Dzikir dalam Konteks Bahasa dan Perintah Berdzikir Dalam Al-Quran

0 59

Dzikir dalam Konteks Bahasa: Kehidupan masyarakat modern lebih berkecenderungan kepada materialistis dan pragmatis. Orang sering kurang yakin terhadap hal- hal yang ada di balik dunia materi, termasuk dzikir. Salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat modern terlalu disibukkan dengan aktivitas- aktivitas duniawinya sehingga ia tidak lagi mempunyai waktu yang cukup untuk berdzikir (mengingat) di luar materi yang dihadapi.

Kebanyakan daari mereka mengira bahwa semua fenomena alam ini dapat ditafsirkan. Oleh karena itu tidak ada lagi kebutuhan kepada dunia lain yang bersifat supra natural. Kegagalan dan keberhasilan hanya dipandang dari sisi individualnya unsich. Kegagalan dan keberhasilan tersebut sangat mudah untuk ditafsiri yaitu disebabkan karena manusia itu sendiri tanpa ada sangkut paut dengan yang lain. Kalau demikian, mengapa harus ada dzikir yang difungsikan untuk berkontemplasi terhadap masalah yang dianggap sangat jauh, baik dalam diri manusia yang sangat dalam, maupun yang diluar diri manusia (Tuhan)? Di sinilah letak perbedaan antara orang yang beriman dengan orang yang hanya mengandalkan pikirannya.

Dzikir merupakan salah satu wasilah untuk menghadirkan jiwa yang bersifat immanen transendental melalui syahadah al-hâdir ‘ala al-Ghâib. Dalam ritualitas keseharian, dzikir yang dijadikan sebagai aktivitas ritual oleh orang mukmin, biasanya dipublikasikan melalui ungkapan tasbih, takbir, istighfar dan membaca al-Qur’an. Kesemuanya itu diharapkan dapat membersihkan dan mensucikan jiwa yang akan menimbulkan perasaan aman dan nyaman.

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوب

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Dari latar belakang ini, akhirnya oleh para arifin/ Sufi term dzikr biasanya dipahami sebagai salah satu bentuk pensucian dan pendekatan diri kepada Alllah sehingga jiwa manusia betul- betul mencapai kesucian/ fana’.

Dzikir dalam Konteks Bahasa

Secara bahasa, kata الذكر bermakna suatu gerakan atau perobahan dalam jiwa  yang memungkinkan bagi manusia untuk menghafal dan mengingat- ingat terhadap sesuatu yang menjadi perhatiannya. Kata ini hampir sama fungsinya dengan kata الحفظ  (menjaga) hanya saja kata حفظ lebih menitik beratkan pada penjagaan keberlangsungan kelanggengan. Sedangkan الذكر  penjagaannya lebih dititik beratkan pada menghadirkan sesuatu. Sehingga kadang- kadang kata ini identik digunakan untuk menghadirkan konsentrasi dalam hati maupun fikiran melalui ungkapan- ungkapan tertentu.

Dari uraian makna tersebut, dzikir dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu dzikir dengan ungkapan (الذكر باللسان) dan dzikir dengan renungan (الذكر بالقلب). Keduanya pun dapat dibedakan menjadi dua yaitu dzikir dari kealpaan dan dzikir untuk melanggengkan ingatan.

Dalam berbagai pola kata dzikir jika berbentuk fi’il ia termasuk bentuk transitif (muta’addy), yang objeknya sering dikaitkan dengan; الله, ربّ \ربّك, اسم الله, al-Qur’an/al-Kitab, نعمة ,  penciptaan (الخلق), kisah seorang tokoh.

Sementara jika berbentuk mashdar (الذكر), kata tersebut sering dikontekskan dengan Allah, alam dan Nabi. Di samping itu bentuk ini kadang- kadang juga sebagai nama dari al-Qur’an yang biasanya dikaitkan dengan kata “الحكيم”.

Dari beberapa konteks di atas, jika kata dzikr yang berbentuk fi’il yang dikaitkan dengan Allah secara langsung (الله, ربّ \ربّك, اسم الله) adalah merupakan kewajiban bagi manusia untuk mengabdi kepada-Nya. Jika dikaitkan dengan proses penciptaan dan kisah seorang tokoh, berarti diperintahkan bagi manusia untuk mengambil pelajaran dan i’tibar dibalik penciptaan dan kisah tersebut. Dan jika dikaitkan dengan ni’mat, berarti diwajibkan bagi manusia untuk bersyukur.

Perintah Ber-Dzikir Dalam Al-Quran

Di dalam al-Qur’an, perintah untuk berdzikir  kepada Allah adakalanya diperintahkan untuk menyebut secara langsung kepada Allah sebagaimana konteks- konteka di atas. Hal ini seperti firman Allah:    فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku. (Qs.Al-Baqarah: 152)

Dan ada kalanya  perintah berdzikir dengan melalui  wasilah, yaitu  perintah untuk menyebut dan mengingat nikmat-Nya yang dijadikan sebagai wasilahnya. Hal ini seperti  dalam firman-Nya:

يابني إسرائيل اذكروا نعمتي التي أنعمت عليكم وأني فضلتكم على العالمين  

Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (Qs. Al-Baqarah:47)

Redaksi yang semisal ini terdapat dalam tiga tempat yang kesemuanya terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat: 40, 47 dan 122 yang kesemuanya juga ditujukan kepada bani Israil.  Redaksi ayat yang pertama perintah dzikir tersebut ditujukan kepada sahabat Nabi yang telah mecapai derajat ma’rifah dan fadlilah yang tinggi tentang kepercayaannya  kepada Allah, lalu Allah menyuruh kepada  mereka untuk berdzikir tanpa menyebutkan wasilah/ perantara. Sedang dalam ayat yang kedua khitab tersebut ditujukan kepada Bani Israil yang mereka itu belum mempunyai ma’rifat dan keyakinan yang kuat kepada Allah, sebagaimana ma’rifat sahabat mereka kepada-Nya. Pengenalan mereka hanya terbatas pada alam benda dan materi, lalu Allah menyuruh mereka untuk memperhatikan nikmat-nikmat-Nya, dari nikmat yang bersifat lahiriyah inilah hendaknya dapat dijadikan suatu perantara untuk mengetahui Allah yang bersifat batini.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Prof. Dr. Muhammad Usman  Najati, Al-Qur’an dan Psikologi, Jakarta: Aras Pustaka, 2001

Imam Al-Ghazali, Teosofia Al-Qur’an, Surabaya: Risalah Gusti, 1995.

Ar-Raghib Al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfad Al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, tt.

Al-Bahi al-Kulli, Adam as., Falsafah Taqwim al-Insan wa Khilafatihi, Kairo: Maktabah Wahbah, 1974, Cet. 3.

Al-Syaikh Abi Ali Al-Fadhal Ibn Al-Hasan Al-Thabarsyi, Majma’al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an, J. 5,  dar al-Ma’rifah, 1986.

Al-Allamah Sayyid Muhammad Husain Al-Thaba’thaba’i, Al-Mizan Fi Tafsir Al-Qur’an,Beirut:, Muassasah al-A’lamy, Cet.II,1974, J.13.

Sa’id Hawwa, Tarbiyatuna Ar-Ruhiyyah, Kairo: Maktabah Wahbah, 1979.

Syamsuddin Abi Abdullah Muhammad bin Qayyim al-Jauziyyah, Al-wabl al-shayyib Wa Rafi’ al-Kalim al-Thayyib, Damaskus: Maktabah dar al-Bayan, tt.

Manna’Khalil al-Qath-than, Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, Mansyurat al-Ashr al-Hadits,Cet.III, 1973.

Dr.Rifyal Ka’bah, Dzikir dan Do’a dalam al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 1999.

Al-Imam Abi Al-Qasim jar Allah Mahmud bin Umar bin Muhammad Az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasy-syaf, J.I, Beirut: Dar al-Kutub,,Cet.I, 1995.

Muhammad Rasyid Ridha,  Al-tafsir Al-Qur’an Al-Hakim, Beirut: dar al-Fikr, tt,.

Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, Jami’ al-Bayan Min Ta’wili Ayi al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, Juz. 2, tt.

Muhammad Ali Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, J.2, Beirut: Dar al-Fikr, tt.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.