Dzikir itu Ilmiah| Menata Konsep Dzikir Part – 8

0 102

Dzikir itu Ilmiah. Jika kritisisme awal ditujukan kepada kaum positivisme, maka, kali ini kajian kita akan melihat pada kontektualisasi dzikir. Mengapa? Sebab orang berdzikir, menurut penulis seharusnya mampu melahirkan ilmu pengetahuan. Kegiatan dzikir bukanlah tindakan statik, tetapi dinamik. Karena itu, kritik awal diberikan kepada pelajaran sains, yang dalam anggapan Penulis tidak mampu menemukan Tuhan. Padahal sains lahir karena hukum alam. Sunatullah [hukum alam] menjadi basis lahirnya ilmu. Ketika hukum alam menjadi basis lahirnya ilmu, maka, seharusnya ia mampu menemukan Tuhan.

Dengan nalar tadi, maka, seharusnya mata pelajaran agama juga sama. Ia seharusnya mampu mendorong peserta didik agar melahirkan dan menumbuhkan berbagai dinamika ilmu pengetahuan. Kritik yang diberikan kaum agamawan pada ilmu pengetahuan yang bebas nilai, seharus, melahirkan antitesa baru dalam rumusan khas keagamaan. Kritik agamawan atas ilmu yang dianggap gagal dalam memartabatkan manusia, yang memiliki hasrat fisik-biologis sebagai manusia dengan sejumlah makna artifisialnya sebagai manusia, sekali lagi seharusnya mampu melahirkan ilmu sain spesifik.khas keagamaan.

Makna Dzikir Ilmiah

Misalnya soal dzikir. Bagi penulis, aksiologis dzikir selain untuk menenangkan jiwa, juga dapat melewati batas artifisialnya hanya dalam konteks ketenangan jiwa. Dzikir patut dianggap dapat menjadi magma yang mampu mendorong manusia menuju titik tertentu dalam mencapai dan terkuasainya apa yang dinamakan dengan sains itu sendiri. Jika anda bertanya di mana letaknya? Mari kita lihat uraian berikut ini.

Sebut misalnya kalau anda menyebut astaghfirullah, subhanallah, alhamdulillah dan la ilaha ilia Allah. Kalimat-kalimat ini, selain harus dipandang sakral- ukhrawi, juga sekaligus mengandung semangat provan duniawi dan saintifik sekaligus. Ilustrasi tadi akan terlihat pada tabel pertalian berikut.

Kalimat astaghfirullah, secara langsung mengajarkan bahwa manusia tidak mungkin dapat membebaskan diri untuk tidak berbuat kesalahan. Hal ini mengandaikan bahwa setiap individu muslim bukan hanya dituntut secara kontinyu melakukan uji coba, tetapi juga memberikan perandaian bahwa “kebenaran” hanya milik Allah. Melalui pernyataan sikap ini, manusia dalam ragam momennya, hanya berusaha untuk mendekati apa yang disebut dengan “kebenaran” menurut persepsi kemanusiaan.

Kesadaran manusia atas kelemahan dirinya akan mendorong manusia untuk terus melakukan uji coba. Inilah yang dalam filsafat ilmu disebut dengar. observasi. Kalimat astaghfirullah dapat mendorong manusia untuk menjadi observer yang baik sekaligus selalu berusaha mencari simetri yang baik antar sesama manusia.

Kalimat subhanallah juga sama. Kalimat ini mengajarkan tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Selain itu, kalimat ini juga akan mendorong manusia untuk berusaha menyadari bahwa kekuasaan Allah, itu sangat luas dan besar. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan al-Qur’an yang saya fahami, misalnya dalam surat al-Baqarah [2]: 269, Ali-Imran [3] 190-191, Yusuf [12]: 111, Shad [38] 43 dan az-Zumar [39]: 21.

Pada ayat-ayat dimaksud, Allah menyebut mereka yang biasa menyebut¬†subhanallah sebagai ulul al-bab. Kalimat ini akan diindikasikan apabila ia mampu menggunakannya dengan mind (mempunyai pemikiran), heart (mempunyai wawasan jauh ke depan), insight (mem-punyai wawasan jauh ke depan), wisdom (mempunyai kebijaksanaan) dan understanding (mempunyai pemikiran dan pengetahuan). Atas asumsi-asumsi tadi, maka dzikir dengan melafalkan kalimat subhanallah adalah mereka yang memiliki “otak berlapis-lapis”dan sekaligus mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap problematika hidup di lingkungan sekitarnya.

Tidak Hanya Klaim Kesucian

Ciri dimaksud mengharuskan kaum yang suka berdzikir ini agar setiap perilakunya memiliki sifat dan karakter human tranformer. Sikap ini khususnya dalam pandangan-pandangan duniawi dalam arti fisik, dan nilai-nilai etik serta sikap praktisnya dalam kehidupan. Ciri ini mesti diperkuat dengan ciri lain, yakni human concern pada problem-problem kemanusiaan dengan cara memberi respon yang cepat dan tepat terhadap segala dinamika keumatan. Termasuk kemungkinan untuk mengakses segala ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia.

Dzikir subhanallah dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan berkorelasi dengan lafadz la ilaha ilia Allah. Kalimat ini mengindikasikan bahwa tidak ada yang layak disembah kecuali Allah. Karena hanya Allah yang layak disembah, maka manusia menjadi merdeka dari segala ritus dan kekhawatiran berlebih terhadap aspek-aspek lain di luar Tuhan. Ketergantungan, meski hanya sedikit dan hanya terdapat dalam hati kepada sesuatu di luar wujud Tuhan, akan membawa manusia pada kemusyrikan.

Karena setiap individu Muslim merdeka, maka, dengan kemerdekannya, manusia bebas berbuat apa saja tentu asal demi Allah untuk kebahagiannya di dunia. Salah satunya dengan mengakses Ilmu. Sebab hanya dengan ilmulah manusia dapat mengembangkan dirinya menjadi manusia. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.