Dyah Pitaloka Citraresmi sang Halilintar dari Barat

0 1.552

KECANTIKAN sang putri Sunda Dyah Pitaloka itu memang begitu terkenal. Bagaikan wewangi kembang mekar yang mengharumi  seluruh Nusantara pada sekira abad ke-14. Raja besar Hayam Wuruk yang berkuasa di Majapahit saat itu segera tertarik mendengar sang putri cantik tersebut.  Ia pun ingin segera meminangnya. Hayam Wuruk menjulukinya sebagai “wajra saking kulwan” (Halilintar dari barat).

Dalam kitab Pustaka Pararatwan Bhumi Jawa Dwipa (kitab Para Ratu di Jawa), yang ditulis Pangeran Wangasakerta (1670), kecantikan Dyah Pitaloka digambarkan dikenal sebagai  “halilintar dari barat”.

déning ayayahnya winéh ngaran Dyah Pitaloka // sang putri Dyah Pitaloka atyanta dibya ning rupa rasika / samyāsanya widyadhari sakeng swargaloka // katon tāsinang çariranya kasonwan déning bhūsananya manih // sangapa lanang ikang mogha rāgiwāça tumon ing rupa rasikā i-kang mangkana sāksāt rupa-bu nira nay ratna lara lisning /juga aripūrnang ahayu sa-myāsanya purnéndu catur daçiçukla // matangyan atyantāsih nira prabhu mahārāja maputri  rīkang sang citraresmi athawa Dyah Pitaloka / pinaka sang kumāra ning rājya sunda //déning mahārāja wilwatikta çri rajasanagara / Dyah Pitaloka sinebut lawan ngaran wajra saking kulwan / sang putri Dyah Pitaloka mijil ing sahasra rwangatus nemang puluh punjul siki / ikang çakakāla //

Oleh ayahnya diberi  nama Dyah Pitaloka. Puteri Dyah Pitaloka sangat cantik parasnya, bagaikan bidadari dari sorga. Nampak bersinar tubuhnya tersorot oleh gaunnya. Siapa pun laki-laki pasti jatuh hati melihat parasnya yang begitu mirip dengan ibunya, Nay Lara Lisning, juga sempurna kecantkannya bagaikan bulan purnama raya.

Makanya sangatlah sayang Prabhu Maharaja terhadap puterinya, yakni Citraresmi alias  Dyah Pitaloka sebagai Puteri mahkota kerajaan Sunda. Oleh maharaja Wilwatikta, Sri Rajasanagara, Dyah Pitaloka dipanggil dengan sebutan ‘Halilintar dari Barat’.  Puteri  Dyah Pitaloka lahir tahun seribu dua ratus enam puluh sati tarikh Saka.

Namun kecantikan sang Dyah Pitaloka,  ternyata juga membangun duka bagi keluarga Kerajaan Pasundan itu. Selanjutnya dituturkan dalam kitab itu.

Mereka semua sudah tahu//bahwa yag menyebabkan kepedihan rakyat //Sunda ialah Patih Mada. Utussan Prabhu Maharaja Sunda dengan Patih Mada sama-sama mengeluarkan perkataan tidak baik. Akhirnya meluaplah hatinya Patih Mada sehingga membangkitkan kemarahannya, karena itu pasukan Wilwatikta diperintahkan berperang oleh Patih Mada. Seluruhnya mengenakan pakaian perang dan masing-mamsing mengangkat senjata. Tampak mereka ada yang menunggang Gajah, menunggang kuda, menaiki kereta dan ratusan pasukan berkuda berjalan dengan bersenjata lengkap. 

Prabhu Maharaja terdiam sambil merunduk karena dalam hatinya ragu dan khawatir, juga tak mungkin menang para ksatria Sunda melawan pasukan Wilwatika yang sedemikian banyak dan tak terhitung jumlahnya. Tetapi sekali pun harus kalah dan mati, ia tetap terhormat. Kemudian dikumpulkanlah semua orang Sunda di hadapan Prabhu Maharaja, lalu berdoa sambil mengeningkan cipta

Pasunda Babat  terjadi  pada “hari ke -13 perogelap (tanggal 28) bulan Badra 1249 Saka (4 Oktober 1327 Masehi), akibat ulah Patih Mada yang mengingkari kesepakatan pernikahan putri raja Sunda, Maharaja Linggabuana yang bernama Dyah Pitaloka alias Dewi Citraresmi dengan raja Wilwatika (Majapahit), Sri Rajasanagara alias Hayam Wuruk. Dalam peristiwa itu Maharaja Sunda, puterinya beserta pengiringnya tewas. Hayam Wuruk dengan persetujuan dengan kerajaan memutuskan menangkap Patih Mada, namun rencana itu diketahui Patih Mada, sehingga ia melarikan diri ke hutan. Peristiwa Pasunda Babat akhirnya diselesaikan damai. Hayam Wuruk mengampuni Patih Mada, dia dikembalikan sebagai Mahapatih.

Ambisi Gajah Mada, ternyata bukan Ambisi Hayam Wuruk. Gajah Mada memiliki ambisi politik, sedang Hayam Wuruk memiliki ambisi cinta. Keduanya tak bisa disatukan. Dalam kitab itu dikisahkan. Prabu Hayam Wuruk merana hatinya dan jatuh sakit. Keluarga besar kerajaan, ayah dan ibu sekeluarga, serta seluruh petinggi, pembesar kerajaan dan raja-raja daerah ikut murka, lalu minta Patih Mada yang bersalah supaya dihukum. Akibat peristiwa itu, Hayam Wuruk memerintahkan untuk menangkap Patih Mada. Namun Patih Mada bergegas pergi, masuk ke hutan belantara untuk bersembunyi.

Pada waktu kerajaan Wilwatika (Majapahit) diperintah Prabhu Rajasanagara (Hayam Wuruk), ada mahapatih mangkubumi Mpu Mada. Yaitu Gajah Mada. Ia berperangai bengis dan pemarah, patih Mada bercita-cita ingin semua daerah di nusantara mengabdi kepada Wilwatikta. Oleh Patih Mada, kerajaan yang tidak mentaati ditundukkan. Tak henti-henti bala tentara Wilwatikta menyerang yang menantang. Banyak negara di nusantara di duduki dan dikalahkan.

Hyang Semaranta menyampaikan dengan gamblang semua peristiwa Pasunda Bubat dan segala perilaku Patih Mada yang tanpa belas kasihan terhadap Prabhu Maharaja Sunda. Hingga kini, perlakuan Patih Mada menyebabkan kesedihan ganda, termasuk bagi orang Sunda di Jawa Barat.

Dari cerita itu, ternyata nama harum Gajah Mada tak sebanding dengan air mata orang Sunda. Lantaran itu hingga kini di Jawa Barat tak ada satu pun jalan Gajah Mada maupun Hayam Wuruk ataupun yang berbau Majapahit lainnya. Hingga kini sir mata Pasunda nampaknya belum kering. *** Oleh: Nurdin M Noer

Baca Juga: Pulung Wangsit dan Wahyu Kedaton

Sumber Pustaka:

Noer, M.Nurdin, (suplemen Pikiran Rakyat  Edisi Cirebon, Rabu  7 Juli 2010).

Wangsakerta,  Pustaka Pararatwan Bhumi Jawa Dwipa (1670), Manasa 2013.

 

Komentar
Memuat...