Connect with us

Filsafat

Dunia Kehilangan Spiritualitas Cinta| Pendidikan Multi Budaya Part – 3

Cecep Sumarna

Published

on

Dunia Kehilangan Spiritualitas Cinta

Spiritualitas pasti dinamis. Tidak ada yang statis. Sangat mungkin naik atau turun. Keduanya pasang surut silih berganti tanpa permisi dan tidak mungkin dipinta. Prinsip dasar hidup yang didorong dimensi dan terminologi spiritual, secara praksis kadang ditulis dalam bentuk puisi atau catatan ringan, disimpan dimanapun sebagai suatu manuskrip, hanya untuk epik hidup. Ia tidak mampu memotret dirinya dalam setiap lakon hidup.

Yang spiritualis itu, di labirin hidup nyata, dalam banyak kasus sering kali menampilkan diri dalam wujud yang terbuang dan terasing dari persinggungan jaman. Ia berusaha ke luar dari batas-batas manusia biasa. Tidak menampilkan diri sebagai penerus atau hendak menjadi pengganti raja dalam sebuah singgasana. Apalagi bertindak hanya untuk sebuah pencitraan dalam mega proyek kekuasaan politik. Mereka yang demikian, malah terkesan selalu hendak bersembunyi dengan cara yang cukup rapih dengan tampilan yang justru sangat bersahaja. Ia tidak ingin masuk ke dalam lingkaran  umum manusia biasa atau berada dalam cerita manusia umum.

Deklarator Cinta Kemanusiaan

Lakon semacam itu, akan persis seperti cerita Budha, Isa pasca “penyaliban” kontroversial, atau Muhammad dalam lakon penuh cita rasa spiritual, di Gunung Cahaya dalam Gua Hira. Mereka patut disebut sebagai peletak dasar pencari kesadaran spiritual melalui uzlah dari istana megah yang dimiliki sang baginda Raja. Terasing atau mengasingkan diri, dari kerajaan Hindu di gunung terindah milik bangsa India, uzlah dari kerajaan Palestina yang Mewah (Isa), atau mengasingkan diri dari tawaran kekuasaan kaum Quraish (Muhammad).

Mereka memilih untuk mengumpulkan kepingan-kepingan kekayaan bathin yang tidak pernah dipelihara siapapun.  Mereka mengambil dan selalu berada dalam ruang kosong di mana kebanyakan orang tidak mengambil atau tidak memasukinya. Mereka selalu menciptakan suasana baru yang terkadang sulit dipikirkan banyak orang untuk kemudian tampil menjadi sang pencerah.

Mereka selalu berusaha masuk ke dalam istana Bathin dengan maksud menumbuhkan budaya keseimbangan. Bagi mereka, yang lahir akan tetap eksis sepanjang dunia bathin ada. Sama dengan yang bathin akan tetap ada, sepanjang yang lahir ada. Itulah keseimbangan alam. Itulah ritmik alami yang tampaknya sengaja Tuhan ciptakan agar manusia mampu berpikir. Perjalanan spiritual mereka, semata-mata dilakoni, untuk memenuhi hasyratnya sebagai sang pencinta.

Teori dasar mereka, jika semua harus dilahirkan, maka, semua yang lahir itu akan tenggelam menjadi bathin. Karena  mereka ingin tetap menjaga dunia yang lahir, maka harus ada orang yang rela menjaga yang bathin. Karena tidak ada yang memasuki budaya itu, maka, untuk menyelamatkan dunia, mereka memasukinya demi alasan cinta. Tujuan akhirnya sama. Yang bathin tidak menguasai yang lahir atau apalagi yang lahir menguasai yang bathin.

Koherensi Keseimbangan

Pikiran di atas tentu saja sangat spiritualis, sosiologis sekaligus antropologis. Mereka yang demikian, tidak akan pernah bangga jika tempat tinggalnya disebut kota santri apalagi disebut sebagai kota wali. Kenapa? Sebab di kota yang disebut suci, pasti akan melahirkan kebathilan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan daerah-daerah tertentu yang tidak pernah disebut sebagai kota suci.

Di daerah yang sering dikonotasikan sebagai daerah-daerah suci, pasti akan dilumuri sesuatu yang sebaliknya. Bahkan cenderung bermakna kotor dan menjijikan. Begitupun sebaliknya. Jika ada sebuah kota atau daerah yang disebut sebagai kota kotor karena perbuatan-perbuatan manusia, maka, di Kota itulah justru akan lahir tokoh besar dalam bidang keagamaan atau dalam bidang yang kita sebut spiritual.

Mengapa Tokyo-Jepang, pernah dilaburi suatu paket yang berisi gas sarin. Suatu racun syaraf mematikan seperti yang pernah dipakai gerakan Nazi di Jerman. Racun ini dihembuskan  di sistem kereta api bawah tanah (subway) pada 20 Maret 1995. Insiden ini, menewaskan setidaknya 12 orang dan 5.000 lainnya luka-luka. Kejadian ini, menurut suatu cerita dilakukan pengikut agama Shinto yang justru taat.

Mengapa kompleks Jonestown, di California Amerika Serikat, 18 November 1978, terjadi bunuh diri massal dengan meminum racun yang menyebabkan 912 dan 276 di antaranya adalah anak-anak. Inilah kasus bunuh diri massal yang dipimpin tokoh agama paling histeris di dunia. Jones pendeta Kristen Kharismatik, diketahui mendirikan sekte agama Kristen bernama The People’s Temple. Komunitas ini dikagumi sekitar tahun 1950-an dan berakhir pada saat bunuh diri massal ini berlangsung.

Pertanyaan lain muncul. Misalnya mengapa Ekstremis Hindu India, melakukan gerakan terorisme di stasiun kereta api Chhatrapati Shivaji Terminus (CST). Kota yang dikenal pusat Finansial bernama Mumbai pada 26-29 November 2008.  Setidaknya 188 orang meninggal dan 370 orang lain cedera parah. Dua hotel bintang lima yaitu Oberoi/Trident dan Taj Mahal Palace harus luluh lantak. Belum,  Kafe Leopold, restoran para turis asing,  Rumah Sakit Cama, gedung pusat komunitas Yahudi Mumbai Chabad House, dan kantor polisi tumpes habis.

Pertanyaan Dasar Muncul

Kondisi di atas, seharusnya melahirkan pertanyaan mendasar, mengapa misalnya di Kota metropolis atau megapolitan dunia,  justru sering melahirkan kelompok keras atas nama agama? Mengapa ekstremis-ekstremis religius, melakukan aneksasi atau genocide di pusat-pusat keramaian yang menampilkan gejala adanya pluralitas yang kompleks? Mengapa sebut “agamawan shaleh” atau mereka yang “pantas” disebut shaleh dan mampu untuk menyebut atas nama agama, bertindak seolah anti kemanusiaan? Mengapa terminologi kemanusiaan yang dijunjung tinggi setiap agama, menjadi lumpuh saat heterogenitas manusia ada didalamnya?

Secara psikologis, dalam dugaan penulis, kota-kota tersebut, dianggap telah menjadi suatu lokus yang dalam tanda baca tertentu, menjadi pusat kemaksiatan dalam perspektif agama yang dianut.

Hal ini akan persis seperti apa yang dilakukan Imam Samudera, ketika melakukan pengeboman di Kute, Legian Bali pada 12 Oktober 2012. Seolah meyakinkan mereka bahwa di tempat-tempat tadi, ada mainstrem tertentu di mana kelompok lainnya (agama dan nilai-nilai yang dianutnya), merasa terancam atas dominasi satu kekuatan yang patut dianggap membahayakan keberlangsungan keyakinan mereka.

Dalam perspektif ini, menjadi dapat dimengerti juga mengapa misalnya, kyai seperti Abu Bakar Ba’asyir, tumbuh dan berkembang dalam karakter masyarakat Solo. Suatu komunitas yang justru dianggap santun dan jauh untuk disebut menyenangi perbuatan dan tindak kekerasan. Tetapi di tempat yang seperti, kyai, ustadz atau apapun istilah untuknya, lahir dan berkembang.

Secara psikologis, patut diduga jika Abu Bakar Ba’asyir dan sejumlah tokoh lain yang sejenis, akan menganggap bahwa ajaran agama mereka (Islam) sedang berada dalam ancaman eksistensialnya. 

Jika nalar semacam ini dibenarkan, maka, jalan penyelesaian atas setiap kasus yang muncul tadi, menurut penulis, seharusnya diselesaikan dengan menggunakan pendekatan universal corrective. Sebab “sangat mungkin”, kejadian semacam tadi, terjadi karena berkembangnya situasi ketidakseimbangan. pada konteks apapun ketidakseimbangan itu terjadi, pasti akan melahirkan disharmoni

Karena itu, keseimbangan akan selalu menjadi kata kunci penyelesaian masalah sosial, termasuk tentu dalam soal-soal yang kita anggap ekstremis dan penuh sensasi itu.

Hidup di Tengah: Keharusan Sejarah 

Inilah yang meyakinkan umat Islam agar selalu hidup di titik tengah. Narasai semacam ini, dapat dibaca misalnya dari salah satu Hadits Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa: “khair al umur aw sathuha” (sebaik-baik perkara tetap selalu berada di tengah). Dalam tafsir tertentu, sering disebut bahwa pengikut agama Muhammad (Islam), selalu diperintahkan untuk menjadi penengah. Penengah terhadap segala masalah yang dihadapi suatu ummat atau bangsa. Itulah sejatinya keseimbangan.

Menjadi kelompok tengah, karena itu akan selalu menjadi ciri dan citra budaya Muslim. Secara teologis, al Qur’an surat al Fatihah [1]: 6 secara tegas menyebut hal semacam ini dengan kalimat: “shirat al mustaqiem”. Jalan yang demikian lurus namun kecil dan sangat tajam.

Jalan kehidupan yang demikian, tentu secara teori hanya dapat diikuti kelompok kecil manusia yang memiliki kemampuan berjalan tanpa gesekan yang terlalu kuat. Mengapa? Karena tajamnya melampui sillet yang dapat menyebabkan luka parah. Tidak mengambil posisi yang terlalu ke kanan apalagi ke kiri. Terlalu kuat menginjak, atau terlalu ke kanan apalagi ke kiri, akan selalu menyebabkan manusia jatuh ke jurang kehinaan.

Mereka yang demikian, dalam tradisi Budhis disebut sebagai pemilik dan penguasa Tai Chi. Ilmu beladiri khas China yang memfokuskan keseimbangan Energi Chi dari dalam tubuh manusia. Ilmu bela diri ini, menampilkan suatu gejala gerakan unik yang lambat, bahkan terkesan tidak menunjukan kekuatan, tetapi menghasilkan pukulan yang justru tanpa batas Gerakan ini, tidak menggunakan otot, tetapi pada aliran energi. Inilah energi yang justru diperoleh karena adanya konsentrasi dan ketenangan serta pengaturan nafas yang baik.

Islam Peletak Keseimbangan

Islam, sebagai agama akhir dan patut disebut paling sempurna, dengan tegas meminta seluruh penganutnya, agar menjalani hidup dengan seimbang. Seimbang dalam setiap perjalanan kehidupan seperti berjalan di atas titian yang oleh sebagian Theolog dipandang sebagai aqa’id al iman.

Bagi saya, shirat dimaksud, sesungguhnya harus terjadi dalam kehidupan dunia, bukan di akhirat kelak. Sebab, hakikat semua ajaran agama, apapun itu, sesungguhnya tidak mengajarkan tentang bagaimana manusia harus hidup di akhirat, tetapi, ia mengajarkan tentang bagaimana manusia harus hidup di dunia yang diwujudkan dalam tiga simetri kehidupan. Kehidupan di akhirat, seluruhnya hanya merupakan refleksi kehidupan manusia di muka bumi.

Tidak ada gelap atau malam tanpa siang. Meski dalam konteks tertentu, malam dapat dibikin seolah menjadi siang. Sama seperti tidak akan pernah ada terang atau siang tanpa malam. Meski sangat mungkin di siang hari alam terasa pekat seperti malam yang membutuhkan penerangan.

Yang lahir dalam dinamika alam penuh empiris itu, dalam konteks filosofi dan shufis, selalu hanya dapat dipautkan dengan hati. Hanya hati yang dapat menentukan malam seolah siang, atau, siang seolah malam. 

Suasana bathin semua manusia, karena itu sesungguhnya, tidak pernah dipengaruhi unsur lahiriyah. Manusia dapat membuat kreasi berdasarkan nalar dan intuisi yang dimilikinya. Karena itu, menyatukan unsur lahir dan bathin, akan selalu semakna dengan merumuskan dan mempraksiskan keseimbangan hidup.

Penting Membangun Budaya Cinta

Apapun cerita di atas, hari ini, manusia dalam konteks dunia, sedang berada dalam titik terendah kemanusiaan. Kita sedang kehilangan budaya cinta. Cinta yang seharusnya penuh nalar dengan mengaransemen betapa sesungguhnya manusia membutuhkan budaya hidup bersama. Rasa cinta manusia pada Tuhan (agamawan), seharusnya tercermin pada sikap cinta kemanusiaan. Menjadi nonsence keberagamaan kita pada Tuhan kita, jika kita gagal membangun harmoni kemanusiaan.

Sebaliknya, rasa cinta manusia terhadap sesama (atheis), tidak berlaku jika “hanya untuk aku’ atau kita. Kita perlu berkata juga demi Tuhan. Inilah yang mengharuskan kita untuk berada, dalam konteks tertentu, hidup di alam terbuka yang ruang dan waktunya padat. Kita tidak sedang berada di ruang hampa tanpa orang lain yang eksistensinya pasti berbeda.

Sepenggal puisi penulis berikut, hendak mengekspresikan tulisan ini:

Jalanku menuju-Mu memang terjal dan berliku. Tapi akan terus kugapai untuk menjaga rasa cintaku pada-Mu. Dakianku digunung-Mu kadang melelahkan dan membosankan fisik tubuhku. Tapi Kau kirimkan kebahagian bathin yang tak mampu kutampakkan selain kepada-Mu

Pertanyaannya, sampai di mana rasa cinta itu mampu ditumbuhkan? Jika merasa iya, mengapa ada sekelompok orang yang yakin, bahwa dirinyalah yang “paling benar”, dengan mengasumsikan yang lain salah.

Jika kita berada dalam posisi yang demikian, maka, berarti kita belum memilki budaya cinta, dan karenanya kita tidak memiliki, sama sekali, budaya kemanusiaan. 

Islam sebagai Sistem Moral Hidup

Islam, adalah suatu sistem ajaran moral (Nabi Muhammad) yang menjunjung tinggi semangat kemanusiaan. Islam semacam ini, akan mengabaikan seluruh pretensi, kecuali soal kemanusiaan dan bagaimana manusia harus hidup di tengah rutinitas alam yang kompleks.

Nalar Islam yang demikian, sejatinya tidak ingin meletakkan pengikutnya untuk berada dalam bagian tertentu atau madzhab tertentu; baik fiqih maupun teologi. Inilah Islam yang perenialis yang bukan hanya menjabarkan tentang ketasliman total pada hukum-hukum Tuhan, tetapi, juga menggambarkan bahwa Islam sebagai sistem universal. Islam semacam inilah yang tidak akan lekang di makan waktu dan keadaan.

Islam mengajarkan bahwa berbeda adalah kenyataan sejarah. Manusia tidak mungkin disatukan dalam satu senyawa. Manusia harus terdiri dari berbagai senyawa. Hal semacam ini harus tetap dipertahankan agar kita tetap menjadi manusia. Dalam nalar ini, manusia akan tetap dianggap sebagai manusia sesungguhnya, ketika mampu hidup dalam takdirnya yang berbeda satu sama lain. Perbedaan karena itu, tidak mungkin dihapus apalagi dignoside.

Bumi sebagai Cuplikan Syurga

Manusia yang tercipta dalam segenap perbedaan dan mampu hidup secara berbeda itu, harus dipandang sebagai taqdir terbesar Tuhan, selain takdir akal dan bahasa. Ketiga taqdir itu, akan selalu menjadi potensi khusus yang hanya diberikan kepada manusia. Mereka yang dapat hidup dalam segenap perbedaan yang tersedia, itulah yang akan hidup dan mampu memberi daya hidup bagi segenap makhluk. Itulah yang akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Itulah sesungguhnya Syurga manusia di bumi dan Islam wajib menciptakan situasi ini, karena ajaran ini, memang hadir untuk menciptakan suasana syurgawi.

Bumi dicipta Tuhan mirip seperti Syurga. Mereka yang mampu membentuk Syurga di bumi, itulah yang bakal menjadi penghuni Syurga abadi di alam abadi. Alam yang kehadirannya, harus diakui dan diimani tanpa reserve sekalipun. Alam itu kemudian dijuluki para theolog sebagai alam akhirat. Alam di mana manusia akan mendapatkan kebahagiaan abadi, atau kesenggsaraan abadi. Alam itu telah mengubah manusia dari makhluk prophan menjadi makhluk abadi.

Nusantara dan Tata Lakon Syurga

Nusantara, menurut penulis, memenuhi sebagian syarat untuk disebut sebagai syurga manusia di muka bumi. Sebuah planet biru di mana ciptaan kebanggaan Tuhan diletakkan di dalamnya.  Ciptaan itu bernama manusia. Manusia yang dalam lakon tertentu, menjadi cita-cita utama mengapa Tuhan pada akhirnya menciptakan segala ciptaan-Nya yang seolah sengaja dihadiahkan Tuhan untuk manusia.

Jika syurga didefinisikan dengan sejumlah ciri yang melekat seperti: tersedia pohon-pohon besar dengan buah yang lebat, pohonnya dipenuhi daun-daun hijau yang rindang, dibawahnya tersedia sungai-sungai dengan air deras tanpa henti, tempat di mana air susu melimpah, tempat di mana benda apapun yang ditanam dapat tumbuh dengan subur, dengan putaran matahari yang teratur, bintang dan rembulan bergerak secara teratur. Inilah Syurga yang hampir tidak dimiliki negara manapun di dunia.

Pengikut ajaran agama Islam Nusantara, seharusnya bangga karena kita terlahir sebagai makhluk luar biasa dan hidup di alam yang juga luar biasa. Makhluk kebanggaan Tuhan dari segenap puncak ciptaan-Nya, serta hidup di suatu alam yang relatif mirip dengan gambaran Syurga.

Manusia dalam Unsur yang Berbeda

Unsur yang melekat pada manusia; yakni lahut  dan nasut   harus mampu diekspresikan secara nyata. Otak kita misalnya, bukan saja memiliki milyaran neuron (nashut), tetapi unsur ilahiyat yang tak mungkin dipisahkan dengan-Nya. Sehingga ketika otak manusia dipindah ke batok kepala kerbau, ternyata  kerbau tetap menjadi kerbau. Tidak pernah kerbau dapat berpikir seperti manusia berpikir. Cara kerja otak yang mampu berpikir dengan cermat, menjadi hilang dengan sendirinya ketika diletakkan di batok binatang.

Kita selalu memiliki ruang ketuhanan. Ia tidak murni fisik dan tidak murni biologis. Selalu terdapat ruang spiritualis. Tidak ada seincipun dari rongga tubuh kita yang kosong dari dimensi lahut Tuhan. Manusia dengan jantung dan hatinya, tidak pernah murni hanya berisi hati dan jantung yang bersipat fisik seperti kerbau atau binatang lain. Tetapi, selalu tersedia unsur-unsur ilahiat yang secara langsung membedakan dirinya dengan makhluk lain.

Karena itu, manusia selalu menjadi misteri dan kita tetap penting menjaga rahasia Tuhan dalam konteks penciptaan. Karena ia tetap masih menjadi rahasia Tuhan, maka, penciptaan manusia murni “lantaran Sang Rahasia ingin menampakkan rahasia-Nya yang tak mungkin tentu saja secara fisik, menampakkan diri-Nya.

Yang pasti bahwa Tuhan hendak membuat  duta utama-Nya di bumi, yang salah satu rahasia-Nya terletak pada akal (nurun fil qolbi yufariqu bihi bainul hak wal bathil) manusia. Karena itu, manusia memiliki qudrah sekaligus iradah untuk menentukan dan mengambil resiko dari apapun yang dipilihnya.

Karena itu, mengapa kita mesti mengubur potensi terbesar kita sebagai manusia. Apa itu? Kesanggupan untuk hidup bersama, dalam segenap realitas manusia yang kompleks karena masing-masing, memiliki refleksi memilih yang berbeda.

Continue Reading
5 Comments

5 Comments

  1. Avatar

    AAH KORIAH

    03-04-2019 at 22:31

    Saya setuju dengan artikel yang ditulis,bahwasannya tidak ada suatu negara yang berperan penting tanpa peranan filosof dan suastra nya.Saya sangat mengapresiasi dan menghargai hasil karya para filosuf dan suastra yang berperan penting dalam negara nya. Adapun di Indonesia bayak para filosuf dan suastra yang mengembangkan karya nya sampai internasional. Kurang nya rasa perhatian penting dan menghargai hasil karyanya di hargai oleh pemerintah. Seharus nya pemerintah harus memberikan perhatian penting terhadap para filusuf dan suastra agar bisa menjadi suatu karya yang bersejarah dalam mengembangkan negara nya.

  2. Avatar

    Sri Anisah

    03-04-2019 at 22:26

    Spiritual ialah keyakinan atau keimanan tentang Tuhan. Tuhan adalah tujuan dimana setiap apapun yang didapatkan harus dalam kerangka menuju satu titik yaitu Tuhan. Tuhan menitipkan kebetkahan hidup berupa sebuah budaya dan cinta. Dimana keduanya harus selalu menuju pada satu titik yaitu Tuhan . Maka kita sebagai manusia tidaklah lupa diri, kita tidak perlu menjadi pesaing Tuhan. Hidup realitanya sebuah teka teki yang harus dipecahkan jalan keluarnya, terkadang kita salah arah, bahkan terkadang kita menemukan jalan yang buntu. Namun percayalah semua jalan yang sulit pasti ada titik balik yang harus dipegang yaitu keimanan. Budaya itu dinamis selalu ada perubahan yang dapat menciptakan keseimbangan. Budaya Cinta adalah sebuah keberkahan yang Tuhan kasih untuk kita, sebagai jalan titik balik kita menuju ridha-Nya. Ketika kita mencintai sesama manusia hendaknya kita harus menuju kedalam satu titik yaitu semuanya karna Allah Swt dan kita serahkan semuanya kepada Allah Swt. Karena Allah Swt adalah sebaik baiknya pengatur rencana bagi hambanya. Jadi kita sebagai hambanya janganlah menjadi pesaing Allah Swt yang seakan akan mampu tanpa kehendak Allah Swt

  3. Avatar

    Peggi Agisna

    03-04-2019 at 22:24

    Bentuk bangunan maupun jalanan itu tidak bisa dikatakan dapat didesain oleh para insinyur apalagi politisi karena mereka hanya diejawantahkan. Hal itu dapat di desain oleh susastra dan filosof.
    Pada abad 4/5SM di Yunani Kuno tepatnya di Athena terlahir para ahli cerita yaitu sastrawan dan filosof mereka yang pertama pentingnya pembuatan kota atau negara yang ideal. Kita kota yang sekarang populer itu bukan karena teknisi dan arsitektur melainkan sastrawan filosofi karena selalu tercipta karya imaginasi yang kemudian disimpulkan oleh para imaginer. Jadi susastra dan filosof diaebut sebagai pembuka kemajuan dan penutup kemajuan. Pembuka untuk bagaimana cara agar negara tersebut maju dan penutup bagaiamana cara menghasilkan budi daya manusia.
    seperti hal nya di negara Amerika Serikat yang populer itu bukan karena George Washington ataupun George Walker Bush akan tetapi mereka memiliki kemampuan imaginasi bagaimana negara mereka maju dan bertahan dalam kemajuan. Nah, yang dimaksud kemampuan disini yaitu susastra dan filosof yang akan terus mendorong rakyat dan pemerintahanya untuk membangun negara, menyentuh dimensi ragawi manusia bahkan bhatiniyah maupun mampu menyedot perhatian manusia sampai ke ruang tanpa batas.
    Darimana indonesia membangun bangsanya agar menjadi besar yaitu dengan susastra dan filosof yang terus muncul dalam ragawi maupun bhatiniyah setiap manusia, yang selalu hadir dan terus menerus mendorong dalam diri manusia untuk memiliki kemampuan,kesadaran akan negaranya dan untuk membangun suatu negara baik kearah maju, lebih maju maupun sebaliknya. Terimakasih

  4. Avatar

    Sri Anisah

    03-04-2019 at 22:23

    Spiritual ialah keyakinan atau keimanan tentang Tuhan. Tuhan adalah tujuan dimana setiap apapun yang didapatkan harus dalam kerangka menuju satu titik yaitu Tuhan. Tuhan menitipkan kebetkahan hidup berupa sebuah budaya dan cinta. Dimana keduanya harus selalu menuju pada satu titik yaitu Tuhan . Maka kita sebagai manusia tidaklah lupa diri, kita tidak perlu menjadi pesaing Tuhan. Hidup realitanya sebuah teka teki yang harus dipecahkan jalan keluarnya, terkadang kita salah arah, bahkan terkadang kita menemukan jalan yang buntu. Namun percayalah semua jalan yang sulit pasti ada titik balik yang harus dipegang yaitu keimanan. Budaya itu dinamis selalu ada perubahan yang dapat menciptakan keseimbangan. Budaya Cinta adalah sebuah keberkahan yang Tuhan kasih untuk kita, sebagai jalan titik balik kita menuju ridha-Nya. Ketika kita mencintai sesama manusia hendaknya kita harus menuju kedalam satu titik yaitu semuanya karna Allah Swt dan kita serahkan semuanya kepada Allah Swt. Karena Allah Swt adalah sebaik baiknya pengatur rencana bagi hambanya. Jadi kita sebagai hambanya janganlah menjadi pesaing Allah Swt yang seakan akan mampu tanpa kehendak Allah Swt.

  5. Avatar

    Sri Anisah

    03-04-2019 at 22:20

    Spiritual ialah sebuah keyakinan atau keimanan tentang Tuhan. Tuhan adalah tujuan dimana setiap apapun yang didapatkan harus dalam kerangka menuju satu titik yaitu Tuhan. Tuhan menitipkan kebetkahan hidup berupa sebuah budaya dan cinta. Dimana keduanya harus selalu menuju pada satu titik yaitu Tuhan . Maka kita sebagai manusia tidaklah lupa diri, kita tidak perlu menjadi pesaing Tuhan. Hidup realitanya sebuah teka teki yang harus dipecahkan jalan keluarnya, terkadang kita salah arah, bahkan terkadang kita menemukan jalan yang buntu. Namun percayalah semua jalan yang sulit pasti ada titik balik yang harus dipegang yaitu keimanan. Budaya itu dinamis selalu ada perubahan yang dapat menciptakan keseimbangan. Budaya Cinta adalah sebuah keberkahan yang Tuhan kasih untuk kita, sebagai jalan titik balik kita menuju ridha-Nya. Ketika kita mencintai sesama manusia hendaknya kita harus menuju kedalam satu titik yaitu semuanya karna Allah Swt dan kita serahkan semuanya kepada Allah Swt. Karena Allah Swt adalah sebaik baiknya pengatur rencana bagi hambanya. Jadi kita sebagai hambanya janganlah menjadi pesaing Allah Swt yang seakan akan mampu tanpa kehendak Allah Swt.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.