Dunia Pendidikan dan Dunia Usaha dalam Perspektif Prof. Dr. Cecep Sumarna

Kami juga menanam pohon dari mulai Jati, Mahoni sampai albasia.
0 117

Inilah serial lanjutan hasil wawancara wartawan lyceum Indonesia, minggu, 5 Agustus 2016 dengan Prof. Dr. H. Cecep Sumarna. Rumah yang terletak di Jalan Pontianak Blok B1 Nomor 14, 15  Kota Cirebon, disebutnya sebagai sekolah kehidupan.Rumah ini dapat dimasuki siapa saja. Menurutnya, sebuah rumah dapat menjadi sekolah, ketika ragam hidup dapat dinikmati didalamnya.

Wartawan kami Acep M. Lutvi, Aly Alamsyah dan Kameramen Althendy Dirghan akan disajikan khusus berkaitan dengan spektrum pendidikan dan dunia usaha. Inilah hasil wawancara kami dengannya.

Apa Masalah pendidikan yang paling serius di Indonesia?

Banyak pakar pendidikan berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia itu gagal mencerdaskan output. Ukuran dan standarnya pasti nilai. Padahal, secara faktual, dalam konteks pencerdasan output,  pendidikan di Indonesia sebenarnya justru banyak yang berhasil.Coba anda semak. Kalau ada olimpiade internasional, dalam bidang apapun [fisika, komputer dan teknologi terapan], anak didik Indonesia pasti memperoleh tropi dan penghargaan. Mereka seringkali berhasil menghempaskan siswa-siswa dari negara adikuasa sekalipun.

Kalau boleh disebut sebagai kegagalan, sebagaimana dapat dibaca dalam disertasi saya yang disusun tahun 2007, justru terletak pada dimensi substantive dan lebih esensial. Kajiannya sendiri, tidak cukup hanya dengan pendekatan pedagogis, tetapi harus membentang dari Psikologis [kejiwaan] peserta didik sampai ke teknik nilai [value]. Salah satu faktor yang membuat gagal itu, menurut saya adalah pada transformasi motive spiritual yang memblok kebutuhan biologis manusia.

Bisa Dijelaskan Motif Spiritual Prof?

Ya motivasi yang seharusnya menyadarkan seluruh peserta didik, bahwa misalnya mengapa manusia harus dicipta Tuhan. Mengapa manusia harus dididik. Ini pertanyaan penting yang saya yakin jarang dilakukan lembaga pendidikan kita.

Tujuan manusia lahir ke muka bumi ini adalah untuk memelihara bumi, salah satunya. Ia menjadi wakil Tuhan sekaligus menjadi pemimpin bumi. Karena itu, turunnya manusia ke bumi, tentu bukan untuk merusaknya, tetapi untuk menciptakan simetri atasnya. Karena itu, semakin banyak manusia terdidik, seharusnya alam lebih ramah terhadap kita. Bukan sebaliknya.

Di sinilah pendidikan dibutuhkan. Misalnya, mengapa manusia harus dididik? Tujuan sesungguhnya hanya diperlukan untuk membantu manusia membaca qudrah, iradah dan masyi’ah Tuhan. Apa sich sesungguhnya cita-cita Tuhan untuk diri kita masing-masing orang, sehingga Tuhan menciptakan kita. Sesungguhnya bukan yang lainnya.

Motif spiritual itu, dengan demikian berarti suatu dorongan yang sanggup memblok keinginan-keinginan biologis kita sebagai manusia. Tentu jika keinginan biologis itu bertentangan dengan nalar ketuhanan. Mengapa harus diblok? Karena kita dan seluruh peserta didik dituntut sadar bahwa, di balik semua realitas, pasti Ada Realitas Besar, yakni Tuhan.

Apa Bentuk Kongkretnya?

Bentuk kongkretnya adalah menyadarkan seluruh mereka yang dididik atau telah terdidik itu untuk sadar bahwa segala tujuan yang hendak dicapai manusia itu, harus dalam kerangka menuju Tuhan. Prinsip dasarnya adalah bekerja tuntas yang mengasumsikan bahwa dalam setiap pekerjaan yang dilakukan harus mampu dikonstruk seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak, maka, pendidikan harus mampu membuat dirinya sadar bahwa dalam setiap aktivitas itu, kita yakin bahwa Allah selalu melihat kita.

Jika proses ini berhasil, maka, pendidikan harus dipandang berhasil. Jika tidak berhasil membangun itu, maka, pendidikan berarti gagal membangun perannya secara tuntas. Itulah makna substantive lain mengapa UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, menyebut bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keimanan dan ketakwaan itu, harus menjadi core pencapaian tujuan pendidikan secara nasional.

Kalau dimensi ini berhasil, maka, sebenarnya tidak akan ada yang namanya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Banyak orang menganggap bahwa ketika fenomena KKN merajalela, negara kita gagal menempatkan hukum sebagai panglima. Padahal panglima sesungguhnya, menurut saya bukan di lembaga hukum. Panglima sesungguhnya justru di dunia pendidikan.

Apa Resiko yang Muncul dengan Nalar UU Sisdiknas tadi

Resiko terpenting atas nalar UU Sisdiknas tadi, tentu yang utama adalah kepada dunia pendidikan. Kalau mereka gagal membentuk manusia yang beriman dan bertakwa, maka, konsekwensinya, satuan pendidikan yang gagal itu dapat di PTUN-kan oleh orang tua yang menitipkan anak di sekolah mereka. Mengapa? Karena lembaga pendidikan dimaksud berarti gagal mencapai tujuan pendidikan nasional.

Untuk pencerdasan output, dunia pendidikan sebenarnya tidak memiliki resiko sebagaimana resiko dalam soal pembentukan karakter peserta didik yang beriman dan bertakwa tadi. Karena tekanan pendidikan; jangka pendek dan jangka panjang, adalah bagaimana pembentukan watak dan karakter peserta didik yang beriman itu, mampu ditunaikan.

Ada hal mendasar lain dari kegagalan pendidikan di Indonesia

Setelah beberapa tahun berjalan, saya menemukan persoalan lain yang lebih serius. Yakni, pendidikan di Indonesia, gagal dalam pembentukan watak peserta didik yang kreatif. Inil ternyata jauh lebih serius dibandingkan dengan kegagalan pada aspek lain.

Secara teoretik, seharusnya ketika seseorang terdidik, maka, dia pasti harusnya semakin kreatif dan semakin mandiri. Fakta justru menunjukkan sebaliknya. Pengangguran terbesar di Indonesia, bukan pada mereka yang tidak terdidik, tetapi, justru dari mereka yang terdidik secara formal. Padahal kreativitas, juga menjadi tujuan pendidikan nasional. Inilah yang menyebabkan tumbuh suburnya masyarakat miskin, justru di perkotaan.

Maksud kreatif di situ apa?

Kreativitas itu adalah satu watak dasar peserta didik yang mengadagiumkan diri, bahwa, ketika mereka terdidik dengan baik, seharus mampu menjadi trend setter kehidupan. Bukan menjadi follower apalagi menjadi employee yang dalam kasus-kasus tertentu, menjadi beban baru bagi siapapun. Termasuk menjadi beban bagi negara.

Berapa banyak lapangan pekerjaan yang berhasil dibuka pemerintah. Pasti akan selalu ada ruang dan jurang yang terpisah secara lebar. Akibatnya, banyak tenaga kerja terdidik yang tidak mungkin mampu dihimpun dalam lapangan kerja baru itu. Nah jika alumni pendidikan berhasil membangun watak peserta didik menjadi kreatif, maka, seharusnya lapangan pekerjaan itu, semakin hari semakin banyak. Fakta, ternyata itu gagal diperankan.

Apa yang dimaksud Follower dan Employee itu

Kaum terdidik hanya menjadi pengikut dan menjadi pekerja. Menurut saya ini problem. Saya secara pribadi tidak bangga ketika misalnya ada satu sekolah atau bahkan pendidikan tinggi yang mengumumkan bahwa lulusan mereka berhasil terserap ke lapangan pekerjaan. Berhasil membuat mereka bekerja di institusi tertentu atau di lembaga suasta tertentu.

Menurut saya, ke depan, sepak terjang seperti ini tidak akan lagi menjadi daya minat baru untuk promosi suatu sekolah atau pendidikan. Ke depan, sekolah justru harus mampu mengumumkan bahwa alumni sekolah atau lembaga pendidikan tinggi mereka, berhasil mencetak sejumlah penguasaha, pedagang dan entrepreneur dengan mampu menyediakan tenaga kerja yang banyak dan kompleks. Ini yang dibutuhkan pendidikan hari ini dan ke depan.

Jadi seharusnya bagaimana

Ya seharusnya sekolah mampu melahirkaan peserta didik yang memiliki kreativitas lebih. Misalnya, seberapa banyak suatu lembaga pendidikan mampu atau berhasil melahirkan wirausahawan baru. Seberapa banyak yang mampu dihasilkan sebagai penyedia tenaga kerja kreatif dan usaha-usaha lain yang sipatnya added values bagi measyarakat banyak. Ini seharusnya …

Sebab kalau bicaranya lapangan pekerjaan dan relevansinya dengan dunia pendidikan, lembaga-lembaga kursus atau pelatihan-pelatihan tertentu yang dilakukan lembaga-lembaga tadi, sesungguhnya banyak yang lebih up to date. Lembaga-lembaga bisnis, hari-hari ini, mereka lebih banyak mendirikan dunia kursus dimaksud, karena suka atau tidak, mereka tidak yakin akan kondisi pendidikan Indonesia.

Berarti kalau begitu, harus menjadi entrepreneur semua?

Bukan begitu konsepnya. Tetapi, dunia pendidikan mampu mendorong peserta didik menuju arah baru yang lebih mandiri. Mengapa? Karena kemandirian itu, bukan hanya dapat menyelematkan dirinya, tetapi, juga menyelamatkan manusia secara banyak. Inilah yang disebut dengan advantage. Mengapa demikian? Karena untuk menjadi entrepreneur, bukan hanya butuh dididik dan dilatih, tetapi, juga butuh dihabituasi dan mendorong talenta berdasarkan potensi dasar yang dimilikinya.

Entrepreneur itu, bukan soal jualan. Tetapi soal mental. Soal sikap pandang dan cara pandang. Jika mental, sikap dan cara pandang kita lurus dan kreatif, dimanapun dia bekerja atau kemana saja dia pergi, maka, dia pasti dapat hidup dengan mandiri. Ini yang penting. Dan itulah kreativitas.

Apa Konsep ini ada hubungannya dengan dunia usaha yang anda lakukan?

Relevansi pasti ada, meski bukan berarti saya membuka usaha setelah saya menemukan teori ini.  Justru teori semacam ini, saya dapatkan dari perjalanan hidup saya sendiri.Perjalanan hidup yang menghabituasi suatu sikap mental yang membebaskan dirinya dari penjajahan bathin dirinya sendiri. Ia bergerak menuju alam bebas dalam konteks berpikir.

Mengapa demikian? Sebab saya sudah dilatih menjadi wirausahaan sejak kecil. Sejak saya masih kelas IV SD dengan menenteng bolu kukus ke sekolah yang dipimpin bapak saya sendiri. Waktu di SLTP dan di SLTA juga sama. Bahkan proses habituasi ini tetap dilakukan sampai saya menjadi mahasiswa S1-S2 dan S3 dengan volume dan jenis usaha yang berbeda satu sama lain.

Apa hasil yang didapat saat anda usaha waktu remaja?

Saat saya masih kecil, saya dapat jajan bebas dari usaha itu. Saat saya kuliah, itulah modal hidup saya kuliah, meski waktu S2 dan S3 saya mendapat beasiswa. Khusus waktu saya kuliah S2 dan S3, inilah rumah yang kami huni hari ini. Itulah hasil dari kepingan-kepingan usaha dengan cara yang mungkin sangat melelahkan.

Prosesnya cukup panjang dan unik. Karena panjang dan unik, maka, tidak mungkin selesai dibicarakan dalam forum yang sangat terbatas seperti ini.

Apa yang anda jual saat kuliah S2 dan S3?

Saat mengikuti kuliah di S2 dan S3, saya jualan pakaian berupa jaket dan jenis pakaian lainnya. Kegiatan bisnis ini diteruskan bersama istri dengan membuka konveksi dan gallery. Lumayan juga bisnis dalam bidang ini, meski perlu ekstra hati-hati karena trend pakaian sangat cepat berubah.

Kami juga sempat membuka finishing mebeuler. Cukup lama saya jualan mebeuler dengan pola dikreditkan. Setiap Jum’at sore sampai minggu pagi, saya sering beralih posisi menjadi supir mebeuler.Itu asyik dan membuat saya kadang memperoleh pengalaman yang sangat berharga.

Saya juga sempat jualan kulit kambing dan sapi.Tentu sulit bagi anda untuk membayangkan seorang doktor Filsafat Pendidikan, harus jualan kulit kambing atau kulit sapi. Anda pasti gengsi. Tetapi, kalau saya tidak! Mengapa? Itulah habituasi. Saya senang menjalani semua ritme semacam itu. Kadang bukan hanya karena perlu uang, tetapi, lebih pada membunuh jenuh. Andrenaline kita menjadi terus hidup.

Setelah itu, bersama keluarga kecil saya, membuka usaha baru dalam bidang pembibitan kambing, domba dan kerbau. Ini bisnis yang gagal. Sempat juga bisnis dalam bidang perikanan, meskipun di bisnis ikan juga gagal. Kami juga menanam pohon dari mulai Jati, Mahoni sampai albasia dan bermitra dengan kakak saya menanam pohon karet.

Setelah itu, usaha apa lagi?

Setelah perjalanan itu, lalu, keluarga kami membuka usaha dalam bentuk property dan Sapronax. Bisnis ini bersipat makro dan lumayan melelahkan. Bisnis Sapronax saya off karena beberapa hal harus dievaluasi secara menyeluruh. Kami meneruskan bisnis perumahan. Hari ini, kami dapat memiliki 5 kawasan mulai dari Cirebon, Kuningan dan Tasikmalaya.

Nama perumahan kami, hari ini sudah ditetapkan namanya Quanta 1,2,3 dan 4 tentu selain Cempaka Wangi Regency. Sementara itu, dalam bisnis sapronax kami membuka di majalengka, Cirebon, Kuningan dan terakhir di Tasikmalaya, sedang dalam proses evaluasi mengingat kebijakan negara yang tidak stabil.

Apa anda tidak rumit Menjalani dua dunia yang ekstrem berbeda?

Salah kalau anda menyebut dunia pendidikan dan dunia usaha berbeda. Inilah justru yang saya maksud dengan pendidikan entrepreneur yang Habit. Makanya, dua tahun lalu saya mendirikan sekolah dengan biaya pembangunan cukup lumayan mahal, tujuannya ingin menjadikan sekolah sebagai laboratorium dunia usaha.

Anda tahu sekolah itu diberinama Nusintama Lab School. Hasilnya, tentu belum dapat dilihat. Pendidikan akan memiliki efek domino pada kisaran minimal 25 tahun yang akan datang. Saya ingin dikenang melalui dunia pendidikan ini, sebagai lembaga pendidikan kewirausahaan kreative. Hasilnya seperti apa, saya nggak tahu.

Inilah uraian terakhir wawancara kami, sebagai sambungan dari tulisan sebeumnya. Semoga menginspirasi kita semua …. ** Lyceum Indonesia

Komentar
Memuat...