka Rany dengan hangat.

Dengan tetesan air mata kedua muka mereka, Allent dan Fahrani terus menerus menyebut dan membaca kata Allah, Allah, Allah. Allent hanya berbisik pelan dan syahdu dengan tetesan air mata yang deras. Rani, jika memang kau harus berangkat menemui Tuhan kita, berangkatlah dengan tenang. Aku akan mengenangmu dan akan menjadikanmu sebagai bagian dari do’a-do’a yang tak mungkin aku lewati dengan menyebut namamu.

Jika kau datang ke pintu Syurga, dan aku yakin itu kau akan segera ke sana, sampaikan salam aku buat para pecinta di Syurga. Ada Nabi Muhammad, Nabi Isa dan Nabi nabi-nabi lain.  Beberapa saat setelah itu, dengan senyum manis, Rani seperti ingin pamitan dan kemudian tak ada lagi nafas dikeluarkan Rani. Fahrani akhirnya meninggal dengan tenang.

Allent dipeluk Alberta dengan tangisan yang dalam. Tak lama kemudian, Hypatia dan Altair datang juga di sana. Ia dipeluk oleh semua keluarganya dengan hangat dan penuh duka. Allent yang biasanya tegar dan cenderung membtahin, kali ini, tak tahan juga untuk tidak menangis dalam sedu sedan duka mendalam.

Allent-lah yang membuka satu persatu selang dan kabel dalam tubuh Fahrani. Ia tidak mengidzinkan suster atau dokter. Ia membuka dengan membaca asma-asma Allah yang Agung. Ia mengangkat tubuhnya dengan tenang. Ia tidak memasukkan mayat Fahrani  ke dalam keranda kematian. Ia membopongnya dan meminta seluruh kru hanya membawanya ke mobil.

Ia membopong sendiri mayat itu. Ia menciumnya dan membelainya. Maafkan aku … maafkan aku, Rani. Ia hanya terus mengatakan, maafkan, maafkan, dan maafkan aku. Aku tak mampu menahanmu. Karena kau sama dengan aku, bukan milik siapa-siapa, tetapi, milik sang pencipta kita.

Mobil melaju dengan pelan kembali ke Bandara Zhengzhou Xinzheng International Airport, Tiongkok. Tepat pukul 09.00 pagi waktu Tiongkok, semua orang, termasuk keluarga Fahrani dan keluarga Allent satu persatu masuk ke dalam pesawat. Mayat Fahrani tidak disimpan di Kargo pesawat, tetapi, diletakkan dipinggir tempat duduk Allent di bangku executif pesawat itu. Ia tetap memegang muka Rani dengan syahdu. Membaca berbagai ayat dan kalimat-kalimat suci. Alberta tetap tegar dan selalu bilang ambil hikmahnya.

Hypatia ikut pulang ke Indonesia. Sedangkan Altair, istri, anak dan pembantunya kembali ke Amerika Latin, dengan mohon idzin untuk tidak pulang ke Indonesia dan tidak mengikuti prosesi pemakaman di sana. Kami ikut mendoakan semoga kamu Allent, tegar dan tabah menghadapi cobaan ini. Allent berkaca-kaca, ingin kakak yang menjadi idolanya itu, ikut mendampinginya dalam prosesi pemakaman.

Namun Allent sadar, itulah moment penting bagi kakaknya. Kalau program itu berhasil, maka, kakaknya itu akan resmi menjadi Profesor termuda di dunia dalam bidang yang sangat langka. Teknologi digital saat ini telah menjadi kawah candra dimuka keilmuan dunia. Gara-gara kakaknya yang ingin menjadi profesor dalam bidang itu pula, yang menyebabkan Allent dipaksa menjadi Komisaris di perusahaan bapaknya itu.

Nggak apa-apa kak. Aku tahu, minggu ini adalah sessi terakhir kau melakukan reseacrh di sana. Aku justru berterima kasih kakak sempat datang ke sini di tengah segenap beban dan kompleksnya risearch yang anda lakukan. Aku tahu kau sangat sibuk. Pergilah dan jagalah teteh atau istri kakak. Kalau sudah begini, menyesalnya minta ampun. Allent berkata pelan.

Setelah itu, semua kru pesawat masuk dan GIA akan kembali terbang mengangkasa. Allent ingat saat pertama bertemu dengan Fahrani di UI yang demikian tulus mencintainya. Ia memang kaku dan jarang berkomunikasi. Tetapi, ia begitu perhatian terhadap dirinya. Memang aku akui, aku tidak terlampau mencintainya. Tetapi, ketulusan cintanya kepadaku dengan segenap dorongan dan perhatiannya kepadaku, membuat aku, tak berdaya ketika aku diminta menikahinya.

Prosesi Pemakaman Fahrani

Pesawat sampai di Jakarta pukul 15.00 sore. Semua warga dan tentu pegawai PT di mana Allent bekerja, memadati dan menyemuti semua ruang dan pelataran rumah Allent di Pondok Indah Jakarta. Petugas rohani dari DKM setempat dan imam masjid sudah ada di sana. Mereka dengan begitu tangkas memandikan, mengkafani, menyalatkan dan kemudian memakamkan Fahrani, hari itu juga. Puluhan ribu orang menyaksikan prosesi ini. Mereka tidak mau ketinggalan menghadiri prosesi ini, karena mereka tahu kalau keluarga Alberta tidak terbiasa membiarkan mayat untuk tidak dikuburkan segera.

Menjelang Maghrib, Prosesi pemakaman itu berakhir. Allent-lah yang meletakkan muka Rani di tanah. Lalu dia juga yang menutupi kuburan sedikit demi sedikit. Setelah itu baru petugas pemakaman. Ia, didampingi Alberta, Hypatia dan keluarga Fahrani lalu berdiri. Satu persatu pentakjiyah pulang. Yang tersisa hanya Allent dan keluarganya yang masih berdiri di sekitar pemakaman. Mereka kembali mengangkat tangan dan berdo’a.Kata Amin selalu meluncur dari mulut mereka.

Hanya Allent yang duduk sendiri dengan menaburkan bunga. Bunga terakhir untuk Rani. Beriringan dengan tenggelamnya matahari, Allent kemudian menaburkan bunga terakhir dengan mengatakan: Rani, pulanglah dengan tenang ke rumah yang jauh lebih besar dan lebih indah. Do’aku menyertai keberangkatanmu ke sisi Tuhan kita. Do’aku untukmu selalu semoga kau di sana jauh lebih bahagia. –By. Charly Siera

Komentar
Memuat...