Dunia adalah Tempat yang Menjanjikan bagi Manusia

0 17

Manusia, sesungguhnya selalu hidup di sebuah tempat yang menjanjikan. Tinggal di sebuah dataran, di lembah dan di gunung yang secara alami telah menyuguhkan keberkelimpahan kekayaan. Bukan hanya keberlimpahan dari jenis tanaman yang tumbuh di atas tanah sebagai bahan makanan pokok dirinya, tetapi simpanan kekayaan alam yang ditimbun dalam larva-larva tanah yang dangkal dan dalam dengan jumlah yang tidak ternilai. Kekayaan alam dalam bentuk logam-logam mulia dan berbagai jenis air yang terkandung didalamnya, telah dianugerahkan Tuhan kepada makhlukNya yang ditetapkan-Nya sebagai pengganti-Nya di bumi.

Iapun dihadiahi sumber-sumber kehidupan lain dalam bentuk sungai, danau dan lautan dengan trilyunan plora dan fauna di dalamnya. Manusia hidup dari syurga, belajar membangun syurga di bumi agar ia memperoleh syurga abadi di sisi Tuhan.  Alam ini, sejatinya telah mempertontonkan sebagian cuplikan syurga abadi Tuhan dalam lakon latihan kehidupan manusia di bumi. Manusia sendiri, telah mempertontonkan sebagai “wujud” Tuhan yang termanifestasi dalam dirinya.

Problem Kehidupan Manusia

Problemnya, mengapa kita, seolah-olah hidup dalam kelaparan massif sehingga selalu mempertontonkan rasa diri yang terancam akan sesuatu. Kita menjadi tidak mampu memperlambat laju perjalanan kehidupan. Kita seolah tidak mampu mengurangi jumlah mulut yang harus diberi makan, dan selalu merasa kekurangan di tengah segenap komplotan bahan makanan tersedia didalam dirinya. Kita tidak memiliki ruang untuk membiarkan semuanya bersantai menikmati kehidupan sedikit lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang secara alami hidup di alam yang serba kekurangan.

Akibatnya, banyak di antara kita yang hidup dengan kebiasaan dusta. Mulai dari karakter personal kita untuk menjadi terbiasa berpura-pura  ceria setiap saat, di tengah sejumlah hati dan pikiran yang bukan hanya sekedar galau dan sedih, tetapi, berhadapan dengan bahaya cukup atraktif. Kita selalu tegang dalam sebuah koloni kehidupan yang disekat perbedaan ideologi, keyakinan, ras, bahasa, budaya dan bahkan agama. Kekayaan ideologi, keyakinan, ras, bahasa, budaya dan bahkan agama, tidak menjadikan diri kita benar-benar menjadi kaya. Padahal itulah kekayaan yang mesti ditanam dalam bathin terdalam manusia. Berbagai perbedaan yang tersedia, seharusnya mampu menciptakan suasana kebathinan yang kaya, karena kecilnya dada kita. Kita mestinya sadar bahwa bahwa berbeda adalah citra kemanusiaan.

Karena berbeda itulah, manusia memiliki ciri hakiki sebagai makhluk spesial bukan hanya di mata Allah, tetapi juga di mata makhluk lain. Manusia ditempatkan dalam kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk apapun yang diciptakan Tuhan. Namun demikian, keagungan ini tidak mungkin terwujud jika rongga-rongga manusia dipenuhi nafsunya akan sesuatu. Karena spesialitas manusia yang tidak mampu diterjemahkan oleh siapapun, termasuk oleh dirinya sendiri itu, terasa tidak lagi menjadi spesial. Manusia justru selalu menampilkan dirinya dalam kerumitan yang kompleks. Dalam susunan pertengkaran dan perkelahian yang tidak pernah berhenti.

Kerumitan itu mulai terlihat dari unsur yang melekat pada dirinya yang mempertontonkan setidaknya tiga dimensi yang satu sama lain, seharusnya tidak mungkin dipisah. Manusia seharusnya mampu menunjukkan wujudnya yang secara fisik anggun, rasionalitas kritis yang terukur, sekaligus kehanifan hati yang tulus.  Aspek fisik yang menunjukkan kesempurnaan ciptaan Tuhan yang didorong semangat rasionalitas yang akhirnya memungkinkan untuk mampu membedakan, dan kekuatan hati dalam memahami kemiripan, ternyata tidak mampu terimplementasi dalam waktu yang sama dan dalam wujud yang juga sama. Manusia jika ingin disebut sebagai manusia, seharusnya tidak memilih dominasi satu unsur dari tiga unsur yang melekat dalam dirinya. Ketiganya harus berjalan dalam irama ritmis yang sama, agar ia tetap disebut sebagai manusia.

Manusia adalah Makhluk Unik dan Spesial

Soal kerumitan ini, akan lebih terasa lagi ketika memperhatikan struktur sosial budaya yang dibangunnya. Ia memiliki kompleksitas ekonomi, kehebatan reproduksi, cara menyimpan perbekalan kehidupan sampai kepada dari apa sesungguhnya manusia diciptakan. Akal manusia yang tidak pernah berkehenti memikirkan segala segala sesuatu, termasuk  tubuhnya sendiri, dituntut untuk menjangkau apapun. Adagium yang mengatakan bahwa kekosongan pikiran dirinya, akan diisi atau menjadi celah bagi masuknya ruang kerja Iblis, diperketat secara ketat, agar manusia tetap menjadi manusiapun, ternyata tidak mampu membuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dasar dirinya sendiri.

Problemnya kenapa manusia bisa menjadi demikian? Jawabannya ternyata tunggal, yaitu: “manusia tidak mampu mengimpelementasikan wujud dirinya yang kokoh ke dalam kesatuan unsur yang sama dalam tri tunggal kehidupan. Manusia pada umumnya selalu menampilkan wajah yang berbeda dengan apa yang terdapat dalam hatinya. Hatinya yang selalu di Timur, memperlihatkan wajahnya di sebelah Barat. Wajah yang dimilikinya, sedikitpun tidak pernah berfungsi dan berposisi sebagai cermin bathinnya.

Jika yang demikian terus ditradisikan, maka, kita sebagai makhluk unik yang spesial, ternyata tidak lagi menjadi unik dan tidak lagi menjadi spesial. Keunikan dan spesialitas diri manusia, akan benar-benar terwujud jika gerakannya, sama dengan apa yang dipikirkannya, dan apa yang dipikirkannya itu, didorong oleh nurani terdalamnya. Nurani yang mengajarkan bahwa, kebenaran hanya milik Tuhan, dan kita tidak memiliki otoritas sedikitpun untuk mengambil hak Tuhan. Demikian semoga ada manfaatnya. Amiiin …… Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...