Dunia Tercipta atau Diciptakan| Kajian Ulang Metafisika Part ai??i?? 6

0 73

Dunia Tercipta atau Diciptakan. Kita kembali ke soal metafisika, yang dikaji salah satunya dalam ontologi. Suatu ruang kajian khusus dalam perkuliahan bidang filsafat ilmu. Kajian kita akan dimulai dari suatu pertanyaan besar, yang saya kira jawabannya, sejak zaman dulu, selalu penuh intrik dan debatable. Pertanyaan itu adalah: Apakah dunia ini dibuat yang karenanya ada yang menciptakan?

Bagi kaum materialis, dunia tidak pernah dibuat sebagaimana kaum idealis meyakininya. Mereka yang demikian, menganggap bahwa dunia tercipta dengan sendirinya oleh suatu susunan partikel terkecil, yang disebut dengan atom. Itulah, menurut para ahli kimia, suatu partikel yang tidak dapat dibagi atau dipecah lagi.

Tokoh penting di balik penemuan soal teori atom adalah Jhon Dalton [1766-1844 M], setelah sebelumnya para filosof Yunani Kuna membahas terminologi ini dalam kajian kontemplatif. Menurutnya, atom tidak diciptakan. Ia juga tidak dapat dihancurkan atau diubah menjadi jenis atau unsur lain. Dalam wikipedia, edisi Indonesia [30-1-2018], disebutkan bahwa semua atom dalam unsur sejenis adalah sama.

Karena itu, atom selalu memiliki sifat serupa; seperti massa dan ukuran. Atom baru akan berbeda, jika ia bersumber dari unsur yang berbeda jenis. Suatu senyawa dalam teori kimiawi, baru dapat dibentuk ketika atom diramu dalam lebih dari 1 jenis unsur yang digabungkan. Atom-atom dari dua atau lebih unsur, dapat direaksikan dalam perbandingan-perbandingan yang berbeda untuk menghasilkan lebih dari 1 jenis senyawa. Inilah yang menjadi dasar atau sumbu bagi segenap kehidupan di Jagad Raya. Tentu pada apa yang diyakini kaum materialis.

Teori semacam itu pula, yang membuat August Comte [1798-1857 M], filosof positivis abad pertengahan, dengan congkak mengatakan: “Berikan kepada saya unsur-unsur terkecil [atom], maka, aku akan menyusun dunia ini dalam susunan yang jauh lebih akurat”. Sikap yang diambil August Comte ini, bagi kaum idealis bukan saja sebagai bentuk kecongkakan, tetapi, ia akan berarti “membunuh Tuhan”. Dalam bahasa vulgar Comte sendiri, dia menyebutnya dengan god is totAi??[Tuhan telah mati] karena peran-perannya telah diambil manusia.

Besaran Atom

John Dalton lebih lanjut menyatakan bahwa, besaran atom, dalam banyak kajian sering disebut memiliki komposisi 1 per 100.000 000 000 kali lebih kecil dibandingkan dengan suatu benda yang mampu kita lihat. Sebelas digit angka nol setelah angka satu, sulit dibayangkan kecilnya jika harus diletakkan di kulit ujung jari kita. Saking sangat kecilnya, kiranya sulit bagi kita untuk mampu melihatnya, tanpa menggunakan alat bantu tertentu. Sebut alat bantu dimaksud adalah mikroskop atau teleskop.

Pertanyaannya, apakah sesuatu yang sangat kecil dan tak mungkin dipecah itu, selalu harus disebut dengan atom? Kita ambil contoh, buah apel. Bagaimana kalau buah itu diiris-iris yang besarnya 1 per seratus milyar lebih kecil dari besaran apel yang kita pegang. Apakah itu terlihat berbeda dari pembesaran, katakanlah, sebuah apel? Kira-kira seperti apa potongan-potongan itu, dan apakah mereka masih memiliki bentuk apel? Pertanyaan paling mendasarnya adalah, apakah potongan yang sangat kecil itu, lalu disebut juga dengan atom?

Jawaban ternyata bukan! Pertanyaan semacam ini, penting bagi para kimia modern yang materialis untuk diusulkan. Mengapa? Sebab jika mereka tetap yakin pada suatu pendirian bahwa dimensi fisik hadir dengan sendirinya, yang tersusun dari partikel terkecil itu, lalu sebenarnya dari mana sesungguhnya sumber atom itu?

Bahkan jika kita tidak dapat melihat atom dengan mata telanjang kita, sifat materi seperti warna, fase (misalnya, padat, cair dan gas), atau bahkan bau kentut, apakah betul semua itu terjadi karena adanya interaksi pada tingkat atom?

Karena itu, bagi saya yang kebetulan mengambil sikap ketidaksetujuan asumsi kaum materilis, berkeyakinan bahwa suatu sistem ajaran, sebut misalnya agama yang membawa teori ketuhanan, ia akan tetap selalu dibutuhkan, setidaknya untuk memberi jawaban atas segenap soal yang tidak mungkin dijawab sains. Bersambung –Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.